Penyakit Hati: Iri

Sial, kenapa dia yang dapet sih?

Dan kenapa juga aku harus tau kalo dia dapet?

Iri, menurut KBBI adalah perasaan kurang senang melihat kelebihan orang lain (beruntung dsb.); cemburu; sirik; dengki. Setiap orang, kalian para pembaca, termasuk saya, pasti pernah merasa iri. Iri adalah penyakit hati yang amat berbahaya. Bisa menyebabkan kita kurang makan, sesak napas, dan darah tinggi.

Seminggu belakangan ini perasaan iri tersebut menguasai diri saya. Menyebabkan saya sering diam merenung di pojokan. Melihat teman yang punya rejeki tertentu yang saya harusnya juga bisa dapat tapi ternyata tidak dapat, itu sangat menyiksa. Bikin stres. Mungkin itu jadi salah satu penyebab beberapa hari yang lalu kondisi fisik saya agak drop, selain karena memang kurang istirahat. Coba kalo dapet rejeki itu nggak usah saya tau, atau kalo kira-kira mau dapet rejeki nggak usah diterima di depan saya, terimanya tunggu saya sudah pergi sajalah. Kan enak kalo gitu….

Entahlah, mungkin kelihatan childish, atau pathetic, tapi kalo dipikir-pikir itu sebenarnya manusiawi. Merupakan kodrat manusia untuk merasa iri.

eyes-72

Melihat ke belakang, saya pikir saya kurang merasa bersyukur. Saya tidak lebih miskin sebenarnya dari teman-teman saya. Karena miskin dan kaya itu tidak dilihat dari uang saja. Keluarga, teman, keahlian atau skill, itu semua merupakan harta yang tidak ternilai dengan uang. Hal pertama yang saya lakukan dalam kondisi krisis ini adalah menelpon keluarga, mungkin sudah agak lama saya nggak dengar suara mereka sehingga saya agak lupa siapa saya. Gitar yang agak berdebu di pojok kamar saya itu juga sepertinya seru untuk dimainkan, sudah lebih 2 bulan sejak terakhir kali saya memegang gitar itu. Intinya saya harus menata dan mengingat-ingat lagi harta apa yang saya punyai dan terlupakan selama ini.

Rejeki sudah ada yang mengatur. Yang mengatur pun tentu nggak pingin kita hidup tidak berkecukupan karena kita adalah anak-anak yang dikasihi-Nya.

Salam. Selamat pagi dan selamat hari Minggu! :)

Selamat Datang Bulan Ramadhan

Marhaban ya Ramadhan. Selamat datang bulan Ramadhan. Bulannya teman-teman beragama Muslim mencari pahala sebanyak-banyaknya. Sayang sekali hari pertama Ramadhan tahun ini jatuh pada hari Minggu. Padahal kalo jatuhnya di weekdays kan lumayan dapet libur 1 hari kayak waktu sekolah dulu. [Emang kalo weekdays orang kantoran dapet libur po, ndes?]

Saya memang nggak ikutan puasa, tapi selalu terkena dampak dari teman-teman yang menjalankan puasa. Salah satunya adalah susah cari makan siang. Banyak warteg alias tempat makan yang tutup saat Ramadhan. Tak terkecuali warteg-warteg di sekitaran rumah saya. Ini sering buat saya bingung, kalau mata pencaharian utama para pengusaha warteg tersebut adalah dari warteg, kenapa siang malah tutup, apakah mereka nggak mau mencari uang? Dan kalau pun bukanya sore hari menjelang buka puasa, tidakkah keuntungannya berkurang banyak dari pada buka satu hari penuh seperti biasa? Apapun alasannya ini tidak dibenarkan. Apakah mereka tidak memikirkan nasib anak rantau yang tidak puasa seperti saya? Apakah saya harus terus-terusan makan makanan macam bakso pinggir jalan yang rasanya seperti formalin barusan?

Ini tidak adil. Saya bersumpah jika saya punya uang kelak saya akan membangun warteg murah nan enak yang buka siang hari di kala bulan Ramadhan. Sementara menunggu uangnya ada, saya mesti menikmati dulu memasak nasi dan lauk setiap hari.

The FA Cup – Finally Arive

Selamat tinggal joke “sekian musim tanpa gelar”! Sudah bosan kuping dan mata ini mendengar dan membaca joke gak bermutu itu. Gak bermutu saya bilang karena mereka yang bercanda seperti itu sebenarnya adalah fans dari klub yang juga pernah puasa gelar. Silakan baca sendiri sejarah klub-klub macam Man United, Liverpool yang sempat lama puasa gelar. Chelsea dan Man City apalagi. 2 klub yang cuma jadi pelengkap EPL sebelum ketiban duit dari para saudagar minyak.

Terima kasih kepada para pemain Arsenal yang berjuang keras dan Arsene Wenger tentunya, akhirnya klub ini mendapatkan trofi pertamanya dalam 9 tahun terakhir. Sungguh penantian yang cukup panjang (kalau tidak bisa dibilang sangat panjang) bagi kami para fans. Tidak berhenti mulut ini berteriak-teriak sepanjang match kemarin. Arsenal sukses menyajikan pertandingan yang seru, panas, serta bikin deg-degan. Sungguh pantas untuk sebuah pertandingan final. Start yang buruk, peluang-peluang yang terbuang percuma, dan performa wasit yang mengabaikan setidaknya 3 penalty untuk Arsenal sebenarnya merupakan hal yang biasa dialami oleh para gooner yang sering nonton match-match Arsenal. Itulah mengapa tidak banyak yang bisa menjadi gooner. Gooner sejati memerlukan jantung yang kuat.

Oh tunggu, sekarang sudah 1 hari Arsenal tanpa gelar!

HarBukDun

Selamat malam! Di kota Balikpapan malam ini sedang turun hujan deras. Enak banget untuk tidur. Tapi dari tadi saya udah tungguin, ngantuk belom datang juga. Sembari nunggu ngantuk, ijinkan saya untuk curhat-curhat dikit melalui tulisan ini. :)

Oh ya, hari ini denger-denger bertepatan dengan hari buku sedunia. Selamat ya!

Saya suka membaca buku. Apakah kamu juga? Saya ingat dulu waktu SD saya suka baca buku di perpustakaan sekolah. Buku yang saya baca antara lain buku-buku cerita rakyat, majalah bobo, koran bola, dan lain-lain. Kebanyakan sih buku-buku ringan. Buku yang agak berat baru saya baca pas SMP dimana waktu itu saya dapet tugas dari guru untuk meresensi novel. Saya lupa judul novel yang saya buatkan resensinya itu apa, kalo tidak salah agak-agak mengandung unsur misteri dan ada detektifnya. Dari novel itu juga pertama kali saya dapat kosakata baru yaitu: nyentrik. Saya malah baru tau arti nyentrik itu belakangan setelah saya selesai baca novelnya. Selama membaca dan meresensi saya nggak ngerti sama sekali. Haha.

Saya juga inget pas SMP saya sering banget baca buku di perpustakaan sekolah. Lebih sering daripada waktu SD. Alasan pertama jelas untuk membaca. Alasan kedua untuk melihat bu guru penjaga perpustakaan yang ahh… bikin betah berlama-lama di perpustakaan lah pokoknya. Hehehe.

Buku favorit saya sejauh ini masih Dunia Sophie karangan Jostein Gaarder. Bercerita tentang gadis kecil yang tertarik belajar filsafat. Cara menulis pengarangnya cerdas. Ending bukunya nggak terduga. Top bangetlah buku ini. Sekarang saya lagi nyari salah satu buku karangan om Jostein juga, judulnya Misteri Soliter (Solitaire Mystery) yang masih belom dapet juga sampe sekarang.

Yah begitulah. Sekarang buku terakhir yang saya baca adalah The Cuckoo’s Calling yang saya pinjem dari teman. Ah, jadi inget kalo saya udah lumayan lama nggak baca buku. Pantesan akhir-akhir ini sering stress sendiri di kantor. Huft.

Karena bukulah saya mulai membuat blog ini. Lebih spesifik lagi, karena buku Sujiwo Tejo-lah saya membuat blog ini. Saya lupa di buku yang mana, yang jelas di salah satu bukunya mbah Sujiwo Tejo menulis bahwa kita tidaklah benar-benar membaca sebelum kita menulis. Makanya saya mulai menulis agar apa yang saya baca bisa saya selami dalam-dalam. Karena dengan pengalaman menulis, kita akan lebih memahami makna tulisan orang lain. Ibarat kata apabila kita jago menyanyi, maka kita akan mendengar nyanyian orang lain dengan lebih seksama dan penuh perasaan. Mirip juri-juri di acara talent show televisilah.

Oh ya, saya jadi ingat kalo bulan ini adalah ultah blog ini yang pertama. Yeay! Mohon doa restunya ya teman-teman, semoga blog ini panjang umur dan nggak dianggurin pemiliknya. Amin.

P.S. Kalo ada rekomendasi buku bagus tolong ditulis di komen ya. :)

Golput Yuk!

Apa? Kalian nggak mau golput? Yo wes, nggak apa-apa. Itu artinya kalian adalah warga negara yang baik yang masih mau menjalankan kewajiban kalian sebagai warga negara.

Kalo boleh tau, siapa sih yang akan kamu pilih pada saat Pileg tanggal 9 April 2014 nanti? Apa? Kamu nggak tau siapa yang akan dipilih nanti? Serius nih? Bagi yang ingin menjadi pemilih yang baik, harus tau siapa yang akan dipilih nanti. Dan itu bisa dilihat di website KPU. Ada nama-nama caleg yang dikelompokkan sesuai dapil-nya. Liatin aja itu nama-namanya, siapa tau ada yang namanya indah dan mukanya rupawan terus kamu suka. Kepo diperbolehkan kok disini. Di-google aja itu nama-nama caleg yang nggak terkenal itu biar kamu jadi kenal dengan mereka.

Untuk mereka yang punya kerabat/sanak saudara yang jadi caleg atau tetangga atau udah dibayar untuk milih salah satu caleg mah enak. Nggak perlu lagi cari-cari info mengenai calon pilihannya. Untuk yang nggak punya, ya susah-susah dikit ga apa-apa lah ya. Kan biar nggak salah pilih ini. Biasanya sih, orang-orang yang nggak kenal sama caleg-caleg yang nampang di kertas suara pada milihnya ngasal. Saya nggak menuduh kalian para pembaca saya loh ya. Tapi kebanyakan emang begitu. Kalo mau nyoblos dengan ngasal, misal dengan cara tutup mata dan asal tusuk, ya mending sekalian jadi golput aja kayak saya. Hehehe.

pemilu-6

Lagian apa sih enaknya nyoblos? Bayangkan, pada hari pencoblosan, yang mana adalah hari libur, kita diharuskan bangun dan berjalan (atau naik kendaraan) ke TPS. Kalo udah melek sih bisa bener jalannya. Coba kalo belum melek, yang ada malah nanti bukan ke Tempat Pemungutan Suara malah ke Tempat Pembuangan Sementara. Bahwa yang menyebabkan libur itu adalah pemilu, itu benar sekali. Tapi coba bayangkan kalo disaat libur itu kita bisa tidur dan berleha-leha di kasur! Behh… Jadi ngapain kita repot-repot menuju TPS yang Tempat Pemungutan Suara itu untuk mencoblos mereka yang nantinya nggak tau siapa kita? Bukan mau minta timbal balik sih. Tapi… ah udahlah pokoknya gitu deh.

Apa? Kalian tetap nggak mau golput? Ya udah. Monggo silakan. Pokoknya saran saya, nggak usahlah itu nge-upload poto jari kelingking yang warna ungu pertanda kalian abis nyoblos di berbagai sosial media. Mending dicuci bersih terus nyoblos lagi di TPS lain (eh..!) Saya sebenarnya bisa aja nggak golput. Tapi sekarang saya lagi tugas bekerja di luar kota. Sebenarnya bisa juga saya mengurus perpindahan dapil. Tapi berdasarkan peraturan KPU Nomor 26 Tahun 2013, itu ribet. Dan sepertinya terlalu ribet untuk satu suara yang prosentasenya cuma 0,00000000000000000001% dari total perolehan suara. Biarlah fasilitas yang baru itu dimanfaatkan oleh mereka yang biasa menjadi pelaku curang untuk berlaku curang lagi di pemilu kali ini.

Terakhir, biar situasi politik kita agak sedikit nggak jelas, biar pemimpin-pemimpinnya kebanyakan (kalo nggak boleh disebut semuanya) korupsi, saya doakan semoga semoga semoga semoga siapapun pilihan kalian nggak korupsi dan bisa membawa negara ini menuju ke arah yang lebih baik. Jangan terpengaruh dengan blog atau tulisan orang yang mengajak golput ya. Ikuti saja kata hatimu sendiri (atau orang tuamu atau kerabatmu atau tetanggamu). Merdeka!

(Update terbaru: Saya baru nemu blog yang nyantumin profil-profil para caleg: litsuscaleg2014.wordpress.com. Monggo…)

Tie A Yellow Ribbon Round The Ole Oak Tree

♫♫♫
I’m coming home I’ve done my time
Now I’ve got to know what is and isn’t mine
If you receive my letter tellin’ you I’d soon be free
Then you’ll know just what to do, if you still want me, if you still want me.

Tie a yellow ribbon ’round the ole oak tree
It’s been three long years, do you still want me?
If I don’t see a ribbon, round the ole oak tree
I’ll stay on the bus, forget about us, put the blame on me
If I don’t see a ribbon ’round the ole oak tree

Bus driver, please look for me
Cause I couldn’t bear to see what I might see
I’m really still in prison, and my love, she holds the key
Simple yellow ribbon’s what I need to set me free
I wrote and told her please..

Now the whole damn bus is cheering and I can’t believe I see
A hundred yellow ribbons ’round the ole oak tree
♫♫♫

Lagu yang sangat sangat indah menurut saya. Saya pertama kali mendengarnya saat menonton film Our Idiot Brother yang dibintangi Paul Rudd, Elizabeth Banks, Zooey Deschanel, dan Emily Mortimer. Film ini bercerita tentang Ned (Paul Rudd), seorang lelaki bodoh dan 3 saudarinya. Dimana Ned, karena kebodohannya, menimbulkan banyak masalah untuk dirinya dan juga saudari-saudarinya.

Lagu ini dimainkan pada scene dimana Ned keluar penjara. Dengan beat yang asik dan gaya Ned yang juga asik pada scene itu, saya pun langsung tertarik dengan lagu ini. Saya cari judulnya pada credit film dan langsung saya cari di internet. Dapat. Saat membaca liriknya saya makin jatuh cinta. Tie A Yellow Ribbon Round The Ole Oak Tree bercerita tentang seseorang yang baru keluar dari penjara setelah 3 tahun menjalani masa hukuman. Dia tidak begitu yakin kekasihnya akan menerimanya kembali dan meminta kekasihnya–melalui surat–untuk memberinya sebuah tanda berupa pita kuning yang diikat pada pohon oak di rumah mereka. Apabila dia melihat ikatan pita kuning di pohon oak maka dia akan menganggap itu sebagai tanda bahwa sang kekasih mau menerima kembali. Jika tidak, dia tidak akan turun dari bus dan lanjut terus. (Dan di akhir lagu kita tahu bahwa ternyata si mantan narapidana tersebut melihat 100 pita kuning yang terikat pada pohon oak.)

Romantis bukan?

Lagu ini merupakan single yang dibuat pada tahun 1973 dan ternyata sempat menjadi hits saat itu. Amerika Serikat, UK, Australia, adalah beberapa negara yang chart tangga lagunya sanggup dikuasai. Versi aslinya dinyanyikan oleh Dawn featuring Tony Orlando. Hingga sekarang banyak musisi yang telah meng-cover lagu ini. Mulai dari Johnny Carver, Jim Nabors, Frank Sinatra, Domenico Modugno yang seorang penyanyi Italia, Connie Francis yang seorang penyanyi Australia, Shinee yang boyband Korsel, dan saya juga banyak melihat coveran banyak artis-artis YouTube lainnya. Untuk film Our Idiot Brother, yang digunakan adalah coveran versi Erick D. Johnson.

Pita kuning adalah merupakan simbol penantian. Menurut budaya asli orang barat sana, para istri mengikatkan pita kuning di rambut sebagai tanda mereka sedang menanti suami mereka pulang dari perang. Semakin kesini maknanya meluas menjadi penantian akan kepulangan para suami dari penjara. Dan terakhir, Gooners di barat sana membuatnya menjadi chants, yang berjudul She Wore A Yellow Ribbon.

Baiklah, kalo temen-temen kebetulan lagi penasaran dengan lagu Tie A Yellow Ribbon Round The Ole Oak Tree, yuk kita buffer bersama-sama!

Donor Darah: Yang Pertama dan Bukan Yang Terakhir

Kamis, 16 Januari 2014 kemarin jadi hari dimana saya donor darah untuk pertama kalinya. Dulu waktu kuliah sebenarnya udah sering diajak untuk donor darah, namun sering saya lewatkan karena merasa sayang dan nggak rela darah saya diambil serta takut ini dan itu. Kali ini saya beranikan diri untuk ikut kegiatan donor darah yang dilaksanakan oleh kantor untuk program “Bea Cukai Pedui – Donor Darah 1 Ton”.

Motivasi saya sebenarnya adalah Opung saya. Opung saya meninggal tahun lalu karena kekurangan darah usai operasi. Darah saya tidak cocok. Cari sana sini tidak dapat juga. Apa boleh buat. Semoga disana Beliau tenang bersama-Nya.

Sebenarnya ketakutan dan kenggakrelaan itu masih melintas di saat saya donor darah. Saya takut setelah darah saya diambil saya jadi lemes, saya takut nggak bisa beraktifitas normal dan lain-lain. Mungkin itulah sebabnya saya harus diambil darahnya dua kali. Karena sudah takut duluan, saya jadi pusing saat pengambilan darah. Jarum yang menancap di tangan kanan saya pun dicabut dan saya disuruh berbaring sebentar sampai pusingnya hilang.

Dokternya bilang kalau darah saya yang sudah diambil itu jadi tidak berguna dan akan dibuang karena tidak sampai memenuhi kantong. Konon di dalam kantong tersebut terdapatlah cairan yang merupakan makanan untuk sel-sel darah. Apabila jumlah darah yang masuk tidak sesuai dengan takaran yang seharusnya maka darah tersebut akan mati dan dibuang. Saya yang tidak ikhlas darah yang sudah dikeluarkan dari badan ini dibuang begitu saja pun akhirnya memberanikan diri dan membulatkan tekad. Tangan saya pun ditusuk lagi — kali ini disebelah kiri — untuk memenuhi kekurangan darah. Selesai proses pengambilan darah, efeknya pun terasa: badan jadi lemas dan mudah pusing. Tapi tidak terlalu parah, saya masih bisa menyetir mobil dan bekerja di kantor sampai jam pulang.


donor1

donor2

Setelah browsing-browsing di internet, saya menemukan bahwa ternyata masih banyak manusia yang tidak (atau belum) memiliki kesadaran untuk mendonorkan darah mereka. Alasannya antara lain: “tidak pernah kepikiran sebelumnya”, “terlalu sibuk”, dan masih banyak lagi. Padahal, menurut Palang Merah Australia, 80% orang Australia akan membutuhkan transfusi darah suatu saat pada hidup mereka (namun hanya 3% yang menyumbang darah setiap tahun)”; menurut palang merah Amerika Serikat, 97% orang kenal orang lain yang pernah membutuhkan transfusi darah; dan menurut survei di Kanada, 52% orang Kanada pernah mendapatkan transfusi darah atau kenal orang yang pernah (Wikipedia). Sayang sekali. Padahal banyak manfaat positif yang bisa kita dapat dari donor darah. Yang pertama tentu kita bisa menolong sesama yang membutuhkan. Kalau kata ayat kitab suci: apa yang kamu tanam, itu yang akan kamu tuai. Kalau kita mau mendonorkan darah kita untuk membantu orang yang membutuhkan, (semoga saja) saat kita membutuhkan akan ada orang yang membantu. Amin. Yang kedua, kita dapat meregenerasi darah kita. Darah yang dikeluarkan untuk donor adalah darah kotor. Tubuh kita tentunya akan mengganti darah itu dengan memproduksi darah baru yang lebih bersih. Selain itu, donor darah juga dapat meningkatkan nafsu makan. Saya sendiri merasakan kalau lingkar perut bertambah beberapa centi. Tapi saya tak khawatir, habis ini saya bakalan olah raga yang rajin. Hehe. :)

Well, saya nggak belum tau apakah saya akan menjadi pendonor darah yang rutin atau tidak. Saya belum memikirkan sampai kesana. Tapi yang jelas saya tidak akan melewatkan event-event donor darah lagi. Saya janji deh. Saya harap pembaca sekalian kalau belum pernah mendonor cobalah untuk mendonor. Setidaknya sekali dalam seumur hidup lah. Sehingga saat di akhirat nanti ditanya malaikat: “Apa yang sudah kamu lakukan untuk sesama manusia?” Kita bisa dengan bangga dan lantang menjawab: “Saya pernah donor darah, masbro.”

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.