Sweet Escape – Batu, Folk Music Festival, dan Puncak Bromo

Akhirnya liburan juga! Liburan kali ini saya mengunjungi kota Malang, tepatnya di Batu. Saya ditemani Ovi, pacar saya, untuk nonton acara Folk Music Festival (FMF) 2017. Folk di sini bukanlah aliran lagu tradisional rakyat di Eropa sana, melainkan lebih ke folk kontemporer (contemporary folk music) yang sebenarnya sudah berkembang di Indonesia sejak tahun 60-an. Artis atau band Indonesia masa kini yang membawa bendera folk antara lain Silampukau, Payung Teduh, Float, White Shoes and The Couples Company, dan masih banyak lagi.

Kami berangkat dari Balikpapan dengan pesawat siang dan sampai di Batu pada sekitar pukul 8 malam. Sampai di Batu, kami menyempatkan untuk mengunjungi Alun-alun Batu dan mencoba Ketan Legenda yang terkenal itu. Tempatnya kecil dan sempit tapi yang datang ramai sekali. Memang strategi pemasarannya begitu kali, ya.

Esoknya, sebelum meluncur ke FMF, kami sempatkan untuk mengunjungi air terjun Coban Rondo. Lumayan tinggi dan deras juga air terjunnya. Cocok untuk yang mau ngadem sambil mendengarkan gemericik air yang netes dari atas itu.

Selesai ngadem di air terjun, kami pun menuju vanue FMF, di Kusuma Agrowisata. Untuk acara FMF tahun ini line up yang diusung adalah: Ari Reda, Bin Idris, Danila, Irine Sugiarto, Float, Iksan Skuter, Jason Ranti, Manjakani, Silampukau, Monita Tahalea, Payung Teduh, Pagi Tadi, Stars and Rabit, serta Sandrayati Fay. Sayang sekali White Shoes and The Couples Company batal manggung. Padahal seru ‘tuh kalau meraka tampil.

Pemilihan tempat di Kusuma Agrowisata, menurut saya sangat cocok. Nuansa dingin-dingin adem khas kota Batu, sambil duduk-duduk di rumput lapangan bola yang dipotong rapi (syukur kemarin nggak hujan jadi gak becek), membuat yang menonton makin meresapi momen romantis yang timbul.

Semoga festival ini ada lagi tahun depan. Amin.

***

Destinasi kami selanjutnya adalah menikmati sunrise dari Gunung Bromo. Jadi selepas nonton konser, di tengah malam itu, saya dan Ovi langsung berangkat dari Batu menuju Gunung Bromo. Kami harus merelakan tidak menyaksikan penampil terakhir di konser FMF, Stars and Rabbit, agar bisa sampai di kota Malang tepat waktu. Di Malang kami sudah ditunggu Pak Nanang, beliau adalah driver dari  Smartway Indonesia Tours, agen perjalanan yang akan mengantar kami ke Bromo.

Peserta open trip kami yang berjumlah 6 orang sudah berkumpul semua pada pukul 00:30 WIB. Perjalanan dari Malang menuju Bromo menghabiskan waktu lebih kurang 2 jam dengan menggunakan mobil hardtop. Pak Nanang membawa mobilnya dengan cara yang tidak biasa. Seperti tidak mau mengoper gigi ke kecepatan tinggi, sehingga mesin teriak-teriak karena tertahan. Saya, berhubung sudah ngantuk berat, mau nanya rasanya malas. Pak Nanang baru cerita keesokan harinya sewaktu di kawah Bromo bahwa ternyata malam itu kami jalan tanpa rem! Beliau bilang tidak mau kami panik, makanya tidak cerita malam itu. Ha-ha-ha. Untunglah perjalanan kami pagi itu aman dan terkendali.

Kami sampai di Jalur Pendakian 1 pada pukul 02:30. Karena datang cukup awal, kami pun dapat tempat parkir yang cukup dekat dari puncak. Kalau datang terlambat dan parkiran penuh, niscaya akan dapat tempat parkir di bawah, sehingga akan berjalan cukup jauh dari bawah hingga ke puncak. Di sanalah kesempatan beramal datang, karena akan banyak tukang ojek yang menawarkan jasa mengantarkan sampai ke puncak sana. He-he.

Keluar dari mobil langsung kerasa udaranya dingin Bromo menusuk-nusuk kulit. Kami pun mampir dulu di warung dan memesan dua porsi Popmie serta segelas Milo hangat sebagai persiapan untuk melawan si udara dingin. Selesai makan, kami berjalan kaki menuju puncak yang ternyata tidak sampai 10 menit. Tiba di puncak Jalur Pendakian 1, kami bergabung dengan puluhan (atau ratusan?) orang yang lain yang sudah lebih dulu sampai. Di sanalah kami menunggu matahari terbit selama lebih kurang 2 jam. Saya sebenarnya tidak pernah kepikiran untuk naik Bromo. Justru Ovi yang berinisiatif mengajak naik ke Bromo. Mungkin itulah sebabnya saya menganggap remeh dan cuma bermodal sepatu vans slip-on serta kaos kaki pendek yang tidak sampai mata kaki dan tipis sekali. Alhasil pantat dan telapak kaki kedinginan dan serasa kesemutan. Biar begitu saya tidak mau menyewa alas duduk dan selimut yang dijajakan pedagang di sana. Ya buat apa, 'kan asyiknya naik gunung ya berdingin-dinginan menunggu matahari terbit itu. He-he.

Di kejauhan, terlihat lampu-lampu senter para pendaki gunung Semeru yang berbaris bagaikan semut menuju ke puncak. Saya jadi teringat tahun lalu saat saya menaikinya dengan teman-teman dari Climax Adventure. Jam segini sepertinya saya lagi tidur-tidur kecapekan 'gitu di jalur pendakian sana. Ha-ha-ha. Oh, what a feeling. Akhirnya sekitar pukul 05:20 WIB matahari muncul dan mulai menampakkan diri. Kemilau jingganya hangat menyapa kami, manusia-manusia yang sibuk foto-foto seperti baru pertama ini melihat matahari.

Puas menikmati sinar matahari dari puncak Jalur Pendakian 1, kami pun lanjut menuju spot Bromo berikutnya yaitu kawah Gunung Bromo itu sendiri. Dari puncak Jalur Pendakian 1 kami pun turun ke bawah. Untungnya rem mobil sudah diperbaiki pak Nanang sewaktu di puncak tadi, sehingga melewati jalan turunan yang berliku-liku sudah bukan masalah. Sampai di bawah, mobil diparkir, dan kami harus jalan kaki sampai ke puncak kawah Bromo. Dan setelah lebih kurang 5 menit jalan kaki, kami pun capek tertarik untuk mencoba menaiki kuda. Ovi bilang dia belum pernah naik kuda sebelumnya. Kami membayar 50 ribu rupiah untuk satu kali perjalanan menunggangi kuda sampai ke bawah tangga sana. Harusnya bisa lebih murah, sih, kalo mau nawar. Temen satu trip kami bilang dia dapat harga 30 ribu. Turun dari kuda, kami harus menaiki 250 anak tangga untuk sampai di puncak kawah Bromo. Lumayan serem juga berdiri di bibir kawah itu: jalannya tidak begitu lebar  dan didominasi pasir, sehingga kalau nggak hati-hati bisa terpeleset. Sangat tidak cocok untuk bermain bentengan dan calok cadang (Palembang kids know what I mean :D). Belum lagi suara gemuruh perut bumi dari dasar kawah itu membuat panik kalau-kalau lavanya muncrat dari bawah. Hiiiiiii.

Puas melihat isi kawah gunung Bromo (yang ternyata banyak sampahnya), kami pun melanjutkan lagi perjalanan ke Pasir Berbisik dan Bukit Teletubbies (ih, namanya gak kreatif). Ada cerita konyol sewaktu di Bukit Teletubbies. Jadi di sana biarpun udara dingin, tapi matahari bersinar cukup terang sehingga bikin haus. Saya pun mampir di warung untuk beli air mineral. “Bu, beli Aqua dingin,” kata saya pada ibu penjaga warung. “Itu ambil saja,” kata si ibu sambil menunjuk aqua biasa yang terpajang di meja. Saya mikir sejenak sebelum akhirnya saya ambil Aqua-nya dan saya pegang. Saya kemudian bayar dan langsung pergi sambil diliatin mas-mas yang makan Popmie di sudut sana. Pelajaran yang bisa dipetik adalah: semua Aqua yang dijual di gunung adalah dingin, bahkan yang dipajang di meja. Jadi nggak perlu bilang pesen Aqua dingin. Ha-ha-ha.

Menyenangkan sekali bisa naik gunung dan menikmati matahari terbit dari atas awan lagi. Apalagi selepas berpenat-penat kerja di kantor. Thanks pak Nanang dan Smartway yang sudah nganter kami sampai pulang dengan selamat. Sampai ketemu lagi di trip selanjutnya. 🙂

Advertisements

Tagged: , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: