Monthly Archives: June 2013

Bukan Jalan Bapak Lo, Kampret!

Maaf kalo judul yang saya pake agak sedikit emosional. Sebenarnya saya nggak lagi marah-marah. Cuma curhat-curhat aja sih ini. Hehe.

Sebagai orang yang sering berkendara, dalam artian membawa sendiri kendaraan (baik itu nyetir mobil maupun motor) saya, sering saya menemukan pengendara lain yang sangat kampret (you’re about to see a lot of word kampret here) di jalan. Mungkin temen-temen juga begitu. Kadang pengen banget meneriaki orang-orang kampret itu dengan kalimat kayak judul yang saya bikin di atas itu. Bener nggak? 😀

Yang paling nyebelin tentu saja mereka yang memacu kendaraannya secepat kura-kura (baca: lambat banget) di jalur paling kanan atau jalur cepat. Dikira itu jalan punya dia sendiri apa ya? Kampret. Ada beberapa yang mau menepi ke sebelah kiri begitu diklakson, tapi ada juga yang keras kepala. Ini bikin stres banget. Mau ngambil dari kiri, eh, di kiri juga ada kendaraan yang jalan kura-kura. Double kampret. Akhirnya kita harus menerima dengan lapang dada aja kalo kita bakalan telat.

Ada juga nih kendaraan yang suka motong jalur orang. Jadi, misal kita lagi jalan santai di jalur tengah, tiba-tiba ada kendaraan dari kanan langsung motong ke jalur kiri lewat depan kita. Kampret banget gak tuh? Untung itu kita jalan dengan speed santai. Lah terus apa kabar kalo kita memacu kendaraan dengan kecepatan 300 km/jam?

Satu lagi yang kampret banget menurut saya adalah mereka pengendara bermotor yang jalan di jalur kiri sambil ngegosip. Susah banget kayaknya bagi mereka untuk berhenti dan ngegosipnya di pinggir jalan. Atau kalo nggak ngegosipnya kelarin dulu tadi sebelum pulang atau gimana kek. Pokoknya jangan ngegosip sambil motoran lah. Kasihan orang-orang yang di belakang bisa kecipratan ludah dari mulut mereka yang cuap-cuap gak berhenti itu. :v

Intinya sih kalo berkendara di jalan raya ya perhatikan lah pengendara yang lain. Jalan raya itu kan jalan yang dibangun pemerintah dari pajak yang kita (atau orang tua kita) bayar, jadi itu jalan milik bersama. Jangan semau-maunya sendiri. Cukup pejabat aja yang semau-maunya nyerobot jalanan dengan sirine dari voorijder (yang nggak tau voorijder googling ya) mereka.

Semoga mereka-mereka yang kelakuannya kampret banget di atas semuanya secara ajaib baca postingan ini dan langsung sadar serta bertobat. Amin.

Advertisements

Manusia Cuma Bisa Berencana, Beberapa Manusia Lainnyalah Yang Menentukan

Sampai tulisan ini saya post, sudah 8 bulan 10 hari saya menjadi pesakitan. Pesakitan dalam arti menjadi seseorang yang menunggu panggilan kerja dari instansi saya tanpa satu pun petunjuk pasti kapan panggilan itu akan datang. Sakit sekali rasanya. Emang nggak sesakit putus cita atau sakit gigi sih. Tapi cukup sakit lah untuk dibuat tulisannya di blog ini.

8 bulan 10 hari yang lalu, tepatnya tanggal 10 Oktober adalah hari dimana saya dan rekan-rekan satu angkatan diwisuda oleh para petinggi kampus. Saat itu terasa sungguh bahagia karena waktu 3 tahun menuntut ilmu di kampus selesai sudah. Secara resmi saya menyandang gelar A.Md. atau Ahli Madya di belakang nama saya. Meskipun secara akademis peringkat saya tidak begitu tinggi, tapi tetap ada rasa bangga karena kepercayaan orang tua membiayai anaknya menempuh pendidikan di luar kota selama 3 tahun terbayar sudah.

Waktu itu saya masih ingat bagaimana Bapak Sekertaris Jenderal dari instansi dimana saya seharusnya sudah akan bekerja disana mengatakan betapa bangganya Beliau dengan angkatan kami. Beliau juga meyakinkan kami bahwa tidak perlu butuh waktu lama bagi kami untuk menunggu panggilan kerja di instansinya. Bahkan Beliau menyebutkan angka (kalau tidak salah ingat) 3 bulan waktu maksimal untuk menunggu panggilan itu. Well….

2 bulan pertama dari 8 bulan 10 hari penantian ini saya habiskan di Jakarta. Seusai wisuda saya tidak ikut pulang ke Palembang bersama orang tua saya. Saya waktu itu berhasil meyakinkan mereka kalau saya lebih baik menunggu di Jakarta, kalau-kalau ada berkas atau dokumen yang masih diperlukan oleh kampus. Padahal sebenarnya saya ikut marching band. Hehe. Maklum, karena persiapan yang udah hampir setahun dan waktu pertandingan yang udah semakin dekat, tidak memungkinkan saya meninggalkan rekan-rekan marching band tercinta. Bagi pembaca yang tau seluk-beluk dunia marching band pasti mengerti kondisi ini. 🙂 Selesai perlombaan, barulah saya pulang ke Palembang.

Hari-hari di Palembang saya habiskan secara monoton. Tidak banyak yang saya lakukan selain makan, minum, tidur, boker, kentut, bernapas, dan aktivitas-aktivitas alami lainnya. Di hari-hari yang penuh waktu menganggur begini saya sering melamun dan mencoba mencari pembenaran secara (sok) filosofis akan keadaan ini. Caranya, yaitu dengan memberi pertanyaan-pertanyaan kepada diri sendiri.

Kenapa ini harus terjadi kepada angkatan saya?

Ada temen yang bilang kalau angkatan kami adalah angkatan percobaan atas sistem yang baru. Asuh. Kenapa harus tepat di angkatan kami yang kena coba? Kenapa nggak angkatan di atas kami atau angkatan di bawah kami? Apakah angkatan kami angkatan sial? Kebanyakan dosa atau apa ya? Hmm….

Kenapa para manusia-manusia yang menduduki pucuk pimpinan di pusat sana nggak berpikir akan manusia-manusia di daerah kayak kami?

Saya nggak tau mereka mikirin kami atau tidak. Mungkin ada yang mikirin, mungkin juga tidak. Saya ngerti kalo pekerjaan sebagai pejabat publik itu nggak mudah. Ada banyak pertimbangan dan tetek bengek lainnya sebelum membuat kebijakan. Tapi kalo dipikir-pikir, apa sih susahnya memasukkan pegawai-pegawai baru? Toh setiap tahun juga ada pegawai baru masuk. Dan sepertinya anggaran untuk itu juga udah tersedia tiap tahun. Ini bukan keputusan krusial seperti menaikkan harga BBM atau menyelamatkan bank yang bangkrut. Nggak ngerti saya apa pertimbangan mereka-mereka itu. Padahal instansi itu kabarnya juga memang lagi membutuhkan pegawai baru loh. Saya sebenernya mau menyalahkan mereka yang berada di posisi pembuat kebijakan itu dan nyumpahin mereka macem-macem. Tapi setelah dipikir-pikir lagi nggak akan ada penyelesaian kalo disumpahin juga. Jadinya malah nambahin dosa.

Saya inget seseorang dari angkatan saya yang membuat surat terbuka kepada menteri lama dan seorang lainnya yang menyindir lewat Twitter dengan mengedit twit menteri baru. Keduanya abis kena bully di socmed. Menurut saya sih mereka sebenernya udah terlalu frustasi aja dan udah pada bingung mau ngapain. Somehow, just somehow, I think I’m kind of supporting them.

Apakah Tuhan ada rencana tertentu untuk saya dan rekan-rekan seangkatan dengan kejadian ini?

Sepertinya cuma ini penjelasan logis dari keadaan ini: Tuhan punya rencana tertentu untuk saya dan rekan-rekan satu angkatan. Walaupun sebagai manusia biasa kita nggak akan pernah tau rencana itu apa sampai kita benar-benar mengalaminya, percaya sajalah kalo sebenernya ada rencana tertentu yang dipersiapkan Tuhan yang akan indah pada waktunya.

Saya mencoba mencari-cari hal positif dalam masa-masa menganggur ini. Dan ada beberapa yang saya temukan. Pertama, tentu saya bisa lebih dekat dengan orang tua saya. 6 bulan di rumah untuk membayar 3 tahun jarang ketemu. Lumayan. Bisa gangguin adek-adek saya, bisa ngecat rambut beruban bapak, bisa ngurut-ngurutin kaki ibu saya, dan banyak hal-hal lainnya. :’) Kedua, bisa belajar nyetir mobil. Setelah sekian lama akhirnya ada kesempatan juga. Hehe. Ketiga, bisa kumpul-kumpul sama temen lama dan mulai ngeband di studio lagi. Pokoknya banyaklah hal-hal positif yang bisa dilakukan di masa-masa ini. Tapi tetap saja akan lebih positif buat jiwa dan raga saya kalau sekarang udah dipanggil untuk bekerja.