Sail Komodo – Wae Rebo Trip [Part 2]

Wae Rebo adalah sebuah desa yang berada di pegunungan dengan ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut. Awalnya cuma itu saja yang saya tahu tentang Wae Rebo. Saya belum tau kalau ternyata desa ini adalah objek wisata yang cukup populer di kalangan turis lokal maupun mancanegara.

Tujuan trip kami selanjutnya setelah berlayar di sekitar kepulauan Komodo adalah mengunjungi desa adat Wae Rebo. Banyak cara yang bisa ditempuh untuk sampai di lokasi. Yang pertama adalah naik angkutan umum dari Labuan Bajo, kemudian berhenti di Ruteng untuk kemudian menyambung lagi menuju desa Denge yang merupakan desa terakhir sebelum Wae Rebo; atau bisa langsung sewa mobil trevel yang langsung mengantar ke Denge.

Rombongan kami berangkat dari Labuan Bajo pukul 9 malam. Dan sampai di Denge pada pukul setengah 4 pagi. Lebih cepat 1,5 jam dari jadwal biasanya yang sekitar 8 jam. Thanks to bapak supir (yang mungkin sedang kebelet) sehingga badan para penumpang pegel dan sakit semua terbanting-banting di dalam mobil. Pagi itu kami singgah di homestay Papa Blasius Monta untuk meluruskan punggung dan kaki. Papa Blasius bilang kalau dia adalah putra asli Wae Rebo. Sekarang dia bekerja sebagai guru di sebuah SD yang terletak di depan rumahnya.

Setelah sarapan, mandi, dan beres-beres, kami siap untuk trekking menuju Wae Rebo. Dari rumah Papa Blasius kami diantar sopir trevel kami sampai di jembatan 1. Dari sana baru kami berjalan kaki. Setelah berjalan lebih kurang 4 jam, menempuh jarak sekitar 9 KM, melewati 4 pos, akhirnya kami sampai di “desa di atas awan”. Sebelumnya di perjalanan menuju ke puncak, kami beberapa kali berpapasan dengan warga Wae Rebo yang turun sambil membawa batang kayu manis. Keramahan para penduduk Wae Rebo sudah sangat terasa, kala mereka langsung menyapa dan memperkenalkan diri.

berpapasan

berpapasan

Memeasuki Wae Rebo kami diharuskan terlebih dahulu untuk masuk ke rumah utama, di mana sudah ada pemuka adat desa di dalamnya. Aturan di Wae Rebo mewajibkan setiap pengunjung yang datang untuk mengikuti upacara adat untuk mendapat perlindungan dari arwah para leluhur. Setelah selesai upacara adat, kami berpindah menuju salah satu rumah yang disediakan khusus buat tempat tinggal turis. Di dalamnya sudah ada sejumlah tempat tidur yang disusun melingkar. Kami disuguhi kopi khas Wae Rebo yang terkenal itu. Rasanya nikmat sekali, bisa membuat yang tidak suka kopi jadi suka. Setidaknya begitulah kata Teteh Atti yang sebelumnya jarang minum kopi.

Hari itu cuaca berkabut disertai hujan rintik-rintik sehingga tidak banyak yang bisa kami lakukan. Untungnya kami sempat melihat proses menenun kain cura oleh beberapa mama. Menenunnya di bawah rumah sehingga kalau tidak hati-hati kepala bisa ciuman sama kayu.

menenun

mama menenun kain

Apabila ada yang bertanya apakah udara di Wae Rebo dingin, jawabannya adalah tidak terlalu. Itulah sebabnya saya, Adit, dan Yoga malam itu berani bertaruh untuk tidur tanpa menggunakan selimut. Siapa yang duluan pake selimut, dia kalah. Dan ternyataaa….

adit-lemah

adit lemah!

Di desa ini terdapat tujuh rumah adat utama yang juga disebut Mbaru Niang. Satu rumah bisa menampung sekitar delapan kepala keluarga. Tapi hari ini sangat sedikit warga yang kelihatan, kebanyakan sedang turun untuk belanja kebutuhan rumah tangga, selain juga katanya ada acara adat di desa sebelah. Tapi untungnya kami masih sempat bertemu dengan beberapa warga yang mau diajak foto-foto.

yoga-dan-teman

adit-dan-teman

wefie

mba-caca-dan-guk

bagus

Wae Rebo adalah desa yang meraih penghargan dari Unesco atas proyek konservasi pelestarian budaya (sumber). Sebuah prestasi yang membanggakan. Tentu di balik itu perlu usaha keras untuk mengedukasi warga Wae Rebo untuk terbuka terhadap pariwisata dan terutama turis asing. Salut dengan para pemrakarsa berkembangnya desa ini menjadi desa wisata. Semoga di daerah-daerah lainnya di Indonesia bisa seperti ini juga, ya.

­­Maju terus Wae Rebo. Mohe Wae Rebo.

mohe-wae-rebo

Advertisements

Tagged: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: