Don’t Stop Bullying

Nasib jadi anak baru sudah tentu selalu di-bully. Begitulah adanya dan akan terus begitu sampai matahari terbit dari barat.

Banyak yang menganggap kalau hal tersebut negatif. Hal tersebut bukanlah hal yang sepenuhnya negatif kalo saya boleh bilang. Pembullyan terhadap para anak baru ini penting untuk menempah mental para anak baru agar menjadi mental yang lebih besar dan kuat dalam menghadapi tantangan ke depannya. Kalo menghadapi para “anak lama” saja mental mereka (anak baru) udah ciut, bagaimana menghadapi tantangan yang lebih besar nanti?

Hanya saja yang perlu jadi catatan, terutama untuk “anak lama” yang akan membully anak barunya, adalah lebih memikirkan batas-batas kewajaran. Tidak perlulah sampai melakukan tindakan fisik yang brutal jika kata-kata sudah cukup untuk mewakilkan maksud dan tujuan yang ingin disampaikan.

Aku akan mengambil contoh keluargaku. Keluargaku adalah keluarga yang baik dan saling menyayangi. Namun dalam hal tertentu pembullyan memang terjadi walau masih dalam batas kewajaran. Seperti tadi sore ketika aku nyetirin mobil satu keluarga lengkap untuk pertama kalinya, mereka membullyku dengan tidak berlebihan. Jadi pas di tengah jalan, sebuah mobil berhenti mendadak di depan kami. Keluargaku tidak langsung kaget dan melampiaskannya dengan menjambak-jambak rambutku dan rebutan menginjak rem secepat mungkin. Mereka hanya berteriak-teriak kencang sambil pegangan bangku. Senang sekali rasanya tidak ada pembullyan yang berlebihan. Mengingat itu adalah pertama kalinya aku yang bawa mobil. Perlu kutambahkan disini bahwa ibuku adalah tipe orang yang was-wasan. Bahkan ketika bapak saya yang nyetir, kata-kata bernada panik sering keluar dari mulut beliau.

Kemudian ada lagi peristiwa pas di jalan nanjak yang kebetulan macet. Keluargaku berteriak sebegitu kencangnya di dalam mobil itu. Memang pas mau jalan, aku agak telat pindahin kaki dari pedal rem ke gas, sehingga mobil mundur dan hampir nabrak mobil yang di belakang kami. Untungnya nggak sampe kena. Cuma raungan klaksonnya saja yang menerbitkan secercah rasa panik di diriku ini. Tapi untungnya keluargaku nggak membullyku secara berlebihan seperti memukulku di ulu hati dan menyuruh push-up. Enggak. Aku cuma diteriakin kenceng-kenceng di telinga oleh 6 orang itu sekaligus. Ditambah dengan suara klakson yang meraung-raung di belakang, aku rasanya cuma ‘sedikit kaget’ aja. Bayangkan kalo aku dibully oleh keluargaku ala-ala seklah pemerintahan semi militer di dalam mobil, bisa makin macetlah jalanan kota Palembang sore itu.

Inti dari tulisan saya ini adalah, pembullyan sejatinya merupakan hal yang perlu demi pendidikan. Tujuannya adalah agar menempah mental seseorang menjadi bertambah kuat. Jadi, mari kita lestarikan pembullyan. Merdeka!

Tagged: , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: