Golput Yuk!

Apa? Kalian nggak mau golput? Yo wes, nggak apa-apa. Itu artinya kalian adalah warga negara yang baik yang masih mau menjalankan kewajiban kalian sebagai warga negara.

Kalo boleh tau, siapa sih yang akan kamu pilih pada saat Pileg tanggal 9 April 2014 nanti? Apa? Kamu nggak tau siapa yang akan dipilih nanti? Serius nih? Bagi yang ingin menjadi pemilih yang baik, harus tau siapa yang akan dipilih nanti. Dan itu bisa dilihat di website KPU. Ada nama-nama caleg yang dikelompokkan sesuai dapil-nya. Liatin aja itu nama-namanya, siapa tau ada yang namanya indah dan mukanya rupawan terus kamu suka. Kepo diperbolehkan kok disini. Di-google aja itu nama-nama caleg yang nggak terkenal itu biar kamu jadi kenal dengan mereka.

Untuk mereka yang punya kerabat/sanak saudara yang jadi caleg atau tetangga atau udah dibayar untuk milih salah satu caleg mah enak. Nggak perlu lagi cari-cari info mengenai calon pilihannya. Untuk yang nggak punya, ya susah-susah dikit ga apa-apa lah ya. Kan biar nggak salah pilih ini. Biasanya sih, orang-orang yang nggak kenal sama caleg-caleg yang nampang di kertas suara pada milihnya ngasal. Saya nggak menuduh kalian para pembaca saya loh ya. Tapi kebanyakan emang begitu. Kalo mau nyoblos dengan ngasal, misal dengan cara tutup mata dan asal tusuk, ya mending sekalian jadi golput aja kayak saya. Hehehe.

pemilu-6

Lagian apa sih enaknya nyoblos? Bayangkan, pada hari pencoblosan, yang mana adalah hari libur, kita diharuskan bangun dan berjalan (atau naik kendaraan) ke TPS. Kalo udah melek sih bisa bener jalannya. Coba kalo belum melek, yang ada malah nanti bukan ke Tempat Pemungutan Suara malah ke Tempat Pembuangan Sementara. Bahwa yang menyebabkan libur itu adalah pemilu, itu benar sekali. Tapi coba bayangkan kalo disaat libur itu kita bisa tidur dan berleha-leha di kasur! Behh… Jadi ngapain kita repot-repot menuju TPS yang Tempat Pemungutan Suara itu untuk mencoblos mereka yang nantinya nggak tau siapa kita? Bukan mau minta timbal balik sih. Tapi… ah udahlah pokoknya gitu deh.

Apa? Kalian tetap nggak mau golput? Ya udah. Monggo silakan. Pokoknya saran saya, nggak usahlah itu nge-upload poto jari kelingking yang warna ungu pertanda kalian abis nyoblos di berbagai sosial media. Mending dicuci bersih terus nyoblos lagi di TPS lain (eh..!) Saya sebenarnya bisa aja nggak golput. Tapi sekarang saya lagi tugas bekerja di luar kota. Sebenarnya bisa juga saya mengurus perpindahan dapil. Tapi berdasarkan peraturan KPU Nomor 26 Tahun 2013, itu ribet. Dan sepertinya terlalu ribet untuk satu suara yang prosentasenya cuma 0,00000000000000000001% dari total perolehan suara. Biarlah fasilitas yang baru itu dimanfaatkan oleh mereka yang biasa menjadi pelaku curang untuk berlaku curang lagi di pemilu kali ini.

Terakhir, biar situasi politik kita agak sedikit nggak jelas, biar pemimpin-pemimpinnya kebanyakan (kalo nggak boleh disebut semuanya) korupsi, saya doakan semoga semoga semoga semoga siapapun pilihan kalian nggak korupsi dan bisa membawa negara ini menuju ke arah yang lebih baik. Jangan terpengaruh dengan blog atau tulisan orang yang mengajak golput ya. Ikuti saja kata hatimu sendiri (atau orang tuamu atau kerabatmu atau tetanggamu). Merdeka!

(Update terbaru: Saya baru nemu blog yang nyantumin profil-profil para caleg: litsuscaleg2014.wordpress.com. Monggo…)

Tie A Yellow Ribbon Round The Ole Oak Tree

♫♫♫
I’m coming home I’ve done my time
Now I’ve got to know what is and isn’t mine
If you receive my letter tellin’ you I’d soon be free
Then you’ll know just what to do, if you still want me, if you still want me.

Tie a yellow ribbon ’round the ole oak tree
It’s been three long years, do you still want me?
If I don’t see a ribbon, round the ole oak tree
I’ll stay on the bus, forget about us, put the blame on me
If I don’t see a ribbon ’round the ole oak tree

Bus driver, please look for me
Cause I couldn’t bear to see what I might see
I’m really still in prison, and my love, she holds the key
Simple yellow ribbon’s what I need to set me free
I wrote and told her please..

Now the whole damn bus is cheering and I can’t believe I see
A hundred yellow ribbons ’round the ole oak tree
♫♫♫

Lagu yang sangat sangat indah menurut saya. Saya pertama kali mendengarnya saat menonton film Our Idiot Brother yang dibintangi Paul Rudd, Elizabeth Banks, Zooey Deschanel, dan Emily Mortimer. Film ini bercerita tentang Ned (Paul Rudd), seorang lelaki bodoh dan 3 saudarinya. Dimana Ned, karena kebodohannya, menimbulkan banyak masalah untuk dirinya dan juga saudari-saudarinya.

Lagu ini dimainkan pada scene dimana Ned keluar penjara. Dengan beat yang asik dan gaya Ned yang juga asik pada scene itu, saya pun langsung tertarik dengan lagu ini. Saya cari judulnya pada credit film dan langsung saya cari di internet. Dapat. Saat membaca liriknya saya makin jatuh cinta. Tie A Yellow Ribbon Round The Ole Oak Tree bercerita tentang seseorang yang baru keluar dari penjara setelah 3 tahun menjalani masa hukuman. Dia tidak begitu yakin kekasihnya akan menerimanya kembali dan meminta kekasihnya–melalui surat–untuk memberinya sebuah tanda berupa pita kuning yang diikat pada pohon oak di rumah mereka. Apabila dia melihat ikatan pita kuning di pohon oak maka dia akan menganggap itu sebagai tanda bahwa sang kekasih mau menerima kembali. Jika tidak, dia tidak akan turun dari bus dan lanjut terus. (Dan di akhir lagu kita tahu bahwa ternyata si mantan narapidana tersebut melihat 100 pita kuning yang terikat pada pohon oak.)

Romantis bukan?

Lagu ini merupakan single yang dibuat pada tahun 1973 dan ternyata sempat menjadi hits saat itu. Amerika Serikat, UK, Australia, adalah beberapa negara yang chart tangga lagunya sanggup dikuasai. Versi aslinya dinyanyikan oleh Dawn featuring Tony Orlando. Hingga sekarang banyak musisi yang telah meng-cover lagu ini. Mulai dari Johnny Carver, Jim Nabors, Frank Sinatra, Domenico Modugno yang seorang penyanyi Italia, Connie Francis yang seorang penyanyi Australia, Shinee yang boyband Korsel, dan saya juga banyak melihat coveran banyak artis-artis YouTube lainnya. Untuk film Our Idiot Brother, yang digunakan adalah coveran versi Erick D. Johnson.

Pita kuning adalah merupakan simbol penantian. Menurut budaya asli orang barat sana, para istri mengikatkan pita kuning di rambut sebagai tanda mereka sedang menanti suami mereka pulang dari perang. Semakin kesini maknanya meluas menjadi penantian akan kepulangan para suami dari penjara. Dan terakhir, Gooners di barat sana membuatnya menjadi chants, yang berjudul She Wore A Yellow Ribbon.

Baiklah, kalo temen-temen kebetulan lagi penasaran dengan lagu Tie A Yellow Ribbon Round The Ole Oak Tree, yuk kita buffer bersama-sama!

Donor Darah: Yang Pertama dan Bukan Yang Terakhir

Kamis, 16 Januari 2014 kemarin jadi hari dimana saya donor darah untuk pertama kalinya. Dulu waktu kuliah sebenarnya udah sering diajak untuk donor darah, namun sering saya lewatkan karena merasa sayang dan nggak rela darah saya diambil serta takut ini dan itu. Kali ini saya beranikan diri untuk ikut kegiatan donor darah yang dilaksanakan oleh kantor untuk program “Bea Cukai Pedui – Donor Darah 1 Ton”.

Motivasi saya sebenarnya adalah Opung saya. Opung saya meninggal tahun lalu karena kekurangan darah usai operasi. Darah saya tidak cocok. Cari sana sini tidak dapat juga. Apa boleh buat. Semoga disana Beliau tenang bersama-Nya.

Sebenarnya ketakutan dan kenggakrelaan itu masih melintas di saat saya donor darah. Saya takut setelah darah saya diambil saya jadi lemes, saya takut nggak bisa beraktifitas normal dan lain-lain. Mungkin itulah sebabnya saya harus diambil darahnya dua kali. Karena sudah takut duluan, saya jadi pusing saat pengambilan darah. Jarum yang menancap di tangan kanan saya pun dicabut dan saya disuruh berbaring sebentar sampai pusingnya hilang.

Dokternya bilang kalau darah saya yang sudah diambil itu jadi tidak berguna dan akan dibuang karena tidak sampai memenuhi kantong. Konon di dalam kantong tersebut terdapatlah cairan yang merupakan makanan untuk sel-sel darah. Apabila jumlah darah yang masuk tidak sesuai dengan takaran yang seharusnya maka darah tersebut akan mati dan dibuang. Saya yang tidak ikhlas darah yang sudah dikeluarkan dari badan ini dibuang begitu saja pun akhirnya memberanikan diri dan membulatkan tekad. Tangan saya pun ditusuk lagi — kali ini disebelah kiri — untuk memenuhi kekurangan darah. Selesai proses pengambilan darah, efeknya pun terasa: badan jadi lemas dan mudah pusing. Tapi tidak terlalu parah, saya masih bisa menyetir mobil dan bekerja di kantor sampai jam pulang.


donor1

donor2

Setelah browsing-browsing di internet, saya menemukan bahwa ternyata masih banyak manusia yang tidak (atau belum) memiliki kesadaran untuk mendonorkan darah mereka. Alasannya antara lain: “tidak pernah kepikiran sebelumnya”, “terlalu sibuk”, dan masih banyak lagi. Padahal, menurut Palang Merah Australia, 80% orang Australia akan membutuhkan transfusi darah suatu saat pada hidup mereka (namun hanya 3% yang menyumbang darah setiap tahun)”; menurut palang merah Amerika Serikat, 97% orang kenal orang lain yang pernah membutuhkan transfusi darah; dan menurut survei di Kanada, 52% orang Kanada pernah mendapatkan transfusi darah atau kenal orang yang pernah (Wikipedia). Sayang sekali. Padahal banyak manfaat positif yang bisa kita dapat dari donor darah. Yang pertama tentu kita bisa menolong sesama yang membutuhkan. Kalau kata ayat kitab suci: apa yang kamu tanam, itu yang akan kamu tuai. Kalau kita mau mendonorkan darah kita untuk membantu orang yang membutuhkan, (semoga saja) saat kita membutuhkan akan ada orang yang membantu. Amin. Yang kedua, kita dapat meregenerasi darah kita. Darah yang dikeluarkan untuk donor adalah darah kotor. Tubuh kita tentunya akan mengganti darah itu dengan memproduksi darah baru yang lebih bersih. Selain itu, donor darah juga dapat meningkatkan nafsu makan. Saya sendiri merasakan kalau lingkar perut bertambah beberapa centi. Tapi saya tak khawatir, habis ini saya bakalan olah raga yang rajin. Hehe. :)

Well, saya nggak belum tau apakah saya akan menjadi pendonor darah yang rutin atau tidak. Saya belum memikirkan sampai kesana. Tapi yang jelas saya tidak akan melewatkan event-event donor darah lagi. Saya janji deh. Saya harap pembaca sekalian kalau belum pernah mendonor cobalah untuk mendonor. Setidaknya sekali dalam seumur hidup lah. Sehingga saat di akhirat nanti ditanya malaikat: “Apa yang sudah kamu lakukan untuk sesama manusia?” Kita bisa dengan bangga dan lantang menjawab: “Saya pernah donor darah, masbro.”

Italia Punya Pizza, Palembang Punya Pempek

“Sudahkah Anda ngirup cuko hari ini?”

Siapa sih yang tidak mengenal pempek? Menurut saya makanan khas asal Palembang ini sangat populer dan banyak penggemarnya. Pria-wanita, tua-muda, tinggal di kota atau pun di desa, tidak ada yang membatasi setiap orang untuk menikmati makanan dengan bahan dasar ikan dan tepung ini. Meskipun ada beberapa orang yang alergi terhadap ikan, tidak menutup kemungkinan orang tersebut akan menyukai pempek. Saya punya beberapa teman yang tidak makan ikan karena tidak tahan dengan rasa amisnya, tapi ketika di hadapkan dengan pempek yang masih hangat dengan asap yang mengepul-ngepul, tanpa pikir panjang pasti langsung disikat. Hahaha.

Ada berbagai macam jenis pempek. Ibarat mobil Daihatsu yang terdiri dari berbagai macam model seperti: Xenia, Luxio, Taruna, Altis, Grand Max, dan lain sebagainya, pempek pun juga demikian. Jenis-jenis pempek tersebut antara lain:

  • Pempek Kapal Selam, pempek berukuran raksasa dengan isi telur di dalamnya;
  • Pempek Telur Kecil, pempek berukuran normal yang juga berisikan telur di dalam;
  • Pempek Lenjer, pempek yang berbentuk silinder seperti sosis;
  • Pempek Keriting, pempek yang dibuat dengan alat khusus sehingga adonan pempek menjadi seperti mie sebelum digoreng;
  • Pempek Pistel, pempek yang berisi salah satu dari: daun pepaya, bihun, atau sayuran lain;
  • Pempek Kulit, pempek yang dibuat dengan mencampur adonan pempek dengan kulit ikan.

Selain yang disebut di atas, ada juga beberapa jenis makanan turunan pempek, antara lain:

  • Pempek Lenggang, pempek yang dibuat dari pempek-pempek yang diiris kecil dan disatukan lagi dengan adonan telur;
  • Tekwan, adonan pempek yang diiris-iris dan disiram dengan kuah khusus tekwan;
  • Model, adonan pempek yang diiris-iris dan disiram dengan kuah khusus model.

Dari jenis-jenis pempek di atas, yang jadi favorit saya adalah pempek kulit. Saya lebih suka pempek kulit karena rasa ikannya lebih kuat. Meskipun teksturnya lebih keras dari jenis pempek lainnya tak jadi masalah. Apakah para pembaca juga punya pempek jagoannya sendiri? Silakan tulis di komen ya! :)

pempek 2

Resep membuat pempek sesungguhnya sudah banyak beredar di internet. Tapi agar tidak merepotkan kita mencari di Google lagi, dalam tulisan ini akan sekalian saya buat resepnya berdasarkan resep yang juga saya dapatkan dari internet. Hehehehe.

Bahan-bahan:

  • 25 gr tepung terigu;
  • 400 gr tepung tapioka/kanji;
  • 500 gr daging ikan tenggiri atau bisa juga ikan gabus;
  • 1 butir telur ayam, kocok lepas;
  • 4 siung bawang putih;
  • 1 sdm garam;
  • 1 sdm gula pasir;
  • 1 sdm minyak goreng;
  • 100 cc air.

Cara membuat:

  1. Campur tepung terigu, bawang putih, garam, dan gula pasir serta minyak goreng. Masak hingga mengental. Setalah itu masukan ke dalam lemari es.
  2. Campur ikan yang sudah dihaluskan dengan air dan telur kocok. Aduk-aduk dengan tangan hingga rata.
  3. Ambil adonan tepung terigu dari lemari es, kemudian campurkan dengan adonan ikan. Aduk-aduk dengan tangan hingga rata. Sambil mengaduk tambahkan tepung tapioka secara bertahap. Sedikit demi sedikit. Bila adonan mengeras tambahkan sedikit air.
  4. Adonan siap dibentuk sesuai selera (kapal selam, lenjer, dll). Jika dirasa adonan terlalu lengket, lumuri tangan dengan tepung tapioka agar lebih mudah saat membentuk adonan.
  5. Masukkan pempek yang sudah di bentuk kedalam air mendidih, tambahkan sedikit minyak goreng agar pempek tidak lengket.

Gampang bukan? Nah berikut resep untuk membuat kuah cukonya:

Bahan-bahan:

  • 650 ml air;
  • 150 gram gula merah/gula aren, iris halus;
  • 50 gram asam jawa.

Bumbu dihaluskan:

  • 20 cabe rawit;
  • 4 siung bawang putih;
  • 2 sdm tongcai;
  • 2 sdm ebi, rendam air panas hingga lunak, tiriskan dan haluskan.

Cara membuat:

  • Didihkan air diatas api sedang, masukkan gula merah, asam jawa. Setelah gula larut, kemudian masukkan bumbu halus, masak hingga tidak berbau langu, angkat.

img_2652

Apabila membuat pempek sendiri terasa begitu berat, kita bisa langsung datang ke kota kelahirannya di Pelembang. Dimana ratusan tahun yang lalu seorang keturunan China menjual pempek yang pertama disana. Disana, di Palembang, pempek dijual dimana saja: di emperan pinggir jalan, di atas sepeda onthel, di atas sepeda motor, di atas perahu yang mengapung di sungai Musi, hingga ke tempat-tempat makan yang berkelas. Kita tidak akan pernah kehabisan stok pempek disana.

Tapi seperti kata pepatah, segala sesuatu tidak baik kalau berlebihan. Mengonsumsi kuliner ini terlalu sering juga dapat berefek tidak baik terhadap kesehatan. Terutama bagi para pembaca yang memiliki gangguan lambung. Hal ini dikarenakan asam cuka yang terkandung dalam cuko dapat berpengaruh buruk bagi lambung yang kosong. Jadi saya sarankan untuk makan makanan berat lain seperti nasi sebelum memakan pempek, terutama untuk para pembaca yang memiliki masalah dengan lambung. Oke? Sekian tulisan ini saya kali ini, saya mau cari abang-abang jualan pempek dulu untuk melampiaskan nafsu makan pempek yang terlanjur naik ini.

Tetap sehat dan tetap semangat! :)

“Sudahkah Anda ngirup cuko hari ini?” adalah suatu slogan, suatu jargon, suatu seruan semangat masyarakat Palembang untuk terus makan pempek yang diplesetkan dengan menghirup cuko.

followdaihatsuindcapture2capture3

dai3

 

Selamat Tinggal Libur Panjang

Sebagai anak baru yang statusnya masih calon CPNS, sebenernya nggak terlalu sulit minta ijin pulang mudik. Yang sulit itu adalah minta ijin mudik untuk durasi yang lama. Hehe. Di kantor saya untuk anak baru cuma dapet ijin maksimal 2 hari kerja. Minta cuti belum bisa karena belum memenuhi syarat yaitu sudah bekerja minimal 1 tahun sejak pengangkatan CPNS. Ijin 2 hari itu sebenernya cukup untuk yang rumahnya deket-deket aja dari Balikpapan. Untuk saya yang rumahnya di Palembang, 2 hari rasanya agak gimanaaa gitu. Selain durasi perjalanan yang lama, harga tiket pesawat yang lebih mahal turut memberatkan.

Saya jadi ingat suatu masa ketika yang namanya liburan itu nggak pendek-pendek amat. Yaitu pada saat saya masih duduk di sekolah. Banyak sekali jenis liburan anak sekolah: libur jeda semester, libur kenaikan kelas, libur hari raya agama, libur tahun baru, dan libur tanggal merah lainnya. Libur jeda semester bisa 2-3 minggu, libur kenaikan kelas juga sekitar itu. Libur hari raya keagamaan bisa 4 mingguan. Itu kalo ditotal semua bisa hampir 3 bulan dalam setahun anak-anak sekolah itu libur!

Christmas-Dog-christmas-16227161-600-600

Yah, tapi mau bagaimana lagi? Umur dan muka udah nggak cocok jadi anak sekolahan. Harus bisa terima kalo liburan panjang itu sekarang cuma bisa diingat-ingat aja gimana rasanya. Mau dikatakan apa lagi, kalo kata penyanyi Raisa.

Bangkirai!

Pagi ini aku bangun lumayan cepet, jam 6 pagi. Padahal Sabtu. Berhubung mau dimeremin lagi nggak juga berhasil, akhirnya aku buka laptop buat nonton film. Rencananya mau maraton nonton film sampe siang seperti weekend-weekend biasanya. Tapi sekitar jam 9 si Adit buka pintu kamar, nanyain aku mau ikut ke Bangkirai atau tidak. Aku sempet mikir sebentar sebelum akhirnya kujawab iya.

Singkat cerita akhirnya aku, Adit, Chris, plus temen-temen D1 berjumlah 11 orang dan 1 orang senior kami, Mas Lili, berangkat menuju Bukit Bangkirai dengan 2 mobil. 2 orang temen satu kostku nggak ikut. Si Raja ada kerjaan, sementara si Anton lebih memilih menghabiskan weekendnya dengan tidur seharian.

Menempuh perjalanan sejauh kurang lebih 58 km dari kota Balikpapan, akhirnya kami sampai di Bukit Bangkirai sekitar jam 1 siang. Jarak tempuh yang lumayan jauh, naik turun, dan berliku-liku membuat badan ini udah capek duluan. Kami makan siang dulu biar badan ini bertenaga dan nggak pingsan di tengah jalan. Pas lagi asik-asik makan ternyata hujan turun. Untungnya nggak begitu lama. Selesai makan kami pun memulai perjalanan kami. Tujuan kami adalah Canopy Bridge yang merupakan jembatan dari kawat dan tali yang digantung di atas pohon Bangkirai. Tinggi jembatan dari permukaan tanah sekitar 30 meter. Dan saya, nggak tau tentang itu semua sampai tiba di tempatnya itu soalnya si mas senior yang ngajak kami ke sana nggak mau cerita. Dan satu lagi yang nggak diceritakannya adalah bahwa kami harus berjalan kaki sekitar 1 km menuju Canopy Bridge. Banyak di antara temen-temen yang salah kostum. Untungnya saya nggak. Huehehehe.

010102010104

Hawa sejuk daerah perbukitan, ditambah hujan yang baru reda menjadikan udara begitu sedap dihirup. Jalan kaki 1 km pun jadi kayak 100 m aja. Sesampainya di Canopy Bridge, saya yang begitu bersemengat langsung berlari di tangga menuju ke atas. Saya tidak sabar melihat dan berjalan di atas jembatan gantung itu. Tapi semua berubah begitu negara api menyerang! Sesampainya di atas kaki saya langsung lemes. Melihat tanah yang begitu jauh jaraknya membuat jantung saya berdebar kencang. Saya lihat beberapa teman sudah ada yang berjalan di jembatan dan berhasil. Akhirnya saya pun memberanikan diri untuk ikut mencoba. Langkah pertama ke atas jembatan, kaki saya bertambah lemas 50%. Langkah berikutnya, bertambah lemas lagi 50% dari yang sisa 50% sebelumnya. Begitu terus sampai akhirnya saya sampai di sisi jembatan yang satunya. Sesampainya di pos seberang, saya langsung mengepalkan tangan sambil berteriak “yeah!”. Wah, rasa bangganya melebihi nyetak gol kalo main putsal. :)

010101 010103

Total ada 4 buah jembatan gantung yang menghubungkan 5 buah pohon Bangkirai dengan total panjang jembatan adalah 64 meter. Seya coba semua keempat jembatan itu. Tapi makin lama dicoba, tingkat kelemasan kaki nggak berkurang sama sekali. Setelah puas berpoto-poto ria di atas pohon, kami pun turun. Jam menunjukkan pukul 3 sore ketika kami mulai jalan kaki menuju gerbang depan tempat start tadi. Di perjalanan pulang kami melewati sebuah kebun anggrek. Sayangnya tanaman anggrek itu lagi nggak berbunga. Nggak jelas juga apakah masih hidup atau sudah mati. Ahh, suatu kesialan menurut saya gagal melihat warna-warni bunga anggrek bermekaran.

010105

Senang sekali bisa jalan-jalan ke Bukit Bangkirai. Sudah lama sejak pertama kali saya hiking melintas perbukitan. Terkahir pas dulu SD ikut Pramuka. Makasihlah pokoknya buat yang ngajak, senior saya Mas Lili. Semoga kapan-kapan bisa balik lagi ke tempat ini. Amin.

Credit foto: @PrabowoAdityo

Nomor Telepon Penting Kota Balikpapan

Dua bulan sudah saya di Balikpapan. Kota yang, agar tidak terkesan berlebihan, bolehlah dibilang cukup nyaman untuk ditinggali. Satu-satunya hal yang membuat saya agak berat mungkin adalah tiket pesawat yang cukup mahal kalo mau pulang ke Palembang. Selain itu saya rasa sudah cukup nyamanlah semuanya. Kalau nantinya penempatan definitif pertama saya adalah di sini di Balikpapan, sepertinya saya sudah siap.

Saking siapnya saya untuk tinggal lama di sini di Balikpapan, saya sudah mendapatkan nomor telepon penting instansi-instansi kota ini.

Catet!

Catet!

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.