Sail Komodo – Wae Rebo Trip [Part 2]

Wae Rebo adalah sebuah desa yang berada di pegunungan dengan ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut. Awalnya cuma itu saja yang saya tahu tentang Wae Rebo. Saya belum tau kalau ternyata desa ini adalah objek wisata yang cukup populer di kalangan turis lokal maupun mancanegara.

Tujuan trip kami selanjutnya setelah berlayar di sekitar kepulauan Komodo adalah mengunjungi desa adat Wae Rebo. Banyak cara yang bisa ditempuh untuk sampai di lokasi. Yang pertama adalah naik angkutan umum dari Labuan Bajo, kemudian berhenti di Ruteng untuk kemudian menyambung lagi menuju desa Denge yang merupakan desa terakhir sebelum Wae Rebo; atau bisa langsung sewa mobil trevel yang langsung mengantar ke Denge.

Rombongan kami berangkat dari Labuan Bajo pukul 9 malam. Dan sampai di Denge pada pukul setengah 4 pagi. Lebih cepat 1,5 jam dari jadwal biasanya yang sekitar 8 jam. Thanks to bapak supir (yang mungkin sedang kebelet) sehingga badan para penumpang pegel dan sakit semua terbanting-banting di dalam mobil. Pagi itu kami singgah di homestay Papa Blasius Monta untuk meluruskan punggung dan kaki. Papa Blasius bilang kalau dia adalah putra asli Wae Rebo. Sekarang dia bekerja sebagai guru di sebuah SD yang terletak di depan rumahnya.

Setelah sarapan, mandi, dan beres-beres, kami siap untuk trekking menuju Wae Rebo. Dari rumah Papa Blasius kami diantar sopir trevel kami sampai di jembatan 1. Dari sana baru kami berjalan kaki. Setelah berjalan lebih kurang 4 jam, menempuh jarak sekitar 9 KM, melewati 4 pos, akhirnya kami sampai di “desa di atas awan”. Sebelumnya di perjalanan menuju ke puncak, kami beberapa kali berpapasan dengan warga Wae Rebo yang turun sambil membawa batang kayu manis. Keramahan para penduduk Wae Rebo sudah sangat terasa, kala mereka langsung menyapa dan memperkenalkan diri.

berpapasan

berpapasan

Memeasuki Wae Rebo kami diharuskan terlebih dahulu untuk masuk ke rumah utama, di mana sudah ada pemuka adat desa di dalamnya. Aturan di Wae Rebo mewajibkan setiap pengunjung yang datang untuk mengikuti upacara adat untuk mendapat perlindungan dari arwah para leluhur. Setelah selesai upacara adat, kami berpindah menuju salah satu rumah yang disediakan khusus buat tempat tinggal turis. Di dalamnya sudah ada sejumlah tempat tidur yang disusun melingkar. Kami disuguhi kopi khas Wae Rebo yang terkenal itu. Rasanya nikmat sekali, bisa membuat yang tidak suka kopi jadi suka. Setidaknya begitulah kata Teteh Atti yang sebelumnya jarang minum kopi.

Hari itu cuaca berkabut disertai hujan rintik-rintik sehingga tidak banyak yang bisa kami lakukan. Untungnya kami sempat melihat proses menenun kain cura oleh beberapa mama. Menenunnya di bawah rumah sehingga kalau tidak hati-hati kepala bisa ciuman sama kayu.

menenun

mama menenun kain

Apabila ada yang bertanya apakah udara di Wae Rebo dingin, jawabannya adalah tidak terlalu. Itulah sebabnya saya, Adit, dan Yoga malam itu berani bertaruh untuk tidur tanpa menggunakan selimut. Siapa yang duluan pake selimut, dia kalah. Dan ternyataaa….

adit-lemah

adit lemah!

Di desa ini terdapat tujuh rumah adat utama yang juga disebut Mbaru Niang. Satu rumah bisa menampung sekitar delapan kepala keluarga. Tapi hari ini sangat sedikit warga yang kelihatan, kebanyakan sedang turun untuk belanja kebutuhan rumah tangga, selain juga katanya ada acara adat di desa sebelah. Tapi untungnya kami masih sempat bertemu dengan beberapa warga yang mau diajak foto-foto.

yoga-dan-teman

adit-dan-teman

wefie

mba-caca-dan-guk

bagus

Wae Rebo adalah desa yang meraih penghargan dari Unesco atas proyek konservasi pelestarian budaya (sumber). Sebuah prestasi yang membanggakan. Tentu di balik itu perlu usaha keras untuk mengedukasi warga Wae Rebo untuk terbuka terhadap pariwisata dan terutama turis asing. Salut dengan para pemrakarsa berkembangnya desa ini menjadi desa wisata. Semoga di daerah-daerah lainnya di Indonesia bisa seperti ini juga, ya.

­­Maju terus Wae Rebo. Mohe Wae Rebo.

mohe-wae-rebo

Sail Komodo – Wae Rebo Trip [Part 1]

Pada kesempatan kali ini saya tidak ke gunung seperti yang sudah-sudah, melainkan berlayar di perairan Pulau Komodo selama 3 hari dan dilanjut trekking ke Wae Rebo, sebuah desa yang terletak pada ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut.

Baiklah, perjalanan kali ini dimulai dengan sedikit drama ketinggalan pesawat. Thanks to Lion Air, maskapai kesayangan kita semua. Saya, Adit, dan Satria yang harusnya tiba di Labuan Bajo pukul 9 pagi, jadinya tiba pukul setengah 4 sore. Setibanya di bandara, kami sudah ditunggu oleh Mas Adi, guide kami untuk trip kali ini. Ada 9 orang peserta open trip-nya Mas Adi ini: selain kami bertiga, ada Yoga (yang datang pertama katanya), Teh Atti (mantan atlit basket timnas Indonesia), Mr. Tono alias Abdullah (orang Arab yang kocak), Mbak Nicki Minaj (pacarnya Tono), Mbak Caca (adeknya mbak Nicki), dan Mas Ardiyanta (temen SMA-nya mbak Caca, yang juga anak gunung banget).

Day I

Sesampainya di kapal, kami langsung meluncur ke Pulau Rinca. Kata Mas Adi ini adalah satu dari dua pulau di kawasan Taman Nasional Komodo yang masih ada komodonya. Yang satunya lagi adalah Pulau Komodo. Pukul 6 sore kami sampai di dermaga Pulau Rinca. Sangat terlambat, sih, ya. Dan seperti tahu kalau waktu kami sudah mepet, para komodo itu ternyata sudah menunggu kami di sana. Mereka sudah pada ngumpul di sekitaran rumah para ranger sehingga kami tidak perlu berjauh-jauh trekking nyari mereka.

nahan takut, semoga komodonya gak tiba-tiba gigit kami

tersenyum sambil berdoa semoga komodonya gak tiba-tiba gigit kami

Day II

Sensasi bangun tidur di atas kapal yang bergoyang adalah suatu pengalaman yang unik karena: bikin pusing. Ternyata pagi-pagi sekali kapal kami telah bertolak dari Pulau Rinca menuju Pulau Padar. Niatnya sih untuk melihat matahari terbit di Padar. Tapi nyatanya mataharinya tertutup awan. Ha-ha-ha. Di Padar, kapal kami adalah kapal yang pertama tiba. Jalur trekking-nya masih kosong, sehingga kami bisa mengabadikan gambar sepuas-puasnya.

amitaba

Saya sangat menyarankan trekking menggunakan sepatu. Tidak perlu sepatu gunung, sepatu olah raga ataupun sneaker sudah cukup. Tapi kalau mau pakai sendal gunung, ya tidak apa-apa juga sih. Labih praktis, malah. Asal jangan pakai sandal jepit, ya. Bisa lece-lecet kaki nantinya.

Selepas Padar, kami menuju Pink Beach. Dinamakan Pink Beach karena perpaduan antara pecahan karang berwarna merah dan pasir pantai yang menghasilkan warna merah muda. Kapal kami tidak bisa bersandar di pinggir pantai, harus berjarak beberapa meter. Mungkin untuk menjaga agar terumbu karang di bawahnya tidak rusak, ya. Alhasil, untuk mencapai pantai kami harus nyebur ke air dan berenang. Untung Mas Adi sudah menyediakan pelampung dan fin, sehingga saya yang mempunyai kemampuan renang secukupnya ini bisa sampai di pantai dengan tidak kurang suatu apapun. Hiyaaat! Plung! Terumbu karang yang ada di bawah ternyata sangat cantik, lho.

adit anak bir

adit anak bir


bawah air

bawah air

Puas main air di Pink Beach, kami lanjut lagi ke sebuah pulau kecil bernama Taka Makassar. Sayang kami tidak bisa berlama-lama di sana, angin kencang disertai badai tiba-tiba datang sehingga kami harus segera pergi mencari spot lainnya. Yang ternyata itu adalah Gili Laba! Trekking sedikit ke atas, kami menjumpai spot yang bagus untuk foto sunset. Sayang beribu sayang, mataharinya tertutup awan di ufuk barat sana.

Day III

Masih di Gili Laba, pagi ini kami trekking menuju spot sunrise. Dan lagi-lagi, mataharinya tertutup awan. Tapi lumayan lah, seenggaknya kami mendapatkan pemandangan yang sangat cantik dari atas sini. Gili Laba Darat di sebelah sini, dan Gili Laba Laut di sebelah sana. What a view!

nungguin matahari nongol

nungguin matahari nongol


Satria feels freee....

Satria feels freee….

beautiful-isnt-it

Destinasi kami selanjutnya adalah Manta Point. Itu adalah suatu tempat yang banyak mantanya. Bagi yang belum tau manta, itu adalah ikan berpunggung lebar. Kalau pernah nonton film Finding Nemo pasti tau gurunya Nemo yang sering ngajak muridnya jalan-jalan. Nah, itu lah yang mau kita lihat. Apakah benar manta itu suka ngajak ikan lain nebeng berenang di punggungnya. Di sini kami beruntung dapat menjumpai beberapa ikan manta. Dan ternyata, tidak ada ikan-ikan kecil berenang di punggungnya!

Satria yang beruntung

Satria yang beruntung

Setelah puas ngeliatin ikan manta, kami balik lagi ke Taka Makassar. Kali ini cuaca cerah, dan kami bisa main air sepuasnya di sana.

Teh Atti ngapung

Teh Atti ngapung


saya gagal ngapung

saya gagal ngapung


main air

main air

Destinasi terkahir kami adalah Pulau Kelor. Sebenarnya sebelum ke Kelor, kami mau ke Jellyfish Point. Sayangnya angin berhembus sangat kencang, sehingga akan membahayakan kalau nekat mau ke sana. Jadilah kami main ke Kelor yang sepertinya paling cocok kalau didatangi sore hari menjelang sunset.

cantik

Cerita tentang Wae Rebo ada di postingan selanjutnya yah!

2016 – Review

Tanpa terasa sudah tiba lagi kita di penghujung tahun. Sepertinya tidak ada salahnya untuk melihat kembali ke belakang apa-apa saja yang sudah kita lalui sepanjang tahun 2016 ini. Siapa tahu, setelah melihat ke belakang sebentar, kita menjadi lebih mantap untuk berjalan ke depan. Apa saja yang sudah kalian lakukan sepanjang tahun ini? Kalau saya, sih, rasa-rasanya tidak terlalu banyak. Dan tidak pula begitu berkesan. Hmm… sebentar deh, coba saya ingat-ingat dulu.


Ah… bodohnya saya, ternyata tidak sulit untuk mengingat kembali hal yang paling berkesan sepanjang tahun ini. Dua tulisan terdahulu saya di blog ini sudah memberi tahu kita hal itu: naik gunung. Bulan Mei ke Semeru dan bulan Agustus ke Kinabalu. Dua-duanya sangat berkesan. Kalo tahun depan bisa pergi ke sana lagi tentu akan menyenangkan. Eh, jangan dulu deh, sepertinya ke gunung yang belum pernah dinaikin dulu. Kerinci mungkin?

Oh iya, saya jadi ingat kalo awal tahun kemarin akhirnya kesampaian juga main ke Candi Borobudur. Thanks to Mr. Anton Tabah yang udah mengizinkan rumahnya diinapi oleh saya dan Adit selama di Magelang. Seru juga ‘tuh, main di Magelang. Boleh lah kapan-kapan main ke sana lagi.

Sepanjang tahun ini saya 3 kali pulang ke Palembang (4 kalau ditambah libur Natal besok). Ini rekor. Kalau tahun-tahun lalu paling banyak 2 kali. Semoga tahun depan bisa lebih sering pulang untuk melihat kedua orang tua saya yang sudah semakin tua itu.Tahun ini saya kehilangan lagi anggota keluarga setelah nantulang saya (istri abangnya mamak saya) meninggal. Tahun lalu saya kehilangan 2 orang namboru (saudari bapak saya) dan 1 orang amangboru (suaminya namboru). Peristiwa kehilangan keluarga seperti ini, apalagi yang sangat dekat dengan kita, membuat kita harus segera menerima kenyataan kalau kematian itu adalah sesuatu yang pasti. Dan itu bukan sesuatu yang buruk karena sejatinya kita semua akan kembali kepada Tuhan YME. Semoga bahagia selalu di sana ya, nantulang, namboru, dan amangboru!

Kalau dipikir-pikir lagi, tahun 2016 ini bisa dibilang tahun yang spesial. Mengapa spesial? Karena di tahun ini, tepatnya Agustus lalu, umur saya genap 25 tahun. Terus kalau sudah 25 tahun kenapa? Ya, nggak kenapa-kenapa juga sih. Satu hal yang pasti di umur segini setiap pulang ke rumah adalah pertanyaan itu*. Tapi tenang saja, menyoal itu jawaban template-nya sudah disiapkan kok. Hehehe.

Tahun ini juga menandai 3 tahun saya tinggal dan bekerja di Balikpapan. Kalau melihat tren di instansi tempat saya bekerja, apalagi beberapa tahun ke belakang ini, saya (dan teman-teman satu angkatan) seharusnya sudah pindah. Semoga kesampaian dalam waktu yang tidak terlalu lama. Sudah mulai bosan juga melihat dinding-dinding kantor itu. Ya, memang tahun ini kantor baru saja didekorasi ulang: dindingnya dicat dengan warna berbeda, meja-meja dan kursi-kursi diganti, dan halaman parkir juga. Tapi kalian mengerti ‘kan, maksud yang ingin kusampaikan? Apalagi merasakan suasana kantornya sendiri makin lama makin tidak asyik. Terlalu kaku. Seperti robot. Eh, tapi bukankah saya juga bagian dari kantor itu? Apakah itu menjadikan saya orang yang juga kaku?

Satu tahun ini saya cuma dua kali menulis di blog ini. Menyedihkan. Mengapa, ya? Kemana perginya semangat menulis yang dulu itu? Apakah saya sudah jenuh menulis? Sepertinya tidak juga, saya masih sering menulis di media sosial seperti Path atau Twitter. Apakah saya tidak ada ide tulisan? Ah, bukan karena itu sepertinya. Sejujurnya ide untuk menulis itu ada, cuma waktunya yang kadang tidak pas: kadang saat menjelang tidur, ketika mata terpejam tapi belum pindah ke alam mimpi, ide menulis itu datang; atau saat melamun di atas motor; atau saat nongkrong-nongkrong asik di kamar mandi. Sering kali ide-ide itu menguap begitu saja dan tidak tereksekusi. Sepertinya mulai sekarang harus dipikirkan ide untuk segera mengabadikan ide itu. Jadi, mengapa saya sekarang jarang menulis? Apakah karena lebih memikirkan kualitas tulisan dibandingkan dengan kuantitas? Ah, tak tahu lah. Yang jelas semoga tahun depan bisa lebih rajin nulis di blog. Saya sendiri mulai memikirkan untuk bikin satu blog lagi bertemakan resensi buku dan review film. Semoga dengan bertambahnya beban blog yang mau diurus, bisa semakin meningkatkan semangat untuk menulis. Semoga.

Tulisan ini sepertinya meninggalkan banyak pertanyaan yang saya sendiri tidak bisa menjawabnya, apa lagi teman-teman yang membaca. Hmm…. Sepertinya lebih baik kita biarkan saja pertanyaan-pertanyaan itu menjadi pertanyaan tidak terjawab. Akan membuat lelah kalau terlalu dipikirkan. Apalagi ini di kanan bawah layar laptop saya sudah menunjukkan pukul 03.00 dini hari.

Selamat Natal dan Tahun Baru 2017. Semoga kita semua makin baik di tahun yang akan datang.

Mengunjungi Atap Borneo – Kinabalu

Mendaki gunung di luar negeri sebelumnya tidak pernah terpikirkan oleh saya. “Gunung-gunung dalam negeri saja belum semua tamat, kenapa harus ke luar negeri?” begitu pemikiran saya pada awalnya. Namun makin ke belakang pemikiran itu berubah: mumpung ada waktu dan rejeki, kenapa tidak? Lagi pula yang mau dibikin khawatir masih sedikit, “cuma” orang tua doang. Hehehe.

Menjelajah Kota Kinabalu

Saya dan teman seperjalanan saya, Adit, tiba di Kota Kinabalu International Airports pada Selasa, 16 Agustus 2016, tengah malam. Dari bandara kami langsung mencari taksi ke hotel untuk beristirahat. Lumayan mahal juga rate taksi di sana kalo tengah malam. Untuk jarak yang lumayan dekat (lebih kurang 5 km dari bandara) kami harus mengeluarkan uang yang kalau dirupiahkan bisa sampai 120 ribu. Sangat tidak disarankan menggunakan penerbangan malam ke sini.

Pagi harinya, 17 Agustus 2016 adalah hari kemerdekaan RI. Entah kenapa di sini nggak ada yang mengibarkan bendera Indonesia. Ckckck. Parah banget. Pada hari ini kami berencana mengunjungi beberapa landmark Kota Kinabalu seperti: museum, art gallery, dan lain-lain. Setelah check-out dan sarapan, kami berjalan kaki untuk mencari stasiun bus (atau bas dalam bahasa Malaysia). Cukup lama kami berjalan hingga akhirnya stasiun busnya… tidak ditemukan. Hahaha. Kami memutuskan lanjut berjalan kaki saja sampai ke tempat tujuan karena sepertinya sudah lumayan dekat.

muzium sabah

art gallery yang isinya kebanyakan lukisan

Lewat tengah hari kami pun mencari hotel tempat menginap malam ini. Setelah ketemu, kami langsung check-in dan istirahat sebentar. Baru setelah itu kami lanjutkan lagi menjelajahi kota.

atkinson tower

view kota kinabalu dari signal hill observatory

ntah patung ikan apa

Kinabalu Mountain

Kamis, 18 Agustus 2016, pukul 12:00 siang waktu setempat, kami sudah berada di Bas Stesen Padang Merdeka. Ini adalah tempat mangkal angkutan menuju ke Kinabalu Park. Kinabalu Park adalah sebuah resort di kaki gunung Kinabalu yang dikelola Sutera Sanctuary Lounge. Lebih kurang 1 jam kami menunggu di terminal itu karena mobil harus penuh supaya jalan. Perjalanan dari Padang Merdeka menuju Kinabalu Park memakan waktu sekitar 2 jam. Lumayan tidak terasa juga perjalanannya, karena saya tidur. Hehehe. Pukul 15:00 kami tiba di Kinabalu Park. Cukup ramai orang di sana, sepertinya mereka baru turun dari atas. Kami pun melakukan registrasi, dan setelah itu menuju ke penginapan yang sudah disediakan oleh pihak pengelola untuk kami.

Oh ya, sebelumnya pada saat registrasi kami ditawarkan untuk berbagi guide dengan rombongan pendaki lain. Berbagi guide jelas bukan pilihan yang sulit, karena berarti uang yang keluar lebih murah. Haha. Kami pun langsung setuju. Rombongan yang bergabung dengan kami terdiri dari 6 orang Malaysia asal Kuala Lumpur, 3 orang laki-laki dan 3 orang perempuan, yaitu: Amad, Hazieq, Azreen, Kak Aien, Mariam, dan Fafad. I think it’s gonna be fun to have a trip with new friends.

Kami mulai mendaki pada esok harinya, 19 Agustus 2016. Setelah sarapan, kami berjumpa dengan rombongan teman-teman baru serta 2 orang guide kami yang saya lupa namanya. Pukul 9:00 kami sudah siap semua dan mulai jalan menggunakan angkutan mobil menuju ke Tampilahan Gate. Dari sinilah penderitaan itu dimulai. Perjalanan awal-awal saja sudah menyiksa, treknya terus menanjak, sedikit sekali yang rata. Untungnya, jalannya sudah diperbagus dengan dipasang anak tangga. Untuk pemandangan di kiri-kanan, sepertinya tidak terlalu banyak, hanya pohon-pohon dan dinding batu. Serta tangga. Sekitar pukul 12:15 kami tiba di Pos Layang-layang dan berhenti untuk makan bekal yang kami bawa dari bawah tadi. Pos-pos yang kami jumpai sepanjang jalan saya kira cukup terawat, ada toilet dan airnya jalan dan bersih, juga tidak banyak tulisan-tulisan vandalisme di sana. Pihak pengelola sepertinya benar-benar membelanjakan uang registrasi yang mahal itu dengan sangat baik. Setelah makan dan cukup istirahat, kami pun melanjutkan lagi perjalanan menaklukkan anak tangga yang seperti tidak habis-habisnya itu.

depan tampilahan gate

Pukul 15:30 saya tiba di Laban Rata, ada yang sudah tiba duluan, ada juga yang tiba belakangan dari saya. Si Adit so sweet sekali mau nungguin saya di lapangan sebelum masuk Laban Rata itu. 😘 Laban Rata adalah guest house/penginapan yang disediakan pengelola bagi para pendaki. Tidak mewah, tapi cukuplah untuk melindungi pendaki dari dinginnya udara gunung di kala malam. Di sana ada kasur, shower dengan air panas (yang (sepertinya) rusak), dan tempat makan presmanan alias all-you-can-eat. Fyeah!

pintu masuk Laban Rata

pintu masuk Laban Rata

Pukul 17:00 makan malam sudah disediakan. Kami turun dari kamar ke tempat makan di bawah untuk makan. Beres makan, kami briefing sebentar dengan guide kami membahas perjalanan tengah malam nanti dan segala persiapannya. Sekitar pukul 21:00 kami sudah tidur semua, kecuali Mariam yang bercerita belakangan kalau malam itu dia tidak tidur sama sekali. (Wow!)

Sabtu, 20 Agustus 2016, pukul 02:00 dini hari kami sudah siap di bawah untuk sarapan. Setelah cukup mengisi tenaga, kami pun memulai perjalanan ke puncak. Awalnya kami jalan berbaris dalam rombongan, namun lama-kelamaan terpisah juga. Di depan, grup Amad, Azreen, Adit, dan Mariam, serta satu orang guide kami sudah jauh nggak kelihatan; sedangkan di tengah saya sendirian, membaur dengan rombongan-rombongan lain; lalu di belakang ada grup Kak Aien, Haziq serta tunganannya Fafad, serta satu lagi bapak guide kami. Trek setelah batas vegetasi hutan adalah batu-batuan besar. Trek yang cukup enak saya kira, jika dibandingkan dengan gunung yang treknya kerikil atau pasir. Karena kalau trek batu keras begini kaki kita tidak perlu terperosok setiap kali melangkah, sehingga tenaga bisa lebih hemat. Pos terakhir adalah Pos Sayat-sayat. Di sini para pendaki yang hendak melanjutkan perjalanan menuju puncak harus menunjukkan kartu tanda pengenal yang dibagikan pada saat registrasi di bawah kemarin. Pos ini menandakan bahwa pendaki sudah tinggal separuh jalan menuju puncak. Saya tiba Sayat-sayat sekitar pukul 03:50, dan tiba di Low’s Peak, titik tertinggi gunung Kinabalu pada pukul 06:10. Saat itu matahari sudah terbit di sebelah timur, menyapa kami dengan warna cerah yang hangat, bertukar shift dengan bulan dan bintang yang menemani kami semalaman dan kabut malam yang bikin menggigil.

Puas menikmati keindahan ciptaan Tuhan yang luar biasa, kami pun mulai turun. Pukul 09:00 kami tiba di Laban Rata dan langsung sarapan/makan siang. Beres makan kami langsung bersih-bersih kamar dan check-out pukul 10:00. Perjalanan turun ini ternyata sama saja menyakitkannya dengan waktu naik. Betis, paha depan, paha belakang, punggung, bahu, dan sebagian besar otot-otot yang lain sudah mencapai limit dan pada teriak-teriak minta ampun. Setelah 4 jam siksaan tiada henti akhirnya kami tiba di Tampilahan Gate dan langsung menuju ke Kinabalu Park. Sesampainya di Kinabalu Park rombongan kami pun harus rela berpisah. Teman-teman yang lain sudah mem-book angkutan mereka untuk malam nanti, sedang saya dan Adit masih harus segera mencari angkutan di depan yang menuju Kota Kinabalu. Karena kalau tidak cepat, bisa kehabisan angkutan kita.

Aaahh…. Terima kasih, Kinabalu. Suatu pengalaman yang menyenangkan bisa main-main ke sini. Semoga bisa bertemu lagi di lain waktu. Buat temen seperjalanan kali ini, Adit, makasih sudah bikin perjalanan jadi nggak jelas ya. Hahaha. Makasih juga buat temen-temen baru asal Malaysia, Amad, Hazieq, Azreen, Kak Aien, Mariam, dan Fafad. Kami beruntung bisa jalan bareng kalian. Tidak lupa makasih juga untuk Prayoga Dwigatama yang udah ngingetin untuk bikin tulisan ini. Akhir-akhir ini semangat nulis udah menurun drastis memang nih. Hehe. Sayang sekali kemaren dirimu gak ikut ke Kinabalu. Kayak ada yang kurang jadinya. Huft. Semangat kuliahnya.

Salam Lestari!

Mahameru Was Calling, And I Had To Go

Perjalanan mendaki gunung selalu menyenangkan, dan terima kasih Tuhan, akhirnya kesempatan itu datang lagi. Rencana mendaki kali ini bisa dibilang cukup dadakan. Sebab itulah beberapa teman yang coba diajak nggak bisa, karena sudah ada rencana lain. Akhirnya saya coba memberanikan diri untuk berangkat sendirian dengan ikut open trip. Saya pikir kayaknya seru juga kalo liburan, selain ke tempat baru, juga sama orang yang bener-bener baru. Let’s get lost!

Kamis, 5 Mei 2016, saya sudah di Malang. Saya sudah selesai sarapan serta check out dari hotel pukul 08:30 pagi karena pukul 09:00 dapet kabar dari Climax Adventure Organizer sudah harus kumpul di depan Stasiun Kota Baru Malang sebagai tempat meeting point. Oh ya, Climax adalah penyelenggara open trip yang saya pilih karena murah kuota pesertanya masih available dan jadwalnya juga cocok. Pukul 08:45 saya sudah stand by di taman depan stasiun, dan ternyata sampai 2 jam menunggu belum ada yang dateng. Saya coba telfon kontaknya Climax, susah juga dihubungin. Hati ini pun was-was, ini saya kena tipu apa ya? Haha. Pukul 11:00 akhirnya temen-temen dari Climax ngumpul. Ada 4 orang: mbak Sisca Bonces dan mbak Wina yang ngakunya mirip Dian Sastro, mereka dari Climax, serta mas Arwan, dan mas Amin, mereka juga adalah peserta open trip ini. Menyusul kemudian seorang lagi dari Climax, mas Iyas. Setelah kenalan dan ngobrol-ngobrol sebentar, kami berenam pun berangkat dengan angkot menuju Semeru. Yeah!

Eits ternyata belum! Haha. Kami masih berhenti lagi untuk mengganti kendaraan dengan jeep, dan menunggu 3 orang peserta lagi di Tumpang. Pukul 13:30 akhirnya anggota yang akan berangkat lengkap setelah mas Ipul, mas Bima, dan mas Rio alias Cikung alias Pongki bergabung dan kami langsung jalan. Sesampainya di Ranu Pane, kami disambut oleh hujan gerimis. Kondisi padat merayap, karena memang lagi musim mendaki. Pendakian Semeru sendiri baru dibuka pada 1 Mei kemarin setelah sempat ditutup untuk rehabilitasi kondisi gunung. Setelah mendaftar dan ikut briefing yang bikin parno, ternyata kami harus menunggu lagi berjam-jam untuk mendapat tiket. Administrasi pendaftaran Semeru sekarang katanya sih sudah makin ribet. Cerita-cerita sama pendaki lain, ternyata ada yang sudah menunggu 1 hari dan belum juga dapat tiket. Ah… jadi was-was lagi nih. Ini jadi naik gak ini? Haha.

Akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga. Kami beruntung karena “cuma” menunggu 4 jam dan tiket sudah didapat. Pukul 20.00 kami start menuju Ranu Kumbolo. Estimasi waktu sekitar 6 jam perjalanan untuk sampai di sana. Ternyata tidak sampai 5 jam kami sudah sampai di danau yang selama ini keindahannya cuma bisa dilihat dari tv atau internet tersebut. Di sana sudah banyak tenda berdiri. Dua lokasi pendirian tenda yang ada di Ranu Kumbolo, di bawah Tanjakan Cinta dan di turunan setelah Pos 4, dua-duanya sudah penuh. Di tengah malam, sambil gemetar karena kedinginan, kami mendirikan tenda. Tanpa makan atau minum yang anget-anget dulu, kami langsung tidur aja setelahnya, meringkuk menahan dingin dan mengistirahatkan badan di dalam sleeping bag masing-masing.

Esoknya, sekitar pukul 06:00 saya sudah bangun dan mendapati di luar udara sangat amat dingin, danau berselimut kabut tebal, matahari sudah nongol dikit, namun dari lokasi tenda kami tidak dapat view-nya. Hiks. Saya dan teman satu tenda, mas Arwan dan mas Amin, jalan keluar untuk menikmati suasana pagi Ranu Kumbolo. Bener-bener indah ciptaan Tuhan: biru air danau, hijau bukit-bukit di sekitarnya, ditambah kicau burung di pagi hari. Semua sangat cantik, asri, sangat amat bikin otak dan jiwa rileks. Semoga tempat ini masih bisa dinikmati anak cucu kita kelak. Amin.

Kembali ke tenda, kami pun mempersiapkan sarapan. Suasana ini, mempersiapkan makan sama-sama, makan sama-sama, walaupun menu makanannya seadanya, tapi rasanya nikmat sekali. Apalagi dengan view indah di depan sana itu, bikin nggak mau beranjak. :’)

rakum1

rakum2

Matahari makin naik, kami pun harus juga naik menuju puncak. Pukul 11:30 kami jalan, melewati Tanjakan Cinta yang terkenal akan mitosnya itu, melewati Oro-oro Ombo, ladang bunga verbena (bukan lavender seperti perkiraan banyak orang awam termasuk saya awalnya), melewati bukit-bukit yang ngeselin karena nanjak terus (you don’t say :D), dan akhirnya sampai di Kalimati, lokasi camp site terakhir sebelum puncak. Kami mendirikan tenda sambil ujan-ujanan. Setelah berdiri, sebagian dari kami langsung saja istirahat di dalamnya saat sebagian yang lain mengambil air di Sumber Mani. Lumayan ngeselin juga jalan ke sumber air ini. Banyak turunan, yang berarti nanti pulangnya akan banyak nanjak, dan sambil bawa air. Haha-hikshiks. Pulang ke tenda, kami langsung makan malam, selesai makan langsung istirahat karena summit attack akan kami mulai lebih awal guna menghindari antrian pendaki.

Pukul 11:15 kami sudah bangun, sudah makan, sudah mempersiapkan perbekalan, kami sudah sangat siap untuk menggapai puncak Mahameru. Yeah! Eh tapi ada satu orang yang nggak ikut muncak: mbak Dian Sastro idola kita, bukan karena nggak pengen, tapi karena sakit. Sangat disayangkan, tapi tentu tidak mungkin juga dipaksakan. Akhirnya hanya 8 orang dari kami yang jalan. Belum jauh kami berjalan menuju puncak, sudah ketemu antrian di depan. Ternyata sama aja seperti jalanan kota besar di hari libur panjang, macet. Haha-hikshiks. Trek awal masih relatif ringan karena berupa tanah, yang mana agak lembab karena hujan sore tadi. Setelah melewati batas vegetasi, trek berganti pasir dan kerikil yang lumayan berat. Benar-benar menghabiskan tenaga. Matahari sudah terbit sebelum jam 06:00. Sayang di ufuk timur sana sedang ada hujan badai sehingga awan gelapnya menutupi matahari.

Saya jadi yang paling akhir dari tim kami yang sampai puncak. Saya banyak berhenti karena kepala pusing dan jantung berdebar kencang. Berdasarkan pengalaman terakhir saya naik Rinjani yang sangat menyiksa, kali ini saya bawa persenjataan yang cukup untuk sampai atas: coklat, madu, dan air hangat. Jadi setiap berhenti saya bisa makan, minum, lalu tidur sebentar sebelum jalan lagi. Haha. Saya sampai di puncak sekitar pukul 07:30, dan disambut sama teman-teman. What a feeling! Rasanya seperti menjadi juara apaaa gitu. Bangga, senang, terharu, bahagia, puas. Sempat nggak percaya berada puncak gunung lagi, melihat pemandangan luar biasa seperti ini lagi. Saya pun mencoba menggunakan semua memori di otak dan di hape untuk mengabadikan momen ini walaupun nggak akan mungkin cukup.

mahameru1

Kami turun setelah puas menikmati suasana menyenangkan di atas sana. Turun pun ternyata ngantri karena di jalur sempit yang hanya bisa dilalui satu jalur itu masih banyak pendaki yang mau naik ke atas. “Pendakian kali ini termasuk ramai, lebih ramai dibanding tahun lalu,” kata mas Iyas. Kami sampai di tenda di Kalimati setelah berjalan sekitar 2 jam. Setelah makan makanan buatan mbak Dian Sastro yang nikmatnya tiada tara, kami pun langsung tidur, mencoba mengistirahatkan badan yang lelahnya bukan main. Setelah bangun, kami langsung beres-beres peralatan dan bongkar tenda. Sekitar pukul 13:00 kami pun jalan pulang. Pukul 15:00 kami sampai di Ranu Kumbolo, kemudian beristirahat sejenak sambil kembali menikmati pemandangan indah di depan mata kami. Setelah lebih kurang satu jam beristirahat, kami lanjut lagi. Perjalanan dari Ranu Kumbolo menuju Pos 1 ini lumayan menguras perjalanan juga, karena memang tidak hanya turunan, masih banyak tanjakan yang harus dilahap. Karena sudah lelah, konsentrasi sudah berkurang drastis, banyak dari kami yang jatuh, terpeleset, atau kepala terantuk pohon melintang di atas. Hahaha. Sakit sih, tapi lumayan bisa bikin ketawa. Hahaha.

Sekitar pukul 18:30 kami semua sampai di Ranu Pane dengan selamat, sehat sentosa. Selesai sudah perjalanan kali ini. Makasih buat teman-teman dari Climax Adventure Organizer, Mas Iyas, Mbak Bonces, dan Mbak Wina alias Dian Sastro, yang sukses membawa kami naik dan turun Semeru dengan selamat, sehat, tidak kurang suatu apa pun. Makasih juga buat Mas Arwan, Amin, Mas Ipul, Bima, dan Mas Rio alias Cikung alias Pongky yang benar-benar membuat perjalanan yang berat ini jadi terasa ringan. Benar-benar pengalaman yang akan sulit dilupakan.

Salam Lestari!

Akhirnya Kesampaian – Rinjani

If you want to go fast, go alone
If you want to go far, go together
–African Proverb

Mendaki gunung, perjalanan menanjak padang rumput, sabana, atau hutan. Sebagian orang menganggap itu bukanlah liburan karena begitu melelahkan.

Padahal mendaki gunung berbeda dengan destinasi liburan lain seperti, katakanlah, ke pantai. Memang melelahkan, karena ada proses persiapan fisik terlebih dahulu sebelum nanjak yang membutuhkan pengorbanan waktu serta butuh perjuangan melelahkan melampaui batas diri sendiri demi mencapai puncak. Namun, setelah itu semua kita lalui dan kita sampai di puncak, lalu kita melihat sekeliling, yang kita lihat akan menjadi sesuatu yang sangat berkesan, sangat indah, dan sangat mahal.

Setelah cuma bisa bercita-cita mendaki gunung sejak lama, akhirnya minggu lalu kesempatan itu juga. Bersama dengan tiga orang sohib sekantor: Adit, Aziiz, dan Yoga, saya mendaki Gunung Rinjani, gunung berapi tertinggi kedua di Indonesia. Kami beragkat terpisah: saya, Adit dan Aziiz beragkat dari Balikpapan, sedangkan Yoga akan bergabung di Lombok dari Semarang.

Pesawat dari Balikpapan berangkat sekitar pukul  12.15, transit di Bali 2,5 jam, dan akhirnya sampai di Pulau Lombok pukul 17.15. Di bandara kami telah ditunggu oleh Yoga, yang ternyata sampai duluan dan driver kami, Muhammad Sihap. Si mas satu inilah yang akan mengantar ke base camp Pak Tutiq di Sembalun. Pak Tutiq adalah salah seorang agen penyedia jasa guide, porter, dan driver bagi para pendaki Rinjani. Kami kebetulan mendapat kontaknya dari teman yang baru saja mendaki Rinjani sebelumnya.

Kami sampai di base camp Pak Tutiq pukul 22.00, dan disambut oleh Pak Tutiq sendiri. “Selamat datang di Lombok, mas…” katanya dengan suara khasnya yang kalem. Malam itu kami habiskan dengan ngobrol-ngobrol mengenai rencana pendakian dan akomodasi yang diperlukan. Setelah melalui banyak pertimbangan, kami akhirnya sepakat untuk mengambil keputusan sulit: saya, Aziiz, dan Yoga mengambil program pendakian 4 hari 3 malam dan akan turun lewat Senaru, sedang Adit (yang karena kedudukannya di kantor, harus segera ke Bali pada hari Selasa) mengambil program pendakian 3 hari 2 malam dan akan turun kembali ke Sembalun. Dan karenanya kami menyewa dua orang porter untuk mengangkut kebutuhan logistik, tenda, dan perintilan lainnya.

Keesokan harinya, Sabtu, 1 Agustus 2015, kami bangun cukup cepat karena memang berencana untuk berangkat awal. Setelah sarapan, registrasi, dan persiapan lainnya, kami pun memulai pendakian. Pukul 08.15 kami mulai jalan melalui trek awal yang berupa halaman warga, padang rumput, dan sabana, yang masih relatif landai.

muka-muka polos yang belum sadar medan berat sudah menanti di sana….

Di sepanjang perjalanan menuju Pos 1 kami berpapasan dengan banyak pendaki lain. Ternyata bulan-bulan ini adalah bulan yang cukup ramai. Setelah berjalan selama lebih kurang dua jam, akhirnya kami sampai di Pos 1. Di sini kami jumpai sudah banyak pendaki yang sudah lebih dulu sampai. Kami istirahat sebentar saja di sini. Setelah makan cokelat, minum air secukupnya, semprot-semprot sunblock (mentel kali pun :D), dan oles-oles counterpain, kami pun mulai jalan lagi.

Pos 2 jaraknya terlihat cukup dekat dari Pos 1. Namun treknya sendiri sudah lebih banyak menanjak. Kaki pun mulai kelelahan dan kami mulai banyak istirahat. Makin lelah apalagi dengan carrier yang cukup berat karena diisi pakaian dan akomodasi untuk liburan di Bali setalah turun nanti. Heuheu. Sekitar satu jam kami jalan sebelum akhirnya kami sampai di Pos 2. Sudah banyak juga pendaki yang ngetem di pos 2 yang cukup luas ini. Di sini para pendaki lain sudah pada yang makan siang. Kami sendiri, berdasarkan rekomendasi dari Pak Porter, memutuskan untuk makan siang di Pos 3 nanti.

Ternyata belum sampai di Pos 3 kami sudah makan siang. Di bawah pohon rindang, Pak Porter yang tadi jalan duluan sudah menggelar tikar dan masak-masak. Pak Porternya bilang kalau di depan jalannya masih banyak menanjak dan kami lebih baik makan dulu. Sambil menunggu makanan selesai disiapkan, kami pun tidur seadanya.

Selesai makan dan temen-temen pada sholat, kami pun melanjutkan perjalanan lagi. Sesampainya di Pos 3, kami menjumpai sekawanan monyet Rinjani yang katanya suka mencuri. Macam kancil ya. Pos 3 adalah pos terakhir sebelum memasuki 7 Bukit Penyesalan Rinjani yang termahsyur itu. Disebut bukit penyesalan karena hanyalah tanjakan terjal dan seperti tak berujung yang akan dilalui pendaki. Membuat para pendaki pun menyesal: untuk maju berat, untuk turun kembali sudah terlalu jauh. Kami sendiri guyon, bahwa sebelum masuk Bukit Penyesalan saja kami sudah pada menyesal. Haha.

Setelah sekian lama mendaki dengan penuh penyesalan, saya dan Aziiz sampai di Plawangan Sembalun. Di sana kami (atau mungkin lebih tepatnya Pak Porter) akan membangun tenda untuk bermalam dan istirahat sebelum summit nanti subuh. Kabut sudah datang namun Adit dan Yoga belum. Dan tenda kami sudah tidak terlihat lagi. Akhirnya kami keluar dan menunggu mereka di dekat pintu masuk Plawangan Sembalun. Lebih kurang sejam lamanya kami menunggu sebelum akhirnya mereka sampai. Napas pada tergopoh-gopoh, dan muka udah pada kusut. Tidak banyak obrolan malam itu karena semua sudah sangat kelelahan.

Suhu sangat dingin malam itu. Saya memakai 2 lapis baju, 1 sweater, 1 jaket tebal, sarung tangan, serta 3 lapis celana dan 3 lapis kaus kaki, dan meringkuk dalam sleeping bag… dan masih gemeteran. Sayang tidak bawa termometer untuk mengukur dinginnya suhu malam itu. Brrr….

Minggu, 2 Agustus 2015, pukul 01.30, kami bangun dan bersiap-siap untuk summit menuju puncak Rinjani. Kami diberi sarapan berupa kue panekuk buatan Pak Porter. Setelah sarapan seadanya itu, kami mulai jalan dipimpin oleh Pak Porter. Jam menunjukkan pukul 02.05. Trek menuju puncak ini lebih ekstrim dari pada trek yang kami lalui tadi siang: pasir, dan bebatuan. Tiap satu langkah maju yang diambil diberengi dengan setengah langkah mundur. 

2 jam pertama berlalu. Yoga tertinggal cukup jauh di belakang. Dia sempat bilang perutnya tidak enak. Kami pun meminta Pak Porter untuk tidak lagi memimpin kami di depan, tapi menunggu dan menemani Yoga di belakang. Saya, Adit, dan Aziiz lanjut. Tidak lama berjalan, Aziiz menghilang. Dia menginggalkan saya dan Adit yang tergopoh-gopoh. Kemudian selanjutnya Adit yang ninggalin saya: “Wah, Yo, langit udah merah-merah!” katanya, sebelum dia akhirnya menghilang juga. Saya sendiri sudah sangat kepayahan. Kepala saya pusing, jantung saya berdebar kencang. Saya mencoba untuk memaksa juga sudah tidak bisa. Saya perbanyak istirahat dan tiduran di bebatuan itu. Tidur di bebatuan gunung sangat nikmat dan nyaman ternyata, bahkan lebih nyaman dari kasur di rumah.

Pukul 06.20 pagi. Matahari sudah mengintip dari balik awan di ufuk timur. Saya yang baru 3/5 jalan menuju puncak ini pun harus menerima fakta untuk tidak melihat terbitnya matahari dari puncak. Saya mencari batu besar untuk duduk dan menikmati momen tersebut dari sana. Ah.. suasananya begitu khidmat. Sunyi. Orang-orang di puncak sana juga pasti sangat menikmati momen ini. Saya iri dengan mereka.

Selama setengah jam saya duduk di batu itu. Banyak yang saya lamuni. Saya memikirkan keluarga saya, orang tua dan adik-adik saya, saya memikirkan kehidupan saya dan apa-apa yang sudah saya kerjakan selama ini. Tiba-tiba mata saya kelilipan. Air mengalir keluar dari mata saya. Saya usap, dan saya coba menikmati lagi momen tersebut.

Setelah puas, saya pun lanjut lagi perjalanan untuk sampai ke puncak. Saat itu orang-orang yang di puncak sudah berbondong-bondong turun, menghasilkan debu yang sangat mengganggu. Saya lebih banyak lagi istirahat, karena harus menghindari debu-debu itu. Selain itu saya semakin pusing, dan jantung saya berdebarnya semakin kencang, dan air juga nggak ada. Yang bawa air udah pada duluan ke atas. Thanks to mas bule yang entah dari negara mana dan juga porter yang baik hati sudah memberi saya air sehingga nggak pingsan. 

Dalam perjalanan yang memusingkan itu saya bertemu dengan 4 orang mahasiswa yang juga masih berjuang nanjak ke atas. Setelah sempat ngobrol sebentar, mereka pun mendahului saya. Tidak lama setelah itu, saya mendapati peristiwa yang mencengangkan! Adit dan Aziiz turun dari atas! (Ya masak turun dari bawah?!) Mereka turun duluan dan tidak menunggu saya, dan Yoga juga mungkin, kalau dia masih berusaha di bawah (saya sendiri masih belum liat dia dari tadi) di puncak. Saya nggak percaya sekaligus kecewa. Huft.

Setelah 4 jam lagi mendaki penuh perjuangan, akhirnya saya sampai di puncak. Jam di tangan saya menunjukkan waktu pukul 10.05. Yang menyambut saya tidak lain adalah 4 orang mahasiswa yang berpapasan dengan saya sebelumnya. Mereka memberi saya air dan roti (dan marimas!) Ah senang dan puas sekali rasanya bisa sampai puncak. Saya pun merekam semua momen itu di memori saya dan memori handphone. Semuanya luar biasa: orang-orangnya, suasananya, pemandangan puncak Rinjani yang menankjubkan: gumpalan awan, danau Segara Anak di bawah, dan pantai-pantai pulau Lombok plus puncak Gunung Tambora di sebelah. Saya bersyukur karena semua ini yang saya nikmati ini sangat, sangat mahal, tidak semua orang bisa menikmati momen ini.

B-)

  

indah aja apa indah banget?


Setelah merasa puas, saya pun turun bersama 4 orang mahasiswa itu. Belum jauh saya berjalan, saya melihat di jalur bebatuan ada Yoga yang masih berusaha sampai puncak. Dia sudah dekat. Saya pun menunggunya, sementara keempat teman baru saya turun. Saya mengapresiasilah semangat Yoga. Saya tadinya pikir dia sudah menyerah dan pulang ke tenda. Pukul 11.30 dia sampai di puncak.

Kami pun menikmati momen di atas bersama-sama. Yoga bercerita kalau dia sempat BAB di bawah sana. Dia bilang dia sepertinya terkena diare. Untungnya tidak terjadi apa-apa pada si kawan yang mendaki sendirian ini.

Cukup puas menikmati puncak Rinjani, kami pun turun bersama-sama. Dalam keadaan haus, lapar, pusing, dan lelah, kami pun istirahat sambil jalan (bukannya jalan sambil istirahat :D). Sekitar pukul 15.00 kami sampai tenda. Kami pun langsung makan dan minum air banyak-banyak. Adit dan Aziiz yang sudah sampai duluan ada di dalam tenda dan tidur. Setelah selesai makan, saya langsung masuk tenda dan tidak keluar lagi sampai besok paginya.

Esoknya, Senin, 3 Agustus 2015, saya bangun lebih dulu dari yang lain. Adalah ibu-ibu dan mbak-mbak orang Korea yang cukup berisik yang membangunkan saya pagi itu. Sudah terlanjur bangun, saya pun berjalan-jalan dan coba menikmati pagi yang dingin itu. Tak lama yang lain juga bangun dan kami mengabadikan momen tersebut dengan foto-foto bersama matahari yang sepertinya juga baru bangun. 🙂

salam lestari!

 

Puas foto-foto kami kembali ke tenda untuk sarapan. Selesai sarapan kami langsung beres-beres tenda dan bersiap untuk turun. Pukul 08.00 kami turun bersama-sama lewat jalur Sembalun. Sebelumnya kami sudah putuskan untuk membatalkan rencana ke Segara Anak dan turun lewat Senaru. Pertimbangannya selain fisik yang sudah habis adalah persediaan logistik makanan yang sepertinya sudah tidak banyak lagi, terutama karena banyak yang tumpah tadi malam.

Perjalanan turun tentu lebih cepat dari pada saat nanjak kemarin. Namun Aziiz yang kemarin pada saat nanjak lajunya cukup cepat sekarang menjadi yang paling lambat. Dengkulnya sudah aus sepertinya. Dia pun berubah menjadi nini-nini sekarang.

nini-nini

 
Kami sampai di base camp Pak Tutiq pukul 16.00. Tidak banyak orang di sana. Cuma kami berempat, Pak Porter yang setelah diberi tip langsung menghilang, dan beberapa anak muda lokal. Kami masih menunggu driver, Muhammad Sihap, di sana. Dia yang akan menjemput dan mengantar kami pulang, kali ini lewat pelabuhan Lembar karena tujuan liburan kami selajutya adalah Bali. Setelah si mas driver tiba kami langsung menaikkan carrier ke mobil dan berpamitan ke Pak Tutiq dan yang lainnya. Dan petualangan kami pun berakhir.

Saya janji pada diri sendiri untuk kelak kembali ke Rinjani. Saya masih penasaran dengan danau Segara anak dan trek Senaru. Selain itu saya rasa saya pasti akan kangen dengan suasana pegunungan yang asik ini: semua orang ramah dan saling membantu. No trick. Semuanya punya tujuan yang sama yaitu sampai ke puncak. Kehidupan sehari-hari di kantor tidak akan seperti ini saya kira. Terima kasih Tuhan, sudah melindungi kami semua dalam perjalanan naik dan turun, hingga bisa kembali ke Balikpapan dengan selamat. Terutama terima kasih karena sudah menciptakan alam yang luar biasa indah untuk kami nikmati.

let’s….

Silampukau – Dosa, Kota, & Kenangan: Sedikit Review

Silampukau adalah duo folk asal Surabaya yang terdiri dari Kharis Junandharu dan Eki Tresnowening. Mereka sangat fenomenal menurut saya. Mas-mas ini berhasil membuat saya kagum karena cara mereka menceritakan kota Surabaya, tema yang mereka angkat untuk album ini melalui narasi, sangat bagus. Naratif, apa adanya, tidak lebih, namun tetap dramatis. Keren.

Lirik-liriknya (tidak disertakan di dalam album fisik, tetapi bisa diakses di situs Silampukau) disusun dengan sangat hati-hati dan penuh perhitungan saya kira, karena hasil akhirnya adalah sebuah album dengan lagu-lagu yang padat makna dan kaya kosakata. Saya sampai harus nanya mbah Google arti beberapa kata seperti: temaram, jambon, ceracau, lingsir, matrimoni, dan banyak lagi. Saya baru tahu belakangan ternyata mas Kharis adalah jebolah dari jurusan sastra. Ugh!

Dari segi musik saya juga suka. Banyak instrumen yang dipadu menjadi manis: gitar, piano, violin, cello, saxofon, trumpet, trombone, accordion, harmonika, dan banyak lainnya. Semua padu dan pas sehingga narasi yang diceritakan melalui lirik-lirik lagu di sana sampai ke telinga pendengar dengan baik.

  

Lagu favorit saya di album ini adalah “Puan Kelana” yang menceritakan keengganan seorang laki-laki melepas kepergian kekasihnya ke Perancis. Sangat melankolis dan tidak terkesan cengeng. Kemarin waktu pertama muterin lagu ini, saya nggak berhenti: dari malam sampai pagi, sampai malam, dan paginya lagi (lebay :D). Saya juga suka lagu “Si Pelanggan” yang menceritakan tentang Doly, lokalisasi di Surabaya yang sekarang sudah dibubarkan oleh pemerintah (atau belum?) Lagu “Doa 1” juga menarik: menceritakan keinginan satir mereka-mereka yang ingin menjadi anak band terkenal namun nggak kesampaian. Sedikit curcol, saya juga sempat mengalami itu. Haha. Lagu “Balada Harian” yang menceritakan pemikiran ketika baru bangun pagi dan “Lagu Rantau (Sambat Omah)” yang menceritakan kisah tidak klise tentang seorang perantau yang kangen rumah juga saya suka. Secara umum semua lagu di album ini bagus dan sangat gampang untuk disukai apalagi setelah membaca lirik-liriknya.

Sukses terus untuk Silampukau. Semoga tidak berubah murahan seperti Ahmad…. 😀