Akhirnya Kesampaian – Rinjani

If you want to go fast, go alone
If you want to go far, go together
–African Proverb

Mendaki gunung, perjalanan menanjak padang rumput, sabana, atau hutan. Sebagian orang menganggap itu bukanlah liburan karena begitu melelahkannya.

Padahal mendaki gunung berbeda dengan destinasi liburan lain seperti, katakanlah, ke pantai. Memang melelahkan, karena ada proses persiapan fisik terlebih dahulu sebelum nanjak yang membutuhkan pengorbanan waktu. Dengan fisik yang prima pun saat nanjak masih butuh perjuangan melelahkan melampaui batas diri sendiri demi mencapai puncak. Namun, setelah itu semua kita lalui dan kita sampai di puncak, lalu kita melihat sekeliling, yang kita lihat akan menjadi sesuatu yang sangat berkesan, sangat indah, dan sangat mahal.

Setelah cuma bisa bercita-cita mendaki gunung sejak lama, akhirnya minggu lalu kesampaian juga. Bersama dengan tiga orang sohib sekantor: Adit, Aziiz, dan Yoga, saya mendaki Gunung Rinjani, gunung berapi tertinggi kedua di Indonesia. Kami beragkat terpisah: saya, Adit dan Aziiz beragkat dari Balikpapan, sedangkan Yoga yang sudah pulang duluan seminggu sebelumnya ke Semarang langsung bergabung di Lombok.

Pesawat dari Balikpapan berangkat sekitar pukul  12.15 WITA, setelah itu transit di Bali sekitar dua setengah jam sebelum sampai di Pulau Lombok pukul 17.15. Di bandara kami berempat telah ditunggu oleh driver kami, Muhammad Sihap. Si mas satu ini yang akan mengantar ke base camp Pak Tutiq di Sembalun. Pak Tutiq adalah salah seorang agen penyedia jasa guide, porter, dan driver bagi para pendaki Rinjani. Kami kebetulan mendapat kontaknya dari teman yang sudah mendaki Rinjani sebelumnya.

Kami sampai di base camp Pak Tutiq pukul 22.00 WITA, dan disambut oleh Pak Tutiq sendiri. “Selamat datang di Lombok, mas…” katanya dengan suara khasnya yang kalem. Malam itu kami habiskan dengan ngobrol-ngobrol mengenai rencana pendakian dan akomodasi yang diperlukan. Kami berempat yang amatir dalam hal daki-mendaki mendapat banyak pencerahan dari beliau. Setelah melalui proses pertimbangan yang cukup alot, kami akhirnya sepakat untuk mengabil keputusan sulit: saya, Aziiz, dan Yoga mengambil program pendakian 4 hari 3 malam dan akan turun lewat Senaru, sedang Adit (yang karena kedudukannya yang begitu penting bagi kantor sehingga harus ke Bali karena ada tugas pada hari Selasa) mengambil program pendakian 3 hari 2 malam dan akan turun kembali ke Sembalun. Dan karenanya kami menyewa dua orang porter untuk mengangkut kebutuhan logistik, tenda, dan perintilan lainnya.

Keesokan harinya, Sabtu, 1 Agustus 2015, kami bangun cukup cepat karena memang berencana untuk berangkat awal. Setelah sarapan, registrasi, dan persiapan lainnya, kami pun memulai pendakian. Pukul 08.15 kami mulai jalan melalui trek awal yang berupa halaman warga, padang rumput, dan sabana, yang mana semuanya relatif landai.

muka-muka polos yang belum sadar medan berat sudah menanti di sana….

Di sepanjang perjalanan menuju Pos 1, kami berpapasan dengan banyak pendaki lain. Ternyata bulan bulan ini adalah bulan yang cukup ramai. Cuaca di bulan ini sangat bagus, jarang hujan. Ramainya pendaki akan mencapai puncaknya nanti saat tujuh belasan. Di mana nanti akan diadakan upacara bendera di puncak. Setelah berjalan selama lebih kurang dua jam, akhirnya kami sampai di Pos 1. Di sini kami jumpai sudah banyak pendaki lain yang sudah lebih dulu sampai. Kami istirahat sebentar dan menaruh carrier. Setelah makan cokelat, minum air secukupnya, semprot-semprot sunblock (mentel kali pun :D), dan oles-oles counterpain, kami pun mulai jalan lagi.

Pos 2 jaraknya cukup dekat karena posnya terlihat dari Pos 1. Treknya sendiri sudah mulai banyak menanjak sekarang. Kaki pun mulai kelelahan dan kami mulai banyak istirahat. Makin lelah apalagi dengan carrier yang cukup berat karena diisi pakaian dan akomodasi untuk liburan di Bali setalah turun nanti. Heuheuheu. Sekitar satu jam kami jalan sebelum akhirnya kami sampai di Pos 2. Sudah banyak juga pendaki yang ngetem di sini. Pos 2 ini cukup luas, karena ada jembatan di bawah, dan di atas ada pondok serta tanah datar yang cukup luas. Di sini para pendaki sudah ada yang makan siang. Kami sendiri, berdasarkan rekomendasi dari Pak Porter, memutuskan untuk makan siang di Pos 3 nanti.

Ternyata belum sampai di Pos 3 kami sudah makan siang. Di bawah pohon rindang, Pak Porter sudah menggelar tikar dan masak-masak. Pak Porter bilang kalau di depan jalannya masih banyak menanjak dan kami lebih baik makan dulu. Kami nurut. Sambil menunggu makanan selesai disiapkan, kami pun tidur seadanya.

Selesai makan dan temen-temen pada sholat, kami pun melanjutkan perjalanan lagi. Sesampainya di Pos 3, kami menjumpai sekawanan monyet Rinjani yang katanya suka mencuri. Lumayan banyak juga itu monyetnya. Pos 3 adalah pos terakhir sebelum memasuki 7 Bukit Penyesalan Rinjani yang termahsyur itu. Disebut bukit penyesalan karena hanyalah tanjakan yang cukup terjal dan seperti tak berujung yang akan dilalui pendaki. Membuat para pendaki pun menyesal: untuk maju berat, untuk turun kembali sudah terlalu jauh. Kami sendiri guyon, bahwa sebelum masuk Bukit Penyesalan saja kami suda pada menyesal. Haha. Kami sudah kepayahan semua. Bahkan Yoga sudah tertinggal jauh di belakang dan harus ditemenin Adit. Entah kata-katanya gimana, tapi Adit cerita banyak kata-kata lebay yang keluar dari mulut Yoga menggambarkan kalau dia sudah mau tewas. Kami pun berjanji untuk tidak mengejek Yoga sampai turun gunung. :D

Setelah sekeian lama, di mana lebih banyak istirahat daripada mendakinya, akhirnya saya dan Aziiz sampai duluan di Plawangan Sembalun. Di sana kami akan bermalam dan istirahat sebelum summit nanti subuh. Pak Porter kami sudah sampai duluan dan sudah memasang tenda. Kami pun masuk tenda untuk bersih-bersih dan beres-beres. Selepas itu kami menunggu Adit dan Yoga di dekat bukit terakhir. Tenda kami tidak terlihat lagi dari sana karena sudah gelap. Lebih kurang sejam lamanya kami menunggu sebelum akhirnya mereka sampai. Napas pada tergopoh-gopoh, dan muka udah pada kusut. Kami antar mereka ke tenda dan langsung istirahat di dalam tenda sementara Bapak Porter menyiapkan makan malam. Tidak lama, makanan datang dan kami makan malam di dalam tenda dan langsung istirahat setelah itu. Tidak banyak obrolan malam itu karena semua sudah kelelahan.

Suhu sangat dingin malam itu. Saya memakai 2 lapis baju, 1 sweater, 1 jaket tebal, sarung tangan, serta 3 lapis celana dan 3 lapis kaus kaki… dan masih kedinginan. Sayang tidak bawa termometer untuk mengukur dinginnya suhu malam itu. Brrr….

Minggu, 2 Agustus 2015, pukul 01.30, kami bangun dan bersiap-siap untuk summit menuju puncak Rinjani. Kami diberi sarapan berupa kue panekuk buatan Pak Porter. Setelah sarapan seadanya itu, kami mulai jalan dipimpin oleh Pak Porter. Jam menunjukkan pukul 02.05. Trek menuju puncak ini lebih ekstrim dari pada trek yang kami lalui tadi siang, karena berupa pasir dan bebatuan. Tiap satu langkah maju yang kami ambil diberengi dengan setengah langkah mundur. Berat. Dua jam pertama berlalu. Yoga tertinggal cukup jauh di belakang. Dia sempat bilang perutnya tidak enak. Kami pun meminta Pak Porter untuk tidak lagi memimpin kami di depan, tapi menunggu dan menemani Yoga di belakang. Saya, Adit, dan Aziiz lanjut. Tidak lama berjalan, Aziiz menghilang. Dia menginggalkan saya dan Adit yang tergopoh-gopoh. “Wah, Yo, langit udah merah-merah!” kata Adit tidak berapa lama, sebelum dia akhirnya menghilang juga. Saya sendiri sudah sangat kepayahan. Kepala saya pusing, jantung saya berdebar kencang. Saya mencoba untuk memaksa tapi sudah tidak bisa. Saya perbanyak istirahat dan tiduran di bebatuan itu. Tidur di bebatuan gunung sangat nikmat dan nyaman ternyata, bahkan lebih nyaman dari kasur di rumah, gumam saya.

Pukul 06.20 pagi. Matahari sudah mengintip dari balik awan di ufuk timur. Saya yang baru 3/5 jalan menuju puncak ini pun harus menerima fakta untuk tidak melihat terbitnya matahari dari puncak. Saya mencari batu besar untuk duduk dan menikmati momen tersebut dari sana. Ah.. suasananya begitu khidmat. Sunyi. Orang-orang di puncak sana juga pasti menikmati momen ini dengan khidmat. Saya iri dengan mereka.

Selama setengah jam saya duduk di batu itu. Banyak yang saya lamuni. Saya memikirkan keluarga saya, orang tua dan adik-adik saya, saya memikirkan kehidupan saya dan apa-apa yang sudah saya kerjakan selama ini. Tiba-tiba mata saya kelilipan. Air mengalir keluar dari mata saya. Saya usap, dan saya coba menikmati lagi momen tersebut.Lebih kurang setengah jam saya menikmati momen indah tersebut.

Setelah puas, saya pun lanjut lagi perjalanan untuk sampai ke puncak. Saat itu orang-orang yang di puncak sudah berbondong-bondong turun, menciptakan debu yang sangat mengganggu . Saya lebih banyak lagi istirahat, karena harus menghindari debu. Selain itu saya semakin pusing dan jantung berdebarnya semakin kencang, dan air juga nggak ada. Yang bawa air udah pada duluan ke atas. Akhirnya saya harus meminta air ke orang lain. Thanks to bule yang entah dari negara mana dan juga porter yang baik hati sudah memberi saya air sehingga nggak pingsan. Sambil istirahat saya bertemu dengan empat orang mahasiswa yang juga mau nanjak ke atas dan ngobrol sebentar. Setelah itu mereka pun mendahului saya. Tidak lama setelah itu, saya mendapati peristiwa yang mencengangkan. Adit dan Aziiz turun! Mereka turun duluan dan tidak menunggu saya (dan Yoga juga mungkin, kalau dia masih kuat) di puncak. Saya nggak percaya sekaligus kecewa. Tapi saya nggak punya waktu berlama-lama untuk kuciwa. Saya masih punya beberapa meter lagi untuk didaki. Yosh!

Setelah 4 jam mendaki penuh perjuangan, akhirnya saya sampai di puncak. Jam di tangan saya menunjukkan waktu pukul 10.05. Yang menyambut saya tidak lain adalah 4 orang mahasiswa yang berpapasan dengan saya sebelumnya. Mereka memberi saya air dan roti (dan marimas :D). Ah senang dan puas sekali rasanya bisa sampai puncak. Saya pun merekam semua momen itu di memori saya dan memori handphone. Semuanya luar biasa: orang-orangnya, suasananya, pemandangan puncak Rinjani yang menankjubkan: gumpalan awan, danau Segara Anak di bawah, dan pantai-pantai pulau Lombok plus puncak Gunung Tambora. Saya bersyukur karena semua ini sangat mahal, tidak semua orang bisa menikmati momen ini.

B-)

  

indah aja apa indah banget?


Setelah merasa puas, saya pun turun bersama 4 orang mahasiswa itu. Belum jauh saya berjalan, saya melihat di jalur bebatuan ada Yoga yang masih berusaha sampai puncak. Dia sudah dekat. Saya pun menunggunya sambil tiduran di balik bayangan batu, sementara mereka berempat turun. Saya mengapresiasilah semangat Yoga. Saya tadinya pikir dia sudah menyerah dan pulang ke tenda. Pukul 11.30 dia sampai di puncak.

Kami pun menikmati momen di atas bersama-sama. Yoga bercerita kalau dia sempat BAB di bawah sana. Dia bilang dia sepertinya terkena diare. Kemudian saya tanya kemana Pak Porter, dia bilang Porternya turun duluan. Saya takjub, dengan fisiknya yang sudah habis-habisan, bisa-bisanya dia naik sendirian ke atas. Untungnya tidak terjadi apa-apa pada si kawan ini.

Cukup puas menikmati puncak Rinjani, kami pun turun bersama-sama. Dalam keadaan haus, lapar, pusing, dan lelah, kami pun istirahat sambil jalan (bukannya jalan sambil istirahat :D). Sedikit lagi menuju tenda, kami bertemu dengan seorang pendaki yang menunggu 4 orang temannya yang belum turun dari puncak. Saya bilang kalau mereka ada di belakang kami dan tidak lama lagi bakal sampai. Kami memang sempat berpapasan dengan para pendaki itu. Mereka adalah rombongan pendaki terakhir yang mencoba naik barengan Yoga. Yoga yang sudah mau tewas pun meminta air pada si mas pendaki. Masnya memberi air dan juga menawarkan pisang. Pisangnya seperti pisang burung, tapi rasanya ternyata nikmat sekali. Sepertinya benar kalau semua yang ada di gunung bisa berubah jadi sangat nikmat ya? :’) Sekitar pukul 15.00 kami sampai tenda. Kami pun langsung makan dan minum air banyak-banyak. Adit dan Aziiz yang sudah sampai duluan ada di dalam tenda dan tidur. Setelah selesai makan, saya langsung masuk tenda dan tidak keluar lagi sampai besok paginya.

Esoknya, Senin, 3 Agustus 2015, saya bangun lebih dulu dari yang lain. Tenda-tenda di sekeliling kami sudah banyak yang berganti. Sekarang di depan kami ada ibu-ibu dan mbak-mbak orang Korea yang cukup berisik. Merekalah yang membangunkan saya pagi itu. Sudah terlanjur bangun, saya pun berjalan-jalan dan coba menikmati pagi yang dingin itu. Tak lama yang lain juga bangun, kami mengabadikan momen dengan foto-foto bersama matahari yang sepertinya baru saja bangun. :)

salam lestari!

 

Puas foto-foto kami kembali ke tenda untuk sarapan. Selesai sarapan kami langsung beres-beres tenda dan bersiap untuk turun. Pukul 08.00 kami turun bersama-sama lewat jalur Sembalun. Sebelumnya kami sudah putuskan untuk membatalkan rencana ke Segara Anak dan turun lewat Senaru. Pertimbangannya selain fisik yang sudah habis adalah persediaan logistik makanan yang sepertinya sudah tidak banyak lagi.

Perjalanan turun tentu lebih cepat dari pada saat nanjak kemarin. Namun Aziiz yang kemarin pada saat nanjak lajunya cukup cepat sekarang menjadi yang paling lambat. Dengkulnya sudah kena sepertinya. Dia pun berubah menjadi nini-nini sekarang.

nini-nini

 
Kami sampai di base camp Pak Tutiq pukul 16.00. Tidak banyak orang di sana. Cuma kami berempat, Pak Porter yang setelah diberi tip langsung menghilang, dan beberapa anak muda lokal. Kami masih menunggu driver, Muhammad Sihap, di sana. Dia yang akan menjemput dan mengantar kami pulang, kali ini lewat pelabuhan Lembar karena tujuan liburan kami selajutya adalah Bali. Setelah si mas driver tiba kami langsung menaikkan carrier ke mobil dan berpamitan ke Pak Tutiq dan yang lainnya. Dan petualangan kami pun berakhir.

Saya janji pada diri sendiri untuk kelak kembali ke Rinjani. Saya masih penasaran dengan danau Segara anak dan trek turun dari Senaru. Selain itu saya rasa saya pasti akan kangen dengan suasana pegunungan yang asik ini: semua orang ramah dan saling membantu. No trick. Semuanya punya tujuan yang sama yaitu sampai ke puncak. Kehidupan sehari-hari di kantor tidak akan seperti ini saya kira. Terima kasih Tuhan, sudah melindungi kami semua dalam perjalanan naik dan turun, hingga bisa kembali ke Balikpapan dengan selamat. Terutama terima kasih karena sudah menciptakan alam yang luar biasa indah untuk kami nikmati.

let’s….

Silampukau – Dosa, Kota, & Kenangan: Sedikit Review

Silampukau adalah duo folk asal Surabaya yang terdiri dari Kharis Junandharu dan Eki Tresnowening. Mereka sangat fenomenal menurut saya. Mas-mas ini berhasil membuat saya kagum karena cara mereka menceritakan kota Surabaya, tema yang mereka angkat untuk album ini melalui narasi, sangat bagus. Naratif, apa adanya, tidak lebih, namun tetap dramatis. Keren.

Lirik-liriknya (tidak disertakan di dalam album fisik, tetapi bisa diakses di situs Silampukau) disusun dengan sangat hati-hati dan penuh perhitungan saya kira, karena hasil akhirnya adalah sebuah album dengan lagu-lagu yang padat makna dan kaya kosakata. Saya sampai harus nanya mbah Google arti beberapa kata seperti: temaram, jambon, ceracau, lingsir, matrimoni, dan banyak lagi. Saya baru tahu belakangan ternyata mas Kharis adalah jebolah dari jurusan sastra. Ugh!

Dari segi musik saya juga suka. Banyak instrumen yang dipadu menjadi manis: gitar, piano, violin, cello, saxofon, trumpet, trombone, accordion, harmonika, dan banyak lainnya. Semua padu dan pas sehingga narasi yang diceritakan melalui lirik-lirik lagu di sana sampai ke telinga pendengar dengan baik.

  

Lagu favorit saya di album ini adalah “Puan Kelana” yang menceritakan keengganan seorang laki-laki melepas kepergian kekasihnya ke Perancis. Sangat melankolis dan tidak terkesan cengeng. Kemarin waktu pertama muterin lagu ini, saya nggak berhenti: dari malam sampai pagi, sampai malam, dab paginya lagi (lebay :D). Saya juga suka lagu “Si Pelanggan” yang menceritakan tentang Doly, lokalisasi di Surabaya yang sekarang sudah dibubarkan oleh pemerintah (atau belum?) Lagu “Doa 1” juga menarik: menceritakan keinginan satir mereka-mereka yang ingin menjadi anak band terkenal namun nggak kesampaian. Sedikit curcol, saya juga sempat mengalami itu, walau nggak sampai tahap berhenti kuliah sih. Haha. Lagu “Balada Harian” yang menceritakan pemikiran ketika baru bangun pagi dan “Lagu Rantau (Sambat Omah)” yang menceritakan kisah tidak klise tentang seorang perantau yang kangen rumah juga saya suka. Secara umum semua lagu di album ini bagus, dan sangat gampang untuk disukai apalagi setelah membaca lirik-liriknya.

Sukses terus untuk Silampukau. Semoga tidak berubah murahan seperti Ahmad…. :D

Oh How I Miss Arsenal

Sudah hampir 2 bulan berlalu semenjak terakhir kali menyaksikan Arsenal. Udah kangen juga ini pengen ngerasain lagi sensasi “deg-deg-ser” yang cuma bisa dirasakan pas nonton Arsenal. Sejatinya kekangenan ini bisa terobati beberapa hari lagi, asal bisa menang kuisnya Super Soccer yang hadiah utamanya nonton Barclays Asia Trophy di Singapura (amin!).Di waktu off-season seperti ini, topik paling hangat untuk diikuti adalah mengenai bursa transfer. Oh dan release jersey terbaru juga sebenernya. Sedikit mengomentari jersey kandang Arsenal teranyar: blaaargghhh. Warna putihnya terlalu banyak: putih di bagian lengan oke, tapi di pundak dan ketiak? Sepertinya udah kebanyakan. Hasil akhirnya jadi kurang macho. :( Tapi ada satu komentar dari pemain yang agak bikin lega: Wellbeck bilang bajunya semakin nyaman karena nggak seketat musim lalu. Kalo dengan baju ketat yang kurang nyaman aja sudah bisa bikin trofi FA Cup tetap di Emirates, siapa tahu musim depan dengan jersey yang semain nyaman bisa mempertahankan FA Cup plus ngerebut trofi EPL. Siapa tau? :D

Well, balik lagi ke topik mengenai bursa transfer. Satu orang sudah dipastikan merapat ke Emirates Stadium: Petr Cech. Menurut pendapat pribadi ane, kepindahan Cech dari Chelsea sebenarnya nggak terlalu signifikan, nggak terlalu fundamental (uh, apa sih kata yang cocok?) Intinya, di Arsenal masih ada David Ospina sebagai kiper nomor satu. Dialah yang bikin Messi sempat mau mati. Belum ditambah fakta bahwa sepanjang musim lalu penampilannya cukup oke dan konsisten. Ospina, yang direkrut dari Nice bahkan mencetak beberapa clean sheet yang membuat rasio kebobolan per menit miliknya cukup rendah.

  
Tapi nasi sudah menjadi bubur. Tidak mungkin Wenger membeli Cech untuk menjadi pelapis Ospina. Cech akan menjadi kiper pertama Arsenal dan kemungkinan besar Ospina akan tergusur. Pindah ke klub lain adalah opsi paling masuk akal demi menunjang karirnya yang masih sangat panjang. Akan menjadi sebuah keputusan berat tentunya bagi Wenger.

Dari sudut pandang yang lain, kedatangan Cech tentu membawa angin segar bagi Arsenal. Sudah lama semenjak Arsenal memiliki kiper gaek nan ciamik di bawah mistar. Pengalamannya menggondol beberapa major trophy bersama Chelsea tentu cukup untuk mendorong para pemain Arsenal melakukan beberapa penggondolan serupa.  

  
Saya sendiri cukup senang Arsenal mendatangkan Cech. Bukan karena Arsenal kekurangan kiper bagus, tapi karena Arsenal bisa membeli pemain bagus (dan membuat Mou merana). Menyeret pemain besar dari beberapa klub besar sudah menjadi kebiasaan Arsenal dalam beberpa musim terakhir. Yang tentunya membuat tim menjadi makin menjanjikan dari tahun ke tahun. Satu faktor tersisa yang membuat skuad menjanjikan ini belum bisa berbicara banyak di EPL dan Eropa adalah masalah cidera. Entah di awal musim, pertengahan, atau pun penghujung musim, ada saja beberapa pemain kunci yang menepi karena masalah ini. Asal masalah yang nggak penting ini bisa diatasi, skuad menjanjikan Arsene ini tentu bisa berbicara lebih banyak di tiap kompetisi yang diikuti. Saya cukup yakin tentang ini.

Satu hal lagi yang harus Arsenal lakukan untuk tampil menakutkan di musim depan adalah membeli penyerang kelas wahid. Giroud merupakan pemain cukup bagus untuk menjalankan role no. 9. Tapi itu saja. Tipikalnya yang merupakan eksekutor bola-bola matang dan holding-up player tidak terlalu cocok dipraktekkan di EPL. Arsenal butuh penyerang yang liar, yang powerful, yang dapat mencetak 30 gol di liga dalam satu musim. (Sialnya orang terakhir yang dapat melakukannya berkhianat ke klub Setan dan sekarang malah hampir pasti merapat ke Fenerbahce). Welbeck sejatinya cukup bagus untuk dipercayakan berdiri sendirian di posisi ini. Atau kalau mau menjelajah ke klub-klub lain, ada Lewandowski, Benzema, Kane, Bale, atau yang paling anyar digosipkan, Di Maria. Come on, surprise us again, Mr. Wenger!

Hari #9: Grogot

Satu setengah tahun dan akhirnya kesampaian juga menginjakkan kaki ke Tanah Grogot. Satu setengah tahun sejak pertama kali mendengar nama Grogot, tempat yang bikin penasaran ada apa sebenernya di sana.

Dan ternyata tidak banyak yang ada di sana. Biasa saja. Saya aja yang dulu heboh sendiri. Huft.

Jadi kemarin ceritanya saya kesampaian juga ke Grogot. Saya sampai kantor pukul 06.35 WITA untuk berangkat bersama rombongan. Jadwal yang disepakati kemarin adalah pukul 06.30 WITA sudah siap berangkat. Dan bos-bos ternyata udah datang dan standby semua. Jadilah saya malu sendiri. Haha. Ha. :(

Perjalanan dimulai dengan naik speedboat dari pelabuhan Semayang. Tidak sampai 10 menit, kami sudah sampai di seberang, di pelabuhan Penajam. Setelah sarapan coto Makassar, kami mulai perjalanan darat menuju Grogot. Tujuan kami adalah pabrik batubara milik PT. Kideco Jaya Agung. Kunjungan kali ini adalah dalam rangka Customs Visits Customer, yaitu sebuah acara yang diadakan oleh Seksi Penyuluhan dan Layanan Informasi (PLI) KPPBC TMP B Balikpapan. Tujuan dari acara tersebut adalah untuk menyelenggarakan fungsi penyuluhan di bidang kepabeanan dan cukai terutama dalam kaitannya dengan peraturan terbaru mengenai L/C (Letter of Credit).

Perjalanan ditempuh selama lebih kurang 3 jam melewati jalan yang berlubang dan berkelok-kelok. Mirip dengan jalur lintas Sumatera dulu sebelum diperbaiki. Pukul 10.00 WITA akhirnya kami tiba di tempat tujuan. Sampai di sana kami istirahat dan ngobrol-ngobrol sebentar dengan tuan rumah. Setelah itu acara inti dimulai dengan penyampaian presentasi oleh bapak-bapak PLI dan ditanggapi dengan beberapa pertanyaan dari pihak Kideco. Acara berjalan lancar dan selesai sekitar pukul 13.00 WITA. Setelah itu kami melanjutkan kegiatan ke kota Grogot untuk sosialisasi pita cukai di pasar yang ada di sana.

Kesan mengenai kota Grogot adalah kota tersebut ternyata adalah kota yang panas dan gersang. Matahari begitu terik dan udara begitu kering. Akibat dari tempat yang jauh dari perairan mungkin. Selain itu satu hal yang unik dari Grogot adalah tema kota yang mengambil warna ungu. Mulai dari bangungan pemerintahan, mesjid, hotel, pagar, marka jalan, patung, dan banyak bangunan lainnya dicat warna ungu. Ekstrim sekali ya. Ini mengingatkan saya akan gubernur Sumatera Selatan yang dulu yang juga pecinta warna ungu. Waktu kampenye, tim suksesnya menamakan diri relawan ungu. Untung tidak begitu ekstrim seperti bos Grogot, sehingga warna jembatan ampera tidak diubah ungu juga. Hehe.

Hari #8: Mendadak Liburan – Part II

Setelah selesai mengikuti acara pengangkatan PNS, saya dan beberapa teman liburan ke Bandung. Sebenarnya saya kepengen pulang ke Palembang, namun kerena satu dan lain hal, saya nggak jadi pulang. Jadilah saya ikut mereka ke Bandung.
Ini pertama kalinya saya menginjakkan kaki di Bandung. Kota yang dari dulu cuma bisa saya lihat dari tv, koran, dan majalah. The Famous Bandung. Kota yang terkenal dengan mojang geulis-nya. Yang—selain Jogja—juga mendapat julukan Kota Pelajar.

Kami berangkat dengan kereta api dari stasiun Gambir, Jakarta Pusat. Sungguh menyenangkan melihat hamparan sawah hijau dan bukit-bukit hijau di luar jendela dan mendengar suara kereta api tut-tut-tut itu selama perjalanan. 3 jam di kereta akhirnya kami sampai juga. Tujuan pertama kami adalah Alun-Alun Bandung. Disana ada Mesjid Raya dengan lapangan hijau dari rumput sintetis, seperti lapangan futsal jadinya. Tempat yang sangat pas untuk main bersama keluarga. Puas menghabiskan waktu disana, kami menuju ke Omuniuum, toko CD, merchandise, dan sekalian toko buku juga. Tempat yang udah lama banget pengen saya samperin. Tapi nggak banyak yang saya bawa dari sana, karena barang yang saya cari kebanyakan out of stock.

Tujuan kami selanjutnya adalah daerah Lembang. Kami berangkat sore untuk sampai di Cieater sekitar malam hari dan bermalam di sana. Tengah malam sebelum tidur, kami mandi di pemandian air panas. Sungguh nggak masuk akal sebenarnya mandi tengah malam. Kata orang tua dulu bisa kena rematik kalo mandi malam-malam. Tapi ternyata, justru di tempat pemandian ini banyakan orang tuanya dari pada yang muda-muda. Huft. Selesai mandi, badan jadi segar dan rileks. Mungkin karena pengaruh airnya yang langsung dari mata air alami ya.

Keesokan harinya, kami sarapan di daerah Cikidang. Di depan tempat makan itu ternyata ada kebun teh. Melihat yang ijo-ijo, kami pun langsung foto-foto (hey ,it rhymes!)

Setelah selesai sarapan kami meluncur menuju Tangkuban Perahu. Satu lagi tempat yang ingin saya kunjungi dari kecil akhirnya kesampaian. It’s beautiful. Cuma kawah doang sebenernya, tapi itu cantik dengan caranya sendiri. Glad to be there with friends. :)

Destinasi selanjutnya adalah De Ranch, yang merupakan tempat wisata berkuda. Sebuah pengalaman yang seru bisa naik kuda. Walaupun cuma satu keliling lapangan saja sih. Hehe.

Setelah puas menunggang kuda dan foto-foto, kami menuju Floating Market. Dari namanya sudah ketahuan kalau konsep pasar ini adalah pasar terapung. Yang dijual adalah jajanan pasar seperti colenak, tempe mendoan, jagung bakar, siomay, dan masih banyak lagi. Konsep pembayarannya juga cukup unik dengan menggunakan sebuah koin khusus. Well, sebenarnya pakai uang kertas atau uang koin biasa sebenarnya bisa sih, tapi ada beberapa kios yang hanya menerima koin khusus yang dikeluarkan oleh Floating Market.

Dan tempat terakhir yang kami singgahi adalah Dusun Bambu. Ada danau kecil dimana kita bisa main perahu-perahuan, ada sungai kecil yang airnya jernih dan bersih, yang dengar suaranya saja sudah bikin hati tenteram, ada kebun bunga, ada tempat bermainnya, dan lain-lain yang ijo-ijo. A little piece of heaven!

Sungguh liburan yang menyenangkan. Nggak cukup sepertinya cuma dua hari menjelajah Bandung. Lain kali musti kesana lagi kayaknya. Haha. Anyway, thanks lah buat si Adit yang udah ngajakin ke Bandung. Walau pun awalnya ragu tapi akhirnya jadi juga ye. Thanks juga buat penunjuk jalan dan donatur sukarela Chris dan Tria. Upah kalian besar di sorga, nak. :)

[update gambar menyusul ya :)]

Hari #7: I Love Adzan Subuh

Suara adzan subuh yang keluar dari toa-toa masjid adalah suara berisik pertama yang akan kita dengar jika kita begadang atau tidak tidur semalaman. Suara yang dengan gagahnya memecah kesunyian malam. Suara yang menandakan bahwa kegelapan malam sudah berakhir dan sinar matahari sebentar lagi akan menyongsong. Mengingatkan kita untuk menyambut hari baru.
Bagi yang beragama Muslim begitu mendengar adzan subuh tentu harus segera bersiap-siap untuk sholat subuh. Bagi yang tidak, seperti saya juga, cukup mendengarkan suara adzan sampai selesai. Karena suara itu begitu keras dan tidak bisa di-mute.

Dulu waktu masih kuliah, saya sering tertolong oleh suara adzan subuh yang membangunkan saya. Terutama di musim ujian semester. Saat itu saya terbiasa dengan budaya SKS atau Sistem Kebut Semalam. Mata pelajaran yang akan diujikan hari itu–biasanya ada dua mata pelajaran–akan saya pelajari di malam hari dan dilanjut saat subuh. Belajar di waktu subuh sangat enak karena suasana sangat sunyi dan tenang. Tidak ada gangguan suara tv atau suara orang ngobrol. (Untuk adik-adik yang masih sekolah atau kuliah jangan ditiru ya, belajar yang baik itu mesti setiap hari.) 

Sekarang kalau mendengar suara adzan subuh, saya suka membayangkan banyak hal. Bagaimana hari yang baru ini akan dilewati, mulai dari orang-orang yang akan ditemui, hal-hal yang akan kita lakukan, janji-janji yang telah kita buat dan sebagainya. Saya juga suka membayangkan keluarga, percakapan terakhir saya dengan orang-orang di rumah, suasana rumah waktu terakhir saya pulang, saya juga suka mengkhayalkan hal-hal yang tidak pernah saya capai dalam hidup saya, mengingat-ingat mantan juga (eh), dan banyak hal lainnya.

Adzan subuh adalah sesuatu yang unik bagi saya. It’s religious in its own way.

Hari #6: Seperti Gak Niat Padahal Niat Banget

Sudah ada beberapa postingan yang telat saya buat dari jadwal yang seharusnya. Nggak mudah ternyata untuk konsisten menulis dan kemudian mempostingnya setiap 2 hari sekali. Ada aja halangannya: waktu yang mepet, ide nulis yang nggak ada, lupa, dan lain-lain. Tapi itu semua cuma alasan aja sih. Sepele. Harusnya kalo dari awal niat untuk bikin tantangan, ya harus siap dengan segala konsekuensinya.
Semoga kedepan nggak ada lagi keterlambatan. Dukung terus penulis kesayangan anda ini menyelesaikan tantangan #30HariMenulisDiBlog ini ya!

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.