Monthly Archives: April 2013

F*** you, Robin!

Aku inget beberapa tahun lalu waktu aku dibikin patah hati sama cewek. Kalo nggak salah tahun 2009. Untuk pertama kalinya aku ngerasa hancur berkeping-keping waktu dia ninggalin aku dan pergi sama cowok lain. Sakitnya bukan main pokoknya. Hampir setahun waktu yang aku butuhin sampe aku bisa keluar dari rasa depresi saat itu.

Bertahun-tahun setelah itu aku dibikin patah hati lagi. Kali ini sama cowok. Namanya Robin Van Persie. Dia bikin hatiku hancur sehancur-hancurnya saat dia pindah dari Arsenal ke Manchester United.

RobinFPesie

Sebenernya RVP bukanlah siapa-siapa pas pertama dibeli Arsenal dari Feyenord. Sama kayak kebanyakan pemain-pemain baru yang datang ke Arsenal. Mereka rata-rata adalah pemain muda potensial yang kemudian akan disulap oleh om Arsene Wenger menjadi pemain bintang. We don’t buy stars, We make them.

Awal-awal berkarir di Arsenal, RVP akrab dengan cedera. Tapi om Wenger tetap percaya padanya. Kontrak RVP terus diperpanjang untuk jangka panjang, dan gajinya terus dinaikin seiring dengan peran vitalnya di klub.

Dan musim 2011/2012 adalah puncak karir RVP di Arsenal. Musim yang fantastis dan bombastis serta spektakuler. Dia main bagus, cetak banyak gol, jadi top scorer, dan menjadi pemain terbaik di liga (versi PFA). Tapi cukup musim itu saja om Wenger merasakan buah hasil investasinya. Musim berikutnya dia pindah ke klub yang (menurutnya) bisa kasih dia gelar yang dia idam-idamkan. Dan sedihnya, kenyataannya sih emang bener begitu.

Dia sukses dapet gelar yang dia idam-idamkan di klub barunya itu, trofi English Premier League. Dia juga dapet gaji besar, 1,5x lebih besar dari gajinya saat di Arsenal. Tapi kalo boleh bertanya, setelah itu apa? Setelah dapet piala EPL apa?

Kalo boleh aku mau berandai-andai. Semisal dia tetep stay di Arsenal, mungkin RVP bisa mecahin rekor gol Henry kalo dia terus main di top perform. Dia udah ngoleksi 130an gol sebelum pergi, lebih dari setengah jumlah gol Henry. Who knows, right? Dan kalo suatu saat RVP berhasil bawa Arsenal juara, dia nggak dapet medali, dia bakal respect dari semua orang. Dia bakalan menjadi legenda beneran kalo dia stay di Arsenal. Mungkin bisa sejajar dengan legenda Arsenal yang lain macam Denis Bergkamp dan Thierry Henry. Dia mungkin akan dibuatin patung di luar stadion, dan siapa tau dia bakal menangin banyak gelar pribadi. Agak lebay ya? Ya tapi emang kemungkinan kesana ada. But he rushed it, and threw that all away for the silverware and money. RVP mungkin dapet gelar di klubnya sekarang, tapi gak bakal dapet respect. Setidaknya nggak dari aku.

Profesionalisme katanya. Kalo aku bilang sih materialistis!

Aku memang cuma fans biasa yang biasa nonton Arsenal cuma lewat tv, baca berita di internet, kadang-kadang ikut nobar bareng Arsenal Indonesia Supporter, dan sering main PES/FIFA pake tim Arsenall. Aku cuma fans yang sejenis itu. I don’t stand in Robin’s boots. I don’t know what he feels. But one thing for sure, deep down I know he still loves Arsenal. Satu kalimat yang aku quote dari dia pas masih berseragam Arsenal yaitu: “My heart is with Arsenal and I just can’t picture myself in a different shirt.” Menurutku sekarang dia cuma berusaha membohongi dirinya dengan cara membalikkan badan dari klub yang dia cintai untuk suatu hal (aku mau bilang “hal kecil” untuk trofi itu, tapi takut banyak orang yang nggak setuju) dan mengejar hal itu dengan musuhnya. Pernah bayangin gimana kalo pak Habibie itu materialistis dan cuma ngejer prestise dan uang? Nah…. Intinya, I feel sorry for him (RVP).

Dari sini aku belajar sesuatu. Jangan terlalu mencintai dan mengidolai pemain bola. Mereka itu adalah pemain profesional yang dibayar untuk bermain bola. Bahkan ada yang terlalu profesional kayak Robin Van Persie. Mereka hebat, mereka gak akan mau merugi cuma untuk klub dan fans. Well, tentu nggak semua pemain. Masih ada Dennis Bergkamp, Fransesco Totti, Alex Del Piero, Paolo Maldini, Ricardo Kaka, Stephen Gerrard, dll aku gak bisa sebut semua, yang sangat loyal kepada klub dan layak untuk dicintai dan diidolai.

Kita sebagai fans cuma bisa milih satu klub, mencintai klub itu, pelajari sejarahnya, nikmatin permainannya. Kalau bisa menang gelar, itu mah bonus. Yang penting permainannya ajaib dan bikin ketagihan untuk nonton tiap pekan. Kalau pun mau mengidolai, memuja, mencintai pemain tertentu boleh, asal liat dulu kontribusinya untuk klub. Hehehe. Sama kaya tulisan filosofis yang dulu pernah tertera di logo Arsenal, Victoria Concordia Crescit. Atau bahasa Palembangnya, Victory comes through harmony.

Untuk Robin van Persie (kalo-kalo secara ajaib dia baca blog ini dan nyewa seorang translator buat bacain ini ke dia) aku mau bilang: Congratulation. Congratulation on your trophy you dreamt for so long. You are the most professional player I’ve ever known. VERY, VERY PROFESSIONAL.

(Tulisan ini sedikit banyak terinspirasi dari tulisannya The Funny Gunner. Buat fansnya beliau maaf ya. Hehe)

Advertisements

Don’t Stop Bullying

Nasib jadi anak baru sudah tentu selalu di-bully. Begitulah adanya dan akan terus begitu sampai matahari terbit dari barat.

Banyak yang menganggap kalau hal tersebut negatif. Hal tersebut bukanlah hal yang sepenuhnya negatif kalo saya boleh bilang. Pembullyan terhadap para anak baru ini penting untuk menempah mental para anak baru agar menjadi mental yang lebih besar dan kuat dalam menghadapi tantangan ke depannya. Kalo menghadapi para “anak lama” saja mental mereka (anak baru) udah ciut, bagaimana menghadapi tantangan yang lebih besar nanti?

Hanya saja yang perlu jadi catatan, terutama untuk “anak lama” yang akan membully anak barunya, adalah lebih memikirkan batas-batas kewajaran. Tidak perlulah sampai melakukan tindakan fisik yang brutal jika kata-kata sudah cukup untuk mewakilkan maksud dan tujuan yang ingin disampaikan.

Aku akan mengambil contoh keluargaku. Keluargaku adalah keluarga yang baik dan saling menyayangi. Namun dalam hal tertentu pembullyan memang terjadi walau masih dalam batas kewajaran. Seperti tadi sore ketika aku nyetirin mobil satu keluarga lengkap untuk pertama kalinya, mereka membullyku dengan tidak berlebihan. Jadi pas di tengah jalan, sebuah mobil berhenti mendadak di depan kami. Keluargaku tidak langsung kaget dan melampiaskannya dengan menjambak-jambak rambutku dan rebutan menginjak rem secepat mungkin. Mereka hanya berteriak-teriak kencang sambil pegangan bangku. Senang sekali rasanya tidak ada pembullyan yang berlebihan. Mengingat itu adalah pertama kalinya aku yang bawa mobil. Perlu kutambahkan disini bahwa ibuku adalah tipe orang yang was-wasan. Bahkan ketika bapak saya yang nyetir, kata-kata bernada panik sering keluar dari mulut beliau.

Kemudian ada lagi peristiwa pas di jalan nanjak yang kebetulan macet. Keluargaku berteriak sebegitu kencangnya di dalam mobil itu. Memang pas mau jalan, aku agak telat pindahin kaki dari pedal rem ke gas, sehingga mobil mundur dan hampir nabrak mobil yang di belakang kami. Untungnya nggak sampe kena. Cuma raungan klaksonnya saja yang menerbitkan secercah rasa panik di diriku ini. Tapi untungnya keluargaku nggak membullyku secara berlebihan seperti memukulku di ulu hati dan menyuruh push-up. Enggak. Aku cuma diteriakin kenceng-kenceng di telinga oleh 6 orang itu sekaligus. Ditambah dengan suara klakson yang meraung-raung di belakang, aku rasanya cuma ‘sedikit kaget’ aja. Bayangkan kalo aku dibully oleh keluargaku ala-ala seklah pemerintahan semi militer di dalam mobil, bisa makin macetlah jalanan kota Palembang sore itu.

Inti dari tulisan saya ini adalah, pembullyan sejatinya merupakan hal yang perlu demi pendidikan. Tujuannya adalah agar menempah mental seseorang menjadi bertambah kuat. Jadi, mari kita lestarikan pembullyan. Merdeka!

Newbie

Ini adalah blog ketiga yang saya buat. Setelah pertama saya sempat ngeblog di blogspot, dan kedua yang di tumblr. Keduanya sama-sama udah nggak keurus karena males. :p

Alasan saya bikin blog ini karena menurut saya, dengan blog baru akan timbul semangat baru. Ya, saya cuma mau mencari suasana baru dalam menulis supaya tulisan saya bisa lebih berkembang. Yang kemaren-kemaren kan tulisannya agak liar gitu. Hehe. Kita lihat saja nanti, apakah blog baru ini beneran bisa membawa semangat baru buat menulis atau malah nggak keurus kayak blog-blog sebelumnya. Hehehe.

Sekian dulu untuk postingan pertama di sini. Sampai bertemu di postingan berikutnya!