Monthly Archives: January 2014

Donor Darah: Yang Pertama dan Bukan Yang Terakhir

Kamis, 16 Januari 2014 kemarin jadi hari dimana saya donor darah untuk pertama kalinya. Dulu waktu kuliah sebenarnya udah sering diajak untuk donor darah, namun sering saya lewatkan karena merasa sayang dan nggak rela darah saya diambil serta takut ini dan itu. Kali ini saya beranikan diri untuk ikut kegiatan donor darah yang dilaksanakan oleh kantor untuk program “Bea Cukai Pedui – Donor Darah 1 Ton”.

Motivasi saya sebenarnya adalah Opung saya. Opung saya meninggal tahun lalu karena kekurangan darah usai operasi. Darah saya tidak cocok. Cari sana sini tidak dapat juga. Apa boleh buat. Semoga disana Beliau tenang bersama-Nya.

Sebenarnya ketakutan dan kenggakrelaan itu masih melintas di saat saya donor darah. Saya takut setelah darah saya diambil saya jadi lemes, saya takut nggak bisa beraktifitas normal dan lain-lain. Mungkin itulah sebabnya saya harus diambil darahnya dua kali. Karena sudah takut duluan, saya jadi pusing saat pengambilan darah. Jarum yang menancap di tangan kanan saya pun dicabut dan saya disuruh berbaring sebentar sampai pusingnya hilang.

Dokternya bilang kalau darah saya yang sudah diambil itu jadi tidak berguna dan akan dibuang karena tidak sampai memenuhi kantong. Konon di dalam kantong tersebut terdapatlah cairan yang merupakan makanan untuk sel-sel darah. Apabila jumlah darah yang masuk tidak sesuai dengan takaran yang seharusnya maka darah tersebut akan mati dan dibuang. Saya yang tidak ikhlas darah yang sudah dikeluarkan dari badan ini dibuang begitu saja pun akhirnya memberanikan diri dan membulatkan tekad. Tangan saya pun ditusuk lagi — kali ini disebelah kiri — untuk memenuhi kekurangan darah. Selesai proses pengambilan darah, efeknya pun terasa: badan jadi lemas dan mudah pusing. Tapi tidak terlalu parah, saya masih bisa menyetir mobil dan bekerja di kantor sampai jam pulang.


donor1

donor2

Setelah browsing-browsing di internet, saya menemukan bahwa ternyata masih banyak manusia yang tidak (atau belum) memiliki kesadaran untuk mendonorkan darah mereka. Alasannya antara lain: “tidak pernah kepikiran sebelumnya”, “terlalu sibuk”, dan masih banyak lagi. Padahal, menurut Palang Merah Australia, 80% orang Australia akan membutuhkan transfusi darah suatu saat pada hidup mereka (namun hanya 3% yang menyumbang darah setiap tahun)”; menurut palang merah Amerika Serikat, 97% orang kenal orang lain yang pernah membutuhkan transfusi darah; dan menurut survei di Kanada, 52% orang Kanada pernah mendapatkan transfusi darah atau kenal orang yang pernah (Wikipedia). Sayang sekali. Padahal banyak manfaat positif yang bisa kita dapat dari donor darah. Yang pertama tentu kita bisa menolong sesama yang membutuhkan. Kalau kata ayat kitab suci: apa yang kamu tanam, itu yang akan kamu tuai. Kalau kita mau mendonorkan darah kita untuk membantu orang yang membutuhkan, (semoga saja) saat kita membutuhkan akan ada orang yang membantu. Amin. Yang kedua, kita dapat meregenerasi darah kita. Darah yang dikeluarkan untuk donor adalah darah kotor. Tubuh kita tentunya akan mengganti darah itu dengan memproduksi darah baru yang lebih bersih. Selain itu, donor darah juga dapat meningkatkan nafsu makan. Saya sendiri merasakan kalau lingkar perut bertambah beberapa centi. Tapi saya tak khawatir, habis ini saya bakalan olah raga yang rajin. Hehe. 🙂

Well, saya nggak belum tau apakah saya akan menjadi pendonor darah yang rutin atau tidak. Saya belum memikirkan sampai kesana. Tapi yang jelas saya tidak akan melewatkan event-event donor darah lagi. Saya janji deh. Saya harap pembaca sekalian kalau belum pernah mendonor cobalah untuk mendonor. Setidaknya sekali dalam seumur hidup lah. Sehingga saat di akhirat nanti ditanya malaikat: “Apa yang sudah kamu lakukan untuk sesama manusia?” Kita bisa dengan bangga dan lantang menjawab: “Saya pernah donor darah, masbro.”

Advertisements

Italia Punya Pizza, Palembang Punya Pempek

“Sudahkah Anda ngirup cuko hari ini?”

Siapa sih yang tidak mengenal pempek? Menurut saya makanan khas asal Palembang ini sangat populer dan banyak penggemarnya. Pria-wanita, tua-muda, tinggal di kota atau pun di desa, tidak ada yang membatasi setiap orang untuk menikmati makanan dengan bahan dasar ikan dan tepung ini. Meskipun ada beberapa orang yang alergi terhadap ikan, tidak menutup kemungkinan orang tersebut akan menyukai pempek. Saya punya beberapa teman yang tidak makan ikan karena tidak tahan dengan rasa amisnya, tapi ketika di hadapkan dengan pempek yang masih hangat dengan asap yang mengepul-ngepul, tanpa pikir panjang pasti langsung disikat. Hahaha.

Ada berbagai macam jenis pempek. Ibarat mobil Daihatsu yang terdiri dari berbagai macam model seperti: Xenia, Luxio, Taruna, Altis, Grand Max, dan lain sebagainya, pempek pun juga demikian. Jenis-jenis pempek tersebut antara lain:

  • Pempek Kapal Selam, pempek berukuran raksasa dengan isi telur di dalamnya;
  • Pempek Telur Kecil, pempek berukuran normal yang juga berisikan telur di dalam;
  • Pempek Lenjer, pempek yang berbentuk silinder seperti sosis;
  • Pempek Keriting, pempek yang dibuat dengan alat khusus sehingga adonan pempek menjadi seperti mie sebelum digoreng;
  • Pempek Pistel, pempek yang berisi salah satu dari: daun pepaya, bihun, atau sayuran lain;
  • Pempek Kulit, pempek yang dibuat dengan mencampur adonan pempek dengan kulit ikan.

Selain yang disebut di atas, ada juga beberapa jenis makanan turunan pempek, antara lain:

  • Pempek Lenggang, pempek yang dibuat dari pempek-pempek yang diiris kecil dan disatukan lagi dengan adonan telur;
  • Tekwan, adonan pempek yang diiris-iris dan disiram dengan kuah khusus tekwan;
  • Model, adonan pempek yang diiris-iris dan disiram dengan kuah khusus model.

Dari jenis-jenis pempek di atas, yang jadi favorit saya adalah pempek kulit. Saya lebih suka pempek kulit karena rasa ikannya lebih kuat. Meskipun teksturnya lebih keras dari jenis pempek lainnya tak jadi masalah. Apakah para pembaca juga punya pempek jagoannya sendiri? Silakan tulis di komen ya! 🙂

pempek 2

Resep membuat pempek sesungguhnya sudah banyak beredar di internet. Tapi agar tidak merepotkan kita mencari di Google lagi, dalam tulisan ini akan sekalian saya buat resepnya berdasarkan resep yang juga saya dapatkan dari internet. Hehehehe.

Bahan-bahan:

  • 25 gr tepung terigu;
  • 400 gr tepung tapioka/kanji;
  • 500 gr daging ikan tenggiri atau bisa juga ikan gabus;
  • 1 butir telur ayam, kocok lepas;
  • 4 siung bawang putih;
  • 1 sdm garam;
  • 1 sdm gula pasir;
  • 1 sdm minyak goreng;
  • 100 cc air.

Cara membuat:

  1. Campur tepung terigu, bawang putih, garam, dan gula pasir serta minyak goreng. Masak hingga mengental. Setalah itu masukan ke dalam lemari es.
  2. Campur ikan yang sudah dihaluskan dengan air dan telur kocok. Aduk-aduk dengan tangan hingga rata.
  3. Ambil adonan tepung terigu dari lemari es, kemudian campurkan dengan adonan ikan. Aduk-aduk dengan tangan hingga rata. Sambil mengaduk tambahkan tepung tapioka secara bertahap. Sedikit demi sedikit. Bila adonan mengeras tambahkan sedikit air.
  4. Adonan siap dibentuk sesuai selera (kapal selam, lenjer, dll). Jika dirasa adonan terlalu lengket, lumuri tangan dengan tepung tapioka agar lebih mudah saat membentuk adonan.
  5. Masukkan pempek yang sudah di bentuk kedalam air mendidih, tambahkan sedikit minyak goreng agar pempek tidak lengket.

Gampang bukan? Nah berikut resep untuk membuat kuah cukonya:

Bahan-bahan:

  • 650 ml air;
  • 150 gram gula merah/gula aren, iris halus;
  • 50 gram asam jawa.

Bumbu dihaluskan:

  • 20 cabe rawit;
  • 4 siung bawang putih;
  • 2 sdm tongcai;
  • 2 sdm ebi, rendam air panas hingga lunak, tiriskan dan haluskan.

Cara membuat:

  • Didihkan air diatas api sedang, masukkan gula merah, asam jawa. Setelah gula larut, kemudian masukkan bumbu halus, masak hingga tidak berbau langu, angkat.

img_2652

Apabila membuat pempek sendiri terasa begitu berat, kita bisa langsung datang ke kota kelahirannya di Pelembang. Dimana ratusan tahun yang lalu seorang keturunan China menjual pempek yang pertama disana. Disana, di Palembang, pempek dijual dimana saja: di emperan pinggir jalan, di atas sepeda onthel, di atas sepeda motor, di atas perahu yang mengapung di sungai Musi, hingga ke tempat-tempat makan yang berkelas. Kita tidak akan pernah kehabisan stok pempek disana.

Tapi seperti kata pepatah, segala sesuatu tidak baik kalau berlebihan. Mengonsumsi kuliner ini terlalu sering juga dapat berefek tidak baik terhadap kesehatan. Terutama bagi para pembaca yang memiliki gangguan lambung. Hal ini dikarenakan asam cuka yang terkandung dalam cuko dapat berpengaruh buruk bagi lambung yang kosong. Jadi saya sarankan untuk makan makanan berat lain seperti nasi sebelum memakan pempek, terutama untuk para pembaca yang memiliki masalah dengan lambung. Oke? Sekian tulisan ini saya kali ini, saya mau cari abang-abang jualan pempek dulu untuk melampiaskan nafsu makan pempek yang terlanjur naik ini.

Tetap sehat dan tetap semangat! 🙂

“Sudahkah Anda ngirup cuko hari ini?” adalah suatu slogan, suatu jargon, suatu seruan semangat masyarakat Palembang untuk terus makan pempek yang diplesetkan dengan menghirup cuko.

followdaihatsuindcapture2capture3

dai3