Monthly Archives: July 2015

Silampukau – Dosa, Kota, & Kenangan: Sedikit Review

Silampukau adalah duo folk asal Surabaya yang terdiri dari Kharis Junandharu dan Eki Tresnowening. Mereka sangat fenomenal menurut saya. Mas-mas ini berhasil membuat saya kagum karena cara mereka menceritakan kota Surabaya, tema yang mereka angkat untuk album ini melalui narasi, sangat bagus. Naratif, apa adanya, tidak lebih, namun tetap dramatis. Keren.

Lirik-liriknya (tidak disertakan di dalam album fisik, tetapi bisa diakses di situs Silampukau) disusun dengan sangat hati-hati dan penuh perhitungan saya kira, karena hasil akhirnya adalah sebuah album dengan lagu-lagu yang padat makna dan kaya kosakata. Saya sampai harus nanya mbah Google arti beberapa kata seperti: temaram, jambon, ceracau, lingsir, matrimoni, dan banyak lagi. Saya baru tahu belakangan ternyata mas Kharis adalah jebolah dari jurusan sastra. Ugh!

Dari segi musik saya juga suka. Banyak instrumen yang dipadu menjadi manis: gitar, piano, violin, cello, saxofon, trumpet, trombone, accordion, harmonika, dan banyak lainnya. Semua padu dan pas sehingga narasi yang diceritakan melalui lirik-lirik lagu di sana sampai ke telinga pendengar dengan baik.

  

Lagu favorit saya di album ini adalah “Puan Kelana” yang menceritakan keengganan seorang laki-laki melepas kepergian kekasihnya ke Perancis. Sangat melankolis dan tidak terkesan cengeng. Kemarin waktu pertama muterin lagu ini, saya nggak berhenti: dari malam sampai pagi, sampai malam, dan paginya lagi (lebay :D). Saya juga suka lagu “Si Pelanggan” yang menceritakan tentang Doly, lokalisasi di Surabaya yang sekarang sudah dibubarkan oleh pemerintah (atau belum?) Lagu “Doa 1” juga menarik: menceritakan keinginan satir mereka-mereka yang ingin menjadi anak band terkenal namun nggak kesampaian. Sedikit curcol, saya juga sempat mengalami itu. Haha. Lagu “Balada Harian” yang menceritakan pemikiran ketika baru bangun pagi dan “Lagu Rantau (Sambat Omah)” yang menceritakan kisah tidak klise tentang seorang perantau yang kangen rumah juga saya suka. Secara umum semua lagu di album ini bagus dan sangat gampang untuk disukai apalagi setelah membaca lirik-liriknya.

Sukses terus untuk Silampukau. Semoga tidak berubah murahan seperti Ahmad…. 😀

Advertisements

Oh How I Miss Arsenal

Sudah hampir 2 bulan berlalu semenjak terakhir kali menyaksikan Arsenal. Udah kangen juga ini pengen ngerasain lagi sensasi “deg-deg-ser” yang cuma bisa dirasakan pas nonton Arsenal. Sejatinya kekangenan ini bisa terobati beberapa hari lagi, asal bisa menang kuis di Twitter. 😀

Di waktu off-season seperti ini, topik paling hangat untuk diikuti adalah mengenai bursa transfer. Oh dan release jersey terbaru juga sebenernya. Sedikit mengomentari jersey kandang Arsenal teranyar: blaaargghhh. Warna putihnya terlalu banyak: putih di bagian lengan oke, tapi di pundak dan ketek? Sepertinya udah kebanyakan. Tapi ada satu komentar dari pemain yang agak bikin lega: Wellbeck bilang bajunya semakin nyaman karena nggak seketat musim lalu. Kalo dengan baju ketat yang kurang nyaman aja sudah bisa bikin trofi FA Cup tetap di Emirates, siapa tahu musim depan dengan jersey yang makin nyaman bisa dapet pialanya lebih banyak. Siapa tau? 😀

Well, balik lagi ke topik mengenai bursa transfer. Satu orang sudah dipastikan merapat ke Emirates Stadium: Petr Cech. Menurut pendapat pribadi ane, kepindahan Cech dari Chelsea ke Arsenal sepertinya kurang perlu. Di Arsenal masih ada David Ospina sebagai kiper nomor satu. Dialah yang bikin Messi sempat mau mati kemarin. Belum ditambah fakta bahwa sepanjang musim lalu penampilannya cukup oke dan konsisten. Ospina, yang direkrut dari Nice bahkan mencetak beberapa clean sheet yang membuat rasio kebobolan per menit miliknya cukup rendah.


Tapi nasi sudah menjadi bubur. Tidak mungkin Wenger membeli Cech untuk menjadi pelapis Ospina. Cech akan menjadi kiper pertama Arsenal dan kemungkinan besar Ospina akan tergusur. Dari sudut pandang yang lain, kedatangan Cech tentu membawa angin segar bagi Arsenal. Sudah lama semenjak Arsenal memiliki kiper gaek nan ciamik di bawah mistar. Pengalamannya menggondol beberapa major trophy bersama Chelsea tentu cukup untuk mendorong para pemain Arsenal melakukan beberapa penggondolan serupa.


Kedatangan Cech jelas membuat Mou merana, yang mana saya senang karenanya, dan membuat tim menjadi makin menjanjikan tahun ini. Satu faktor tersisa yang membuat skuad menjanjikan ini belum bisa berbicara banyak di EPL dan Eropa adalah masalah cedera. Entah di awal musim, pertengahan, atau pun penghujung musim, ada saja beberapa pemain kunci yang menepi karena masalah ini. Asal masalah yang nggak penting ini bisa diatasi, skuad menjanjikan Arsene ini tentu bisa berbicara lebih banyak di tiap kompetisi yang diikuti.

Satu hal lagi yang harus Arsenal lakukan untuk tampil menakutkan di musim depan adalah membeli penyerang kelas wahid. Giroud merupakan pemain cukup bagus untuk menjalankan role no. 9. Tapi itu saja. Tipikalnya yang merupakan eksekutor bola-bola matang dan holding-up player tidak terlalu cocok dipraktekkan di EPL. Arsenal butuh penyerang yang liar, yang powerful, yang dapat mencetak 30 gol di liga dalam satu musim. (Sialnya orang terakhir yang dapat melakukannya berkhianat ke klub Setan dan sekarang malah hampir pasti merapat ke Fenerbahce). Welbeck sejatinya cukup bagus untuk dipercayakan berdiri sendirian di posisi ini. Atau kalau mau menjelajah ke klub-klub lain, ada Lewandowski, Benzema, Kane, Bale, atau yang paling anyar digosipkan, Di Maria. Come on, surprise us again, Mr. Wenger!