Monthly Archives: February 2017

Sail Komodo – Wae Rebo Trip [Part 2]

Wae Rebo adalah sebuah desa yang berada di pegunungan dengan ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut. Awalnya cuma itu saja yang saya tahu tentang Wae Rebo. Saya belum tau kalau ternyata desa ini adalah objek wisata yang cukup populer di kalangan turis lokal maupun mancanegara.

Tujuan trip kami selanjutnya setelah berlayar di sekitar kepulauan Komodo adalah mengunjungi desa adat Wae Rebo. Banyak cara yang bisa ditempuh untuk sampai di lokasi. Yang pertama adalah naik angkutan umum dari Labuan Bajo, kemudian berhenti di Ruteng untuk kemudian menyambung lagi menuju desa Denge yang merupakan desa terakhir sebelum Wae Rebo; atau bisa langsung sewa mobil trevel yang langsung mengantar ke Denge.

Rombongan kami berangkat dari Labuan Bajo pukul 9 malam. Dan sampai di Denge pada pukul setengah 4 pagi. Lebih cepat 1,5 jam dari jadwal biasanya yang sekitar 8 jam. Thanks to bapak supir (yang mungkin sedang kebelet) sehingga badan para penumpang pegel dan sakit semua terbanting-banting di dalam mobil. Pagi itu kami singgah di homestay Papa Blasius Monta untuk meluruskan punggung dan kaki. Papa Blasius bilang kalau dia adalah putra asli Wae Rebo. Sekarang dia bekerja sebagai guru di sebuah SD yang terletak di depan rumahnya.

Setelah sarapan, mandi, dan beres-beres, kami siap untuk trekking menuju Wae Rebo. Dari rumah Papa Blasius kami diantar sopir trevel kami sampai di jembatan 1. Dari sana baru kami berjalan kaki. Setelah berjalan lebih kurang 4 jam, menempuh jarak sekitar 9 KM, melewati 4 pos, akhirnya kami sampai di “desa di atas awan”. Sebelumnya di perjalanan menuju ke puncak, kami beberapa kali berpapasan dengan warga Wae Rebo yang turun sambil membawa batang kayu manis. Keramahan para penduduk Wae Rebo sudah sangat terasa, kala mereka langsung menyapa dan memperkenalkan diri.

berpapasan

berpapasan

Memeasuki Wae Rebo kami diharuskan terlebih dahulu untuk masuk ke rumah utama, di mana sudah ada pemuka adat desa di dalamnya. Aturan di Wae Rebo mewajibkan setiap pengunjung yang datang untuk mengikuti upacara adat untuk mendapat perlindungan dari arwah para leluhur. Setelah selesai upacara adat, kami berpindah menuju salah satu rumah yang disediakan khusus buat tempat tinggal turis. Di dalamnya sudah ada sejumlah tempat tidur yang disusun melingkar. Kami disuguhi kopi khas Wae Rebo yang terkenal itu. Rasanya nikmat sekali, bisa membuat yang tidak suka kopi jadi suka. Setidaknya begitulah kata Teteh Atti yang sebelumnya jarang minum kopi.

Hari itu cuaca berkabut disertai hujan rintik-rintik sehingga tidak banyak yang bisa kami lakukan. Untungnya kami sempat melihat proses menenun kain cura oleh beberapa mama. Menenunnya di bawah rumah sehingga kalau tidak hati-hati kepala bisa ciuman sama kayu.

menenun

mama menenun kain

Apabila ada yang bertanya apakah udara di Wae Rebo dingin, jawabannya adalah tidak terlalu. Itulah sebabnya saya, Adit, dan Yoga malam itu berani bertaruh untuk tidur tanpa menggunakan selimut. Siapa yang duluan pake selimut, dia kalah. Dan ternyataaa….

adit-lemah

adit lemah!

Di desa ini terdapat tujuh rumah adat utama yang juga disebut Mbaru Niang. Satu rumah bisa menampung sekitar delapan kepala keluarga. Tapi hari ini sangat sedikit warga yang kelihatan, kebanyakan sedang turun untuk belanja kebutuhan rumah tangga, selain juga katanya ada acara adat di desa sebelah. Tapi untungnya kami masih sempat bertemu dengan beberapa warga yang mau diajak foto-foto.

yoga-dan-teman

adit-dan-teman

wefie

mba-caca-dan-guk

bagus

Wae Rebo adalah desa yang meraih penghargan dari Unesco atas proyek konservasi pelestarian budaya (sumber). Sebuah prestasi yang membanggakan. Tentu di balik itu perlu usaha keras untuk mengedukasi warga Wae Rebo untuk terbuka terhadap pariwisata dan terutama turis asing. Salut dengan para pemrakarsa berkembangnya desa ini menjadi desa wisata. Semoga di daerah-daerah lainnya di Indonesia bisa seperti ini juga, ya.

­­Maju terus Wae Rebo. Mohe Wae Rebo.

mohe-wae-rebo

Advertisements

Sail Komodo – Wae Rebo Trip [Part 1]

Pada kesempatan kali ini saya tidak ke gunung seperti yang sudah-sudah, melainkan berlayar di perairan Pulau Komodo selama 3 hari dan dilanjut trekking ke Wae Rebo, sebuah desa yang terletak pada ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut.

Baiklah, perjalanan kali ini dimulai dengan sedikit drama ketinggalan pesawat. Thanks to Lion Air, maskapai kesayangan kita semua. Saya, Adit, dan Satria yang harusnya tiba di Labuan Bajo pukul 9 pagi, jadinya tiba pukul setengah 4 sore. Setibanya di bandara, kami sudah ditunggu oleh Mas Adi, guide kami untuk trip kali ini. Ada 9 orang peserta open trip-nya Mas Adi ini: selain kami bertiga, ada Yoga (yang datang pertama katanya), Teh Atti (mantan atlit basket timnas Indonesia), Mr. Tono alias Abdullah (orang Arab yang kocak), Mbak Nicki Minaj (pacarnya Tono), Mbak Caca (adeknya mbak Nicki), dan Mas Ardiyanta (temen SMA-nya mbak Caca, yang juga anak gunung banget).

Day I

Sesampainya di kapal, kami langsung meluncur ke Pulau Rinca. Kata Mas Adi ini adalah satu dari dua pulau di kawasan Taman Nasional Komodo yang masih ada komodonya. Yang satunya lagi adalah Pulau Komodo. Pukul 6 sore kami sampai di dermaga Pulau Rinca. Sangat terlambat, sih, ya. Dan seperti tahu kalau waktu kami sudah mepet, para komodo itu ternyata sudah menunggu kami di sana. Mereka sudah pada ngumpul di sekitaran rumah para ranger sehingga kami tidak perlu berjauh-jauh trekking nyari mereka.

nahan takut, semoga komodonya gak tiba-tiba gigit kami

tersenyum sambil berdoa semoga komodonya gak tiba-tiba gigit kami

Day II

Sensasi bangun tidur di atas kapal yang bergoyang adalah suatu pengalaman yang unik karena: bikin pusing. Ternyata pagi-pagi sekali kapal kami telah bertolak dari Pulau Rinca menuju Pulau Padar. Niatnya sih untuk melihat matahari terbit di Padar. Tapi nyatanya mataharinya tertutup awan. Ha-ha-ha. Di Padar, kapal kami adalah kapal yang pertama tiba. Jalur trekking-nya masih kosong, sehingga kami bisa mengabadikan gambar sepuas-puasnya.

amitaba

Saya sangat menyarankan trekking menggunakan sepatu. Tidak perlu sepatu gunung, sepatu olah raga ataupun sneaker sudah cukup. Saya tidak menyarankan untuk pakai sendal gunung. Lebih praktis, sih, memang. Tapi siap-siap lecet nanti kakinya.

Selepas Padar, kami menuju Pink Beach. Dinamakan Pink Beach karena perpaduan antara pecahan karang berwarna merah dan pasir pantai yang menghasilkan warna merah muda. Kapal kami tidak bisa bersandar di pinggir pantai, harus berjarak beberapa meter. Mungkin untuk menjaga agar terumbu karang di bawahnya tidak rusak, ya. Alhasil, untuk mencapai pantai kami harus nyebur ke air dan berenang. Untung Mas Adi sudah menyediakan pelampung dan fin, sehingga saya yang mempunyai kemampuan renang secukupnya ini bisa sampai di pantai dengan tidak kurang suatu apapun. Hiyaaat! Plung! Terumbu karang yang ada di bawah ternyata sangat cantik, lho.

adit anak bir

adit anak bir

bawah air

bawah air

Puas main air di Pink Beach, kami lanjut lagi ke sebuah pulau kecil bernama Taka Makassar. Sayang kami tidak bisa berlama-lama di sana, angin kencang disertai badai tiba-tiba datang sehingga kami harus segera pergi mencari spot lainnya. Yang ternyata itu adalah Gili Laba! Trekking sedikit ke atas, kami menjumpai spot yang bagus untuk foto sunset. Sayang beribu sayang, mataharinya tertutup awan di ufuk barat sana.

Day III

Masih di Gili Laba, pagi ini kami trekking menuju spot sunrise. Dan lagi-lagi, mataharinya tertutup awan. Tapi lumayan lah, seenggaknya kami mendapatkan pemandangan yang sangat cantik dari atas sini. Gili Laba Darat di sebelah sini, dan Gili Laba Laut di sebelah sana. What a view!

nungguin matahari nongol

nungguin matahari nongol

Satria feels freee....

Satria feels freee….

beautiful-isnt-it

Destinasi kami selanjutnya adalah Manta Point. Itu adalah suatu tempat yang banyak mantanya. Bagi yang belum tau manta, itu adalah ikan berpunggung lebar. Kalau pernah nonton film Finding Nemo pasti tau gurunya Nemo yang sering ngajak muridnya jalan-jalan. Nah, itu lah yang mau kita lihat. Apakah benar manta itu suka ngajak ikan lain nebeng berenang di punggungnya? Hmm….

Di sini kami beruntung dapat menjumpai beberapa ikan manta. Dan ternyata, tidak ada ikan-ikan kecil berenang di punggungnya!

Satria yang beruntung

Satria yang beruntung

Setelah puas ngeliatin ikan manta, kami balik lagi ke Taka Makassar. Kali ini cuaca cerah, dan kami bisa main air sepuasnya di sana.

Teh Atti ngapung

Teh Atti ngapung

saya gagal ngapung

saya gagal ngapung

main air

main air

Destinasi terkahir kami adalah Pulau Kelor. Sebenarnya sebelum ke Kelor, kami mau ke Jellyfish Point. Sayangnya angin berhembus sangat kencang, sehingga akan membahayakan kalau nekat mau ke sana. Jadilah kami main ke Kelor yang sepertinya paling cocok kalau didatangi sore hari menjelang sunset.

cantik

Cerita tentang Wae Rebo ada di postingan selanjutnya yah!