Monthly Archives: May 2013

Football Is Life

Sebagai anak laki-laki yang tumbuh pada era PlayStation, game favorit saya adalah game sepak bola. Baik di PS1-PSX, PS2, PS3, game yang saya paling doyan itu Winning Eleven (WE), Pro Evolution Soccer (PES), FIFA.

Dulu waktu masih belom punya PS, mainnya di rental PS bareng temen-temen. Pulang sekolah pasti langsung cabut ke rental. Uang jajan rela disisihkan demi 1-2 jam yang sangat membahagiakan dalam hidup. Nah, waktu itu siapa yang menang dia nggak bayar uang rental. Yang bayar yang kalah. Dan aku sih cukup bangga dengan bilang kalo aku lebih sering dibayarinnya daripada bayar rental. Hehehe.

Kini, setelah semakin dewasa ternyata kebiasaan taruhan itu masih saja berlanjut. Ternyata pengaruh taruhan itu sangat besar dalam membuat permainan jadi lebih seru. Itu dikarenakan dengan adanya taruhan, adrenalin menjadi terpacu, jantung berdebar-debar menghindari kekalahan, dan faktor tekanan tiada henti dari para teman (atau musuh) yang menonton dari belakang.

Dan hey, saya dan teman-teman saya sekarang taruhannya bukan taruhan uang. Karena taruhan uang itu dosa. Bisa masuk neraka. Kami taruhannya dengan taruhan yang lebih elit. (Atau lebih memalukan).

Salah seorang teman yang kalah teruhan.

Taruhan yang lebih elit.

Advertisements

I Brought You My Three Cheers, The Black Parade, Danger Days, and Conventional Weapons

Hari ini tepat 67 hari semenjak band rock pertama yang saya idolai bubar: My Chemical Romance. 22 Maret 2013 adalah tanggal dimana berita tersebut pertama muncul di situs mereka. MCR nggak ngumumin secara resmi alasan bubarnya mereka. Tapi spekulan di internet banyak yang bilang kalo ada keretakan personel. Ada juga yang bilang kalo mereka bakalan bikin project bareng lagi pake nama yang berbeda, dan sebagainya dan sebagainya. Anyway, semua udah terjadi, nama besar itu udah pensiun sekarang. (hiks)

Sampe sekarang lagu-lagu MCR masih sering banget saya setel di laptop ataupun di hape, sembari membayangkan kenangan-kenangan yang kembali dibawa oleh lagu itu pas pertama kali saya denger dulu. Helena adalah lagu MCR yang saya dengar pertama kali. Waktu itu aku masih SMP dan masih awam sama musik. Biasanya dulu sepulang belajar di sekolah (atau setelah nongkrong dari sekolah) langsung makan dan buka MTV. Banyak video klip yang diputerin MTV hari itu. Tapi pas denger beat yang cepat, distorsi yang maksimal, dan tema kematian yang disajikan oleh video klip Helena, langsung dalam beberapa detik saja aku kesengsem sama mereka.

Banyak banget kenangan sama lagu-lagu MCR. Lagu-lagu MCR secara nggak sadar banyak nyangkut di otak saat terjadi momen-momen tertentu dalam kehidupan aku. All I Want For Christmas Is You, misalnya, langsung terngiang-ngiang di telinga pas dulu lagi ada masalah ama cewek. Padahal waktu itu bulan September atau Oktober, yang berarti Natalan masih lama. Hahaha.

Berikut adalah chart Top 20 MCR’s Greatest Songs versi saya sendiri yang saya buat pas lagi gak ada kerjaan. Lagu-lagunya aku ambil dari album pertama sampai album terakhir, serta unreleased-album Conventional Weapons, dan beberapa lagu single. Susunannya adalah dari #20 yaitu lagu yang bagus, keren, dan berkesan buat aku sampai #1 yaitu lagu yang bagus banget, keren banget, dan berkesan banget tiap kali aku dengerin. Penasaran? Langsung saja kita cekibrot!

20. It’s Not A Fashion Statement, It’s A Deathwish

“….I will avenge my ghost with every breath I take….”

19. The Ghost Of You

“….At the end of the world, or the last thing I see you are never coming home….”

18. All I Want For Christmas Is You

“….Baby, all I want for Christmas is you….”

17. Teenagers

“….They said all teenagers scare the living shit out of me….”

16. Cancer

“….’Cause the hardest part of this is leaving you….”

15. This Is How I Disappear

“….And without you is how I disappear….”

14. Ambulance

“….You don’t know a thing about this life, and we are up for everything it takes to prove we’re not the same as them….”

13. Our Lady Of Sorrows

“….Take my fucking hand, and never be afraid again….”

12. Give ‘Em Hell, Kid

“….If you were here I’d never have a fear….”

11. Famous Last Words

“….I am not afraid to keep on living, I am not afraid to walk this world alone….”

10. Thank You For The Venom

“….You’ll never make leave, I wear this on my sleeve….”

9. I’m Not Okay

“….Forget about the dirty looks, the photograph your boyfriend took….”

8. Boy Division

“….Save me from my self-destruction….”

7. Sing

“….And raise your voice, every single time they try and shut your mouth….”

6. I Don’t Love You

“….When you go, would you have the guts to say….”

5. Headfirst For Halos

“….Well let’s go back to the middle of the day that starts it all….”

4. Helena

“….What’s the worst that I could say? Things are better if I stay….”

3. Welcome To The Black Parade

“….When I was a young boy, my father took me into the city to see a marching band….”

2. The World Is Ugly

“….’Cause the world is ugly, but you’re beautiful to me….”

1. Dead!

“….No one ever had much nice to say I think they never liked you anyway….”

Nah itulah tadi Top 20 MCR’s Greatest Songs versi saya beserta sepenggal lirik lagu untuk mengingatkan lagi kepada lagunya. Ntar rencananya sih kalo ada waktu pengen dimasukin dah tu lagu-lagu di atas dalam CD. Trus dijual deh. Eh. :p

mychemicalromance_lg

MCR On MV ‘Desolation Row’

Hidup Itu Bagaikan Naik Sepedakah?

Kata orang hidup ini bagaikan naik sepeda: kita nggak boleh berhenti mengayuh agar tidak jatuh. Bener nggak ya? Nggak selalu sih kalo aku bilang. Jatuh itu nggak selalu karena kita nggak ngayuh sepeda. Ngayuh sepeda pun bisa bikin kita jatuh. Nabrak becak misalnya, atau ngelewatin lobang di jalan.

Solusi untuk masalah yang pertama tentu adalah ngayuh terus. Jangan capek ngayuh sepedanya.  Simpel aja logikanya. Nah mungkin solusi yang tepat untuk 2 hal selanjutnya adalah dengan milih jalan sepi yang nggak ada becaknya atau milih jalan mulus nggak ada lobangnya. Syukur-syukur kalo ada jalur khusus sepeda di kota kalian.

Old Bicycles

Kita menghayal aja yuk. Bayangin aja kalo kita ini lagi naik sepeda santai sore-sore. Keliling-keliling lingkungan rumah kita gitu, sambil nikmatin pemandangan sekitar kita seperti tanaman-tanaman hias, adek-adek balita yang lagi main di luar rumah sambil disuapin mamanya yang umurnya masih sekitaran 30 tahun, atau juga pemandangan-pemandangan lainnya. Nah, lagi asik sepedaan kayak gitu tiba-tiba ada becak yang melaju kencang keluar dari bibir gang. Nggak ayal kita nabrak becak itu karena mata kita lagi tertuju sama tante-tante yang lagi nyuapin anaknya makan. Disini saya nggak bermaksud menyalahkan mata kita yang melihat pemandangan sekitar ya, yang salah tentu adalah abang becak yang jalannya ngebut. Udah tau jalan itu rame manusia, masih aja ngebut gitu. Ckckck.

Nah, hal kayak gitu bisa dihindari dengan cari jalanan yang lebih sepi. Sudah tentu disana akan lebih aman dan nggak ada ancaman bahaya dari becak yang melaju kencang. Tapi juga nggak akan ada pemandangan yang bikin kita betah sepedaan. Setau saya, jalan sepi itu antara lain jalan menuju bandara, jalan menuju stadion sepak bola, atau jalan antar kota. Emang ada yang mau sepedaan di tempat kayak gitu? Emang lumayan sepi jalanannya, tapi nggak ada pemandangan sekitar selain pohon, atau tanah luas atau sungai atau padang gurun. Pokoknya nggak enaklah dipandang mata.

Inti dari tulisan saya ini adalah untuk mengajak kita melihat suatu hal dari sudut pandang yang lain. Biasanya orang akan ngambil jalan termudah dalam mencapai tujuannya. Itu nggak salah. Tapi disini saya punya pendangan lain. Dalam mencapai tujuan itu yang penting adalah proses. Apakah nanti kita akan mendapat hasil yang baik atau tidak, itu tergantung dari proses kita mencapai tujuan kita. Proses yang baik tentu akan menghasilkan hal yang baik pula. Semakin banyak hambatan dan resiko yang kita lalui dalam menjalani suatu proses maka kita akan menjadi pribadi yang semakin kuat. Dan itulah intinya. Piala atau medali yang kita hasilkan nanti adalah bonus dari proses yang kita lalui menuju juara itu. Intinya adalah menjadi pribadi juara melalui tempaan hambatan dan resiko kehidupan.

Kalau kita nggak yakin proses yang kita lalui itu baik atau tidak, maka tanyalah pada hati nurani kita. Biasanya hati nurani itu nggak bohong. Yang suka bohong itu hati fitriani sama hati andini. Hati nurani itu nggak pernah. Percaya deh. Apapun jalan yang kita pilih pas kita di persimpangan jalan, yakinilah bahwa itu jalan yang terbaik. Jangan keburu menyesal saat baru mau milih jalan. Menyesal itu tempatnya di belakang. Gunakan akal dan logika dan hati nurani. Sesudah memilih jalan mana yang akan kita tempuh,  jangan pernah lihat ke belakang. Karena dalam hidup sekali milih jalan nggak bisa balik lagi. Pokoknya jalan terus aja.

Sebenernya masih banyak lagi petuah-petuah ala Mario Teguh yang mau saya tulis, tapi takutnya nanti kepanjangan dan malah jadi nggak menarik. Atau malah kesannya aku kayak orang mau mati yang tiba-tiba jadi sok bijaksana. Hehe. Segini saja dulu aja ya. 🙂

Dan untuk Fitriani sama Andini, mohon maaf kalo namanya dipake disini. Kalo kata om Tukul, itu cuma just kidding just for luck!