Mahameru Was Calling, And I Had To Go

Perjalanan mendaki gunung selalu menyenangkan, dan terima kasih Tuhan akhirnya kesempatan itu datang lagi. Rencana mendaki kali ini bisa dibilang cukup dadakan. Sebab itulah beberapa teman yang coba diajak nggak bisa, karena sudah ada rencana lain. Akhirnya saya coba memberanikan diri untuk berangkat sendirian dengan ikut open trip. Saya pikir kayaknya seru juga kalo liburan, selain ke tempat baru, juga sama orang yang bener-bener baru. Let’s get lost!

Kamis, 5 Mei 2016, saya sudah di Malang. Saya sudah selesai sarapan serta check out dari hotel pukul 08:30 pagi karena pukul 09:00 dapet kabar dari Climax Adventure Organizer sudah harus kumpul di depan Stasiun Kota Baru Malang sebagai tempat meeting point. Oh ya, Climax adalah penyelenggara open trip yang saya pilih karena murah kuota pesertanya masih available dan jadwalnya juga cocok. Pukul 08:45 saya sudah stand by di taman depan stasiun, dan ternyata sampai 2 jam menunggu belum ada yang dateng. Saya coba telfon kontaknya Climax, susah juga dihubungin. Hati ini pun was-was, ini saya kena tipu apa ya? Haha. Pukul 11:00 akhirnya temen-temen dari Climax ngumpul. Ada 4 orang: mbak Sisca Bonces dan mbak Wina yang ngakunya mirip Dian Sastro, mereka dari Climax, serta mas Arwan, dan mas Amin, mereka juga adalah peserta open trip ini. Menyusul kemudian seorang lagi dari Climax, mas Iyas. Setelah kenalan dan ngobrol-ngobrol sebentar, kami berenam pun berangkat dengan angkot menuju Semeru. Yeah!

Eits ternyata belum. Haha. Kami masih berhenti lagi untuk mengganti kendaraan dengan jeep, dan menunggu 3 orang peserta lagi di Tumpang. Pukul 13:30 akhirnya anggota yang akan berangkat lengkap setelah mas Ipul, mas Bima, dan mas Rio alias Cikung alias Pongki bergabung dan kami langsung jalan. Sesampainya di Ranu Pane, kami disambut oleh hujan gerimis. Kondisi padat merayap, karena memang lagi musim mendaki. Pendakian Semeru sendiri baru dibuka pada 1 Mei kemarin setelah sempat ditutup untuk rehabilitasi kondisi gunung. Setelah mendaftar dan ikut briefing yang bikin parno, ternyata kami harus menunggu lagi berjam-jam untuk mendapat tiket. Administrasi pendaftaran Semeru sekarang sudah makin ribet. Cerita-cerita sama pendaki lain, ternyata ada yang sudah menunggu 1 hari dan belum juga dapat tiket. Ah… jadi was-was lagi nih. Ini jadi naik gak ini? Haha.

Akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga. Kami beruntung karena cuma menunggu 4 jam dan tiket sudah didapat. Pukul 20.00 kami start menuju Ranu Kumbolo. Estimasi waktu sekitar 6 jam untuk sampai di sana. Ternyata lebih kurang 5 jam kami sudah sampai di danau yang selama ini keindahannya cuma bisa diliat di tv atau internet tersebut. Di sana sudah banyak tenda berdiri. Dua lokasi pendirian tenda yang ada di Ranu Kumbolo, di bawah Tanjakan Cinta dan di turunan setelah Pos 4, dua-duanya sudah penuh. Di tengah malam, sambil gemetar karena kedinginan, kami mendirikan tenda. Tanpa makan atau minum yang anget-anget dulu, kami langsung tidur aja setelahnya, meringkuk menahan dingin dan mengistirahatkan badan di dalam sleeping bag masing-masing.

Esoknya, sekitar pukul 06:00 saya sudah bangun dan mendapati di luar udara sangat amat dingin, danau berselimut kabut tebal, matahari sudah nongol dikit, namun dari lokasi tenda kami tidak dapat view-nya. Hiks. Saya dan teman satu tenda, mas Arwan dan mas Amin, jalan keluar untuk menikmati suasana pagi Ranu Kumbolo. Bener-bener indah ciptaan Tuhan: biru air danau, hijau bukit-bukit di sekitarnya, ditambah kicau burung di pagi hari. Semua sangat cantik, asri, sangat amat bikin otak dan jiwa rileks. Semoga tempat ini masih bisa dinikmati anak cucu kita kelak. Amin.

Kembali ke tenda, kami pun mempersiapkan sarapan. Suasana ini, mempersiapkan makan sama-sama, makan sama-sama, walaupun makanannya seadanya, tapi rasanya nikmat sekali. Apalagi dengan view indah di depan sana itu. Bikin nggak mau beranjak. :’)

rakum1

rakum2

Matahari makin naik, kami pun harus juga naik menuju puncak. Pukul 11:30 kami jalan, melewati Tanjakan Cinta yang terkenal akan mitosnya itu, melewati ladang bunga verbena (bukan lavender seperti perkiraan banyak orang awam termasuk saya awalnya), Oro-oro Ombo, melewati bukit-bukit yang ngeselin karena nanjak terus (you don’t say :D), dan akhirnya sampai di Kalimati, lokasi camp site terakhir sebelum puncak. Kami mendirikan tenda sambil ujan-ujanan, dan setelah selesai sebagian dari kami langsung istirahat, sebagiannya lagi mengambil air di Sumber Mani. Lumayan ngeselin juga jalan ke sumber air ini. Banyak turunan, yang berarti nanti pulangnya akan banyak nanjak, dan sambil bawa air. Haha-hikshiks. Pulang ke tenda, kami langsung makan malam, selesai makan langsung istirahat karena summit attack akan kami mulai lebih awal guna menghindari antrian pendaki.

Pukul 11:15 kami sudah bangun, sudah makan, sudah mempersiapkan perbekalan, kami sudah sangat siap untuk menggapai puncak Mahameru. Yeah! Eh tapi ada satu orang yang nggak ikut muncak: mbak Dian Sastro idola kita, bukan karena nggak pengen, tapi karena sakit. Sangat disayangkan, tapi tentu tidak mungkin juga dipaksakan. Akhirnya hanya 8 orang dari kami yang jalan. Belum jauh kami berjalan menuju puncak, sudah ketemu antrian di depan. Ternyata sama aja seperti jalanan kota besar di hari libur panjang, macet. Haha-hikshiks. Trek awal masih relatif ringan karena berupa tanah, yang mana agak lembab karena hujan sore tadi. Setelah melewati batas vegetasi, trek berganti pasir dan kerikil yang lumayan berat. Benar-benar menghabiskan tenaga. Matahari sudah terbit sebelum jam 06:00. Sayang di ufuk timur sana sedang ada hujan badai sehingga awan gelapnya menutupi matahari.

Saya jadi yang paling akhir dari tim kami yang sampai puncak. Saya banyak berhenti karena kepala pusing dan jantung berdebar kencang. Berdasarkan pengalaman terakhir saya naik Rinjani yang sangat menyiksa, kali ini saya bawa persenjataan yang cukup untuk sampai atas: coklat, madu, dan air hangat. Jadi setiap berhenti saya bisa makan, minum, lalu tidur sebentar sebelum jalan lagi. Haha. Saya sampai di puncak sekitar pukul 07:30, dan disambut sama teman-teman. What a feeling! Rasanya seperti menjadi juara apaaa gitu. Bangga, senang, terharu, bahagia, puas. Sempat nggak percaya berada puncak gunung lagi, melihat pemandangan luar biasa seperti ini lagi. Saya pun mencoba menggunakan semua memori di otak dan di hape untuk mengabadikan momen ini walaupun nggak akan mungkin cukup.

mahameru1

Kami turun setelah puas menikmati suasana menyenangkan di atas sana. Turun pun ternyata ngantri karena di jalur sempit yang hanya bisa dilalui satu jalur itu masih banyak pendaki yang mau naik ke atas. “Pendakian kali ini termasuk ramai, lebih ramai dibanding tahun lalu,” kata mas Iyas. Kami sampai di tenda di Kalimati setelah berjalan sekitar 2 jam. Setelah makan makanan buatan mbak Dian Sastro yang nikmatnya tiada tara, kami pun langsung tidur, mencoba mengistirahatkan badan yang lelahnya bukan main. Setelah bangun, kami langsung beres-beres peralatan dan bongkar tenda. Sekitar pukul 13:00 kami pun jalan pulang. Pukul 15:00 kami sampai di Ranu Kumbolo, kemudian beristirahat sejenak sambil kembali menikmati pemandangan indah di depan mata kami. Setelah lebih kurang satu jam beristirahat, kami lanjut lagi. Perjalanan dari Ranu Kumbolo menuju Pos 1 ini lumayan menguras perjalanan juga, karena memang tidak hanya turunan, masih banyak tanjakan yang harus dilahap. Karena sudah lelah, konsentrasi sudah berkurang drastis, banyak dari kami yang jatuh, terpeleset, atau kepala terantuk pohon melintang di atas. Hahaha. Sakit sih, tapi lumayan bisa bikin ketawa. Hahaha.

Sekitar pukul 18:30 kami semua sampai di Ranu Pane dengan selamat, sehat sentosa. Selesai sudah perjalanan kali ini. Makasih buat teman-teman dari Climax Adventure Organizer, Mas Iyas, Mbak Bonces, dan Mbak Wina alias Dian Sastro, yang sukses membawa kami naik dan turun Semeru dengan selamat, sehat, tidak kurang suatu apa pun. Makasih juga buat Mas Arwan, Amin, Mas Ipul, Bima, dan Mas Rio alias Cikung alias Pongky yang benar-benar membuat perjalanan yang berat ini jadi terasa ringan. Benar-benar pengalaman yang akan sulit dilupakan.

Salam Lestari!

Tagged: , , , , , ,

2 thoughts on “Mahameru Was Calling, And I Had To Go

  1. Rafaililo sandhy May 14, 2016 at 10:44 pm Reply

    Kamu berbakat jd penulis bro, lanjutkan !! Ditunggu ya cerita selanjutnya.

    • haraluas May 15, 2016 at 12:51 am Reply

      Thanks, bang Illo. Ditunggu ya.. 😁

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: