Akhirnya Kesampaian – Rinjani

If you want to go fast, go alone
If you want to go far, go together
–African Proverb

Mendaki gunung, perjalanan menanjak padang rumput, sabana, atau hutan. Sebagian orang menganggap itu bukanlah liburan karena begitu melelahkan.

Padahal mendaki gunung berbeda dengan destinasi liburan lain seperti, katakanlah, ke pantai. Memang melelahkan, karena ada proses persiapan fisik terlebih dahulu sebelum nanjak yang membutuhkan pengorbanan waktu serta butuh perjuangan melelahkan melampaui batas diri sendiri demi mencapai puncak. Namun, setelah itu semua kita lalui dan kita sampai di puncak, lalu kita melihat sekeliling, yang kita lihat akan menjadi sesuatu yang sangat berkesan, sangat indah, dan sangat mahal.

Setelah cuma bisa bercita-cita mendaki gunung sejak lama, akhirnya minggu lalu kesempatan itu juga. Bersama dengan tiga orang sohib sekantor: Adit, Aziiz, dan Yoga, saya mendaki Gunung Rinjani, gunung berapi tertinggi kedua di Indonesia. Kami beragkat terpisah: saya, Adit dan Aziiz beragkat dari Balikpapan, sedangkan Yoga akan bergabung di Lombok dari Semarang.

Pesawat dari Balikpapan berangkat sekitar pukul  12.15 WITA, transit di Bali 2,5 jam, dan akhirnya sampai di Pulau Lombok pukul 17.15. Di bandara kami telah ditunggu oleh Yoga, yang ternyata sampai duluan dan driver kami, Muhammad Sihap. Si mas satu ini yang akan mengantar ke base camp Pak Tutiq di Sembalun. Pak Tutiq adalah salah seorang agen penyedia jasa guide, porter, dan driver bagi para pendaki Rinjani. Kami kebetulan mendapat kontaknya dari teman yang baru saja mendaki Rinjani sebelumnya.

Kami sampai di base camp Pak Tutiq pukul 22.00 WITA, dan disambut oleh Pak Tutiq sendiri. “Selamat datang di Lombok, mas…” katanya dengan suara khasnya yang kalem. Malam itu kami habiskan dengan ngobrol-ngobrol mengenai rencana pendakian dan akomodasi yang diperlukan. Setelah melalui banyak pertimbangan, kami akhirnya sepakat untuk mengambil keputusan sulit: saya, Aziiz, dan Yoga mengambil program pendakian 4 hari 3 malam dan akan turun lewat Senaru, sedang Adit (yang karena kedudukannya di kantor harus ke Bali pada hari Selasa) mengambil program pendakian 3 hari 2 malam dan akan turun kembali ke Sembalun. Dan karenanya kami menyewa dua orang porter untuk mengangkut kebutuhan logistik, tenda, dan perintilan lainnya.

Keesokan harinya, Sabtu, 1 Agustus 2015, kami bangun cukup cepat karena memang berencana untuk berangkat awal. Setelah sarapan, registrasi, dan persiapan lainnya, kami pun memulai pendakian. Pukul 08.15 kami mulai jalan melalui trek awal yang berupa halaman warga, padang rumput, dan sabana, yang masih relatif landai.

muka-muka polos yang belum sadar medan berat sudah menanti di sana….

Di sepanjang perjalanan menuju Pos 1, kami berpapasan dengan banyak pendaki lain. Ternyata bulan bulan ini adalah bulan yang cukup ramai. Setelah berjalan selama lebih kurang dua jam, akhirnya kami sampai di Pos 1. Di sini kami jumpai sudah banyak pendaki yang sudah lebih dulu sampai. Kami istirahat sebentar saja di sini, setelah makan cokelat, minum air secukupnya, semprot-semprot sunblock (mentel kali pun :D), dan oles-oles counterpain, kami pun mulai jalan lagi.

Pos 2 jaraknya terlihat cukup dekat dari Pos 1. Namun treknya sendiri sudah lebih banyak menanjak sekarang. Kaki pun mulai kelelahan dan kami mulai banyak istirahat. Makin lelah apalagi dengan carrier yang cukup berat karena diisi pakaian dan akomodasi untuk liburan di Bali setalah turun nanti. Heuheu. Sekitar satu jam kami jalan sebelum akhirnya kami sampai di Pos 2. Sudah banyak juga pendaki yang ngetem di pos 2 yang cukup luas ini. Di sini para pendaki lain sudah pada yang makan siang. Kami sendiri, berdasarkan rekomendasi dari Pak Porter, memutuskan untuk makan siang di Pos 3 nanti.

Ternyata belum sampai di Pos 3 kami sudah makan siang. Di bawah pohon rindang, Pak Porter yang tadi jalan duluan sudah menggelar tikar dan masak-masak. Pak Porternya bilang kalau di depan jalannya masih banyak menanjak dan kami lebih baik makan dulu. Sambil menunggu makanan selesai disiapkan, kami pun tidur seadanya.

Selesai makan dan temen-temen pada sholat, kami pun melanjutkan perjalanan lagi. Sesampainya di Pos 3, kami menjumpai sekawanan monyet Rinjani yang katanya suka mencuri. Macam kancil ya. Pos 3 adalah pos terakhir sebelum memasuki 7 Bukit Penyesalan Rinjani yang termahsyur itu. Disebut bukit penyesalan karena hanyalah tanjakan terjal dan seperti tak berujung yang akan dilalui pendaki. Membuat para pendaki pun menyesal: untuk maju berat, untuk turun kembali sudah terlalu jauh. Kami sendiri guyon, bahwa sebelum masuk Bukit Penyesalan saja kami sudah pada menyesal. Haha.

Setelah sekian lama mendaki dengan penuh penyesalan, saya dan Aziiz sampai di Plawangan Sembalun. Di sana kami (atau mungkin lebih tepatnya Pak Porter) akan membangun tenda untuk bermalam dan istirahat sebelum summit nanti subuh. Kabut sudah datang namun Adit dan Yoga belum, dan tenda kami sudah tidak terlihat lagi. Akhirnya kami keluar dan menunggu mereka di dekat pintu masuk Plawangan Sembalun. Lebih kurang sejam lamanya kami menunggu sebelum akhirnya mereka sampai. Napas pada tergopoh-gopoh, dan muka udah pada kusut. Tidak banyak obrolan malam itu karena semua sudah sangat kelelahan.

Suhu sangat dingin malam itu. Saya memakai 2 lapis baju, 1 sweater, 1 jaket tebal, sarung tangan, serta 3 lapis celana dan 3 lapis kaus kaki, dan meringkuk dalam sleeping bag… dan masih gemeteran. Sayang tidak bawa termometer untuk mengukur dinginnya suhu malam itu. Brrr….

Minggu, 2 Agustus 2015, pukul 01.30, kami bangun dan bersiap-siap untuk summit menuju puncak Rinjani. Kami diberi sarapan berupa kue panekuk buatan Pak Porter. Setelah sarapan seadanya itu, kami mulai jalan dipimpin oleh Pak Porter. Jam menunjukkan pukul 02.05. Trek menuju puncak ini lebih ekstrim dari pada trek yang kami lalui tadi siang. Pasir, dan bebatuan. Tiap satu langkah maju yang diambil diberengi dengan setengah langkah mundur. 

2 jam pertama berlalu. Yoga tertinggal cukup jauh di belakang. Dia sempat bilang perutnya tidak enak. Kami pun meminta Pak Porter untuk tidak lagi memimpin kami di depan, tapi menunggu dan menemani Yoga di belakang. Saya, Adit, dan Aziiz lanjut. Tidak lama berjalan, Aziiz menghilang. Dia menginggalkan saya dan Adit yang tergopoh-gopoh. Kemudian selanjutnya Adit yang ninggalin saya: “Wah, Yo, langit udah merah-merah!” katanya, sebelum dia akhirnya menghilang juga. Saya sendiri sudah sangat kepayahan. Kepala saya pusing, jantung saya berdebar kencang. Saya mencoba untuk memaksa juga sudah tidak bisa. Saya perbanyak istirahat dan tiduran di bebatuan itu. Tidur di bebatuan gunung sangat nikmat dan nyaman ternyata, bahkan lebih nyaman dari kasur di rumah, gumam saya.

Pukul 06.20 pagi. Matahari sudah mengintip dari balik awan di ufuk timur. Saya yang baru 3/5 jalan menuju puncak ini pun harus menerima fakta untuk tidak melihat terbitnya matahari dari puncak. Saya mencari batu besar untuk duduk dan menikmati momen tersebut dari sana. Ah.. suasananya begitu khidmat. Sunyi. Orang-orang di puncak sana juga pasti sangat menikmati momen ini. Saya iri dengan mereka.

Selama setengah jam saya duduk di batu itu. Banyak yang saya lamuni. Saya memikirkan keluarga saya, orang tua dan adik-adik saya, saya memikirkan kehidupan saya dan apa-apa yang sudah saya kerjakan selama ini. Tiba-tiba mata saya kelilipan. Air mengalir keluar dari mata saya. Saya usap, dan saya coba menikmati lagi momen tersebut.

Setelah puas, saya pun lanjut lagi perjalanan untuk sampai ke puncak. Saat itu orang-orang yang di puncak sudah berbondong-bondong turun, menghasilkan debu yang sangat mengganggu. Saya lebih banyak lagi istirahat, karena harus menghindari debu-debu itu. Selain itu saya semakin pusing, dan jantung saya berdebarnya semakin kencang, dan air juga nggak ada. Yang bawa air udah pada duluan ke atas. Thanks to mas bule yang entah dari negara mana dan juga porter yang baik hati sudah memberi saya air sehingga nggak pingsan. 

Dalam perjalanan yang memusingkan itu saya bertemu dengan 4 orang mahasiswa yang juga masih berjuang nanjak ke atas. Setelah sempat ngobrol sebentar, mereka pun mendahului saya. Tidak lama setelah itu, saya mendapati peristiwa yang mencengangkan! Adit dan Aziiz turun dari atas! (Ya masak turun dari bawah?!) Mereka turun duluan dan tidak menunggu saya, dan Yoga juga mungkin, kalau dia masih berusaha di bawah (saya sendiri masih belum liat dia dari tadi) di puncak. Saya nggak percaya sekaligus kecewa. Huft.

Setelah 4 jam lagi mendaki penuh perjuangan, akhirnya saya sampai di puncak. Jam di tangan saya menunjukkan waktu pukul 10.05. Yang menyambut saya tidak lain adalah 4 orang mahasiswa yang berpapasan dengan saya sebelumnya. Mereka memberi saya air dan roti (dan marimas!) Ah senang dan puas sekali rasanya bisa sampai puncak. Saya pun merekam semua momen itu di memori saya dan memori handphone. Semuanya luar biasa: orang-orangnya, suasananya, pemandangan puncak Rinjani yang menankjubkan: gumpalan awan, danau Segara Anak di bawah, dan pantai-pantai pulau Lombok plus puncak Gunung Tambora di sebelah. Saya bersyukur karena semua ini yang saya nikmati ini sangat, sangat mahal, tidak semua orang bisa menikmati momen ini.

B-)

  

indah aja apa indah banget?


Setelah merasa puas, saya pun turun bersama 4 orang mahasiswa itu. Belum jauh saya berjalan, saya melihat di jalur bebatuan ada Yoga yang masih berusaha sampai puncak. Dia sudah dekat. Saya pun menunggunya, sementarakeempat mahasiawa turun. Saya mengapresiasilah semangat Yoga. Saya tadinya pikir dia sudah menyerah dan pulang ke tenda. Pukul 11.30 dia sampai di puncak.

Kami pun menikmati momen di atas bersama-sama. Yoga bercerita kalau dia sempat BAB di bawah sana. Dia bilang dia sepertinya terkena diare. Untungnya tidak terjadi apa-apa pada si kawan yang mendaki sendirian ini.

Cukup puas menikmati puncak Rinjani, kami pun turun bersama-sama. Dalam keadaan haus, lapar, pusing, dan lelah, kami pun istirahat sambil jalan (bukannya jalan sambil istirahat :D). Sekitar pukul 15.00 kami sampai tenda. Kami pun langsung makan dan minum air banyak-banyak. Adit dan Aziiz yang sudah sampai duluan ada di dalam tenda dan tidur. Setelah selesai makan, saya langsung masuk tenda dan tidak keluar lagi sampai besok paginya.

Esoknya, Senin, 3 Agustus 2015, saya bangun lebih dulu dari yang lain. Adalah ibu-ibu dan mbak-mbak orang Korea yang cukup berisik yang membangunkan saya pagi itu. Sudah terlanjur bangun, saya pun berjalan-jalan dan coba menikmati pagi yang dingin itu. Tak lama yang lain juga bangun dan kami mengabadikan momen tersebut dengan foto-foto bersama matahari yang sepertinya juga baru bangun.🙂

salam lestari!

 

Puas foto-foto kami kembali ke tenda untuk sarapan. Selesai sarapan kami langsung beres-beres tenda dan bersiap untuk turun. Pukul 08.00 kami turun bersama-sama lewat jalur Sembalun. Sebelumnya kami sudah putuskan untuk membatalkan rencana ke Segara Anak dan turun lewat Senaru. Pertimbangannya selain fisik yang sudah habis adalah persediaan logistik makanan yang sepertinya sudah tidak banyak lagi, terutama karena tumpah tadi malam.

Perjalanan turun tentu lebih cepat dari pada saat nanjak kemarin. Namun Aziiz yang kemarin pada saat nanjak lajunya cukup cepat sekarang menjadi yang paling lambat. Dengkulnya sudah aus sepertinya. Dia pun berubah menjadi nini-nini sekarang.

nini-nini

 
Kami sampai di base camp Pak Tutiq pukul 16.00. Tidak banyak orang di sana. Cuma kami berempat, Pak Porter yang setelah diberi tip langsung menghilang, dan beberapa anak muda lokal. Kami masih menunggu driver, Muhammad Sihap, di sana. Dia yang akan menjemput dan mengantar kami pulang, kali ini lewat pelabuhan Lembar karena tujuan liburan kami selajutya adalah Bali. Setelah si mas driver tiba kami langsung menaikkan carrier ke mobil dan berpamitan ke Pak Tutiq dan yang lainnya. Dan petualangan kami pun berakhir.

Saya janji pada diri sendiri untuk kelak kembali ke Rinjani. Saya masih penasaran dengan danau Segara anak dan trek Senaru. Selain itu saya rasa saya pasti akan kangen dengan suasana pegunungan yang asik ini: semua orang ramah dan saling membantu. No trick. Semuanya punya tujuan yang sama yaitu sampai ke puncak. Kehidupan sehari-hari di kantor tidak akan seperti ini saya kira. Terima kasih Tuhan, sudah melindungi kami semua dalam perjalanan naik dan turun, hingga bisa kembali ke Balikpapan dengan selamat. Terutama terima kasih karena sudah menciptakan alam yang luar biasa indah untuk kami nikmati.

let’s….

Tagged: , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: