Category Archives: Arsenal

The FA (Finally Arive) Cup

Selamat tinggal joke “[masukkan satu digit angka disini] musim tanpa gelar”! Sudah bosan kuping dan mata ini mendengar dan membaca joke gak bermutu itu. Gak bermutu saya bilang karena mereka yang bercanda seperti itu sebenarnya adalah fans dari klub yang juga pernah puasa gelar. Silakan baca sendiri sejarah klub-klub macam Man United, Liverpool yang sempat lama puasa gelar. Chelsea dan Man City apalagi: 2 klub yang cuma jadi pelengkap EPL sebelum ketiban duit dari para saudagar minyak.

Terima kasih kepada para pemain Arsenal yang berjuang keras dan Arsene Wenger tentunya, akhirnya klub ini mendapatkan trofi pertamanya dalam 9 tahun terakhir. Sungguh penantian yang cukup panjang (kalau tidak bisa dibilang sangat panjang) bagi kami para fans. Tidak berhenti mulut ini berteriak-teriak sepanjang match kemarin. Arsenal sukses menyajikan pertandingan yang seru, panas, serta bikin deg-degan. Sungguh pantas untuk sebuah pertandingan final yang epic: start yang cukup buruk karena kemasukan 2 (untung nggak ada kartu merah keluar dari kantung wasit), peluang-peluang yang terbuang percuma, dan performa wasit yang mengabaikan setidaknya 3 pelanggaran yang bisa berujung penalti untuk Arsenal. Fantastic. Nggak ada yang bisa lebih epic dari ini.

Well, satu lagi bukti kalau Gooner sejati harus sehat jasmani dan rohani, terutama jantung yang kuat.

Sekarang dengan tidak adanya beban untuk mendapat trofi karena sudah kelamaan berpuasa, saya berharap mainnnya makin bagus plus piala yang datang makin banyak. Amin.

Come On Arsenal!

  
Oh tunggu, sekarang sudah 1 hari Arsenal tanpa gelar!

Advertisements

Oh To Be A Gooner – A Dream Come True

Tulisan ini adalah pengalaman pribadi saya menonton tim idola, Arsenal FC, di Jakarta dalam rangka Arsenal Asia Tour 2013 kemaren. Saya sendiri sudah lama menantikan ini. Kira-kira sejak tahun 1 masehi lah. (kriuk)

Tim Arsenal pertama kali menginjakkan kaki di Jakarta pada hari Jumat, 12 Juli 2013 di bandara Halim Perdana Kusuma. Turun dari pesawat, para pemain dan official tim langsung memasuki bus. Saya dan teman-teman gooner lainnya menyambut bus tim yang keluar dari bandara dengan cukup histeris. Mendebarkan sekali rasanya melihat pemain-pemain itu secara langsung untuk pertama kalinya meskipun hanya di dalam bus. Beberapa pemain yang saya lihat antara lain Mikel Arteta serta Laurent Koscielny. Ada juga beberapa official tim yang botak-botak. Mereka semua tersenyum sembari melambaikan tangan kepada kami.

Malamnya, saya beristirahat di Asrama Haji Pondok Gede. Asrama tersebut adalah tempat menginap para peserta Arsenal Indonesia International Gathering (AIIG) 2013, sebuah event gathering gooner tidak hanya dari seluruh tanah air, tapi juga dari negara-negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, dan lain-lain. Saya nggak akan membahas lebih jauh tentang AIIG disini, karena yang ada hanyalah kekecewaan.

Besoknya, yaitu pada hari Sabtu, 13 Juli 2013, kami semua sudah berkumpul di arena Fan’s Zone sejak pukul setengah 8 pagi. Fan’s Zone sendiri disediakan oleh pihak sponsor sebagai tempat berkumpulnya para gooner yang berlokasi di plaza tenggara stadion Gelora Bung Karno. Disana disediakan arena futsal, game FIFA2013 di PS3 yang bebas dimainkan oleh para gooner, penjualan merchandise resmi Arsenal Asia Tour, dan sebagainya.

Sekitar pukul 9, ada syuting acara Dahsyat dengan pembawa acara Luna Maya di sana. Sungguh, itu adalah berkah tak terkira dari Yang Maha Kuasa bisa melihat Luna Maya berdiri hanya beberapa meter dari saya. Dia memakai legging (kalo tidak salah bermotif macan tutul) serta jersey Arsenal. Sungguh menarik secara visual. Selain Luna, disana juga hadir Wojciech Szczesny serta Alex Oxlade-Chamberlain yang menyapa para gooner yang hadir. Merekalah yang bikin para gooner disana berteriak histeris (bukan teriak lalala yeyeye tapi ya).

Selesai meramaikan 1 segmen acara Dahsyat tadi, kami menghadiri acara pembukaan AIIG oleh presiden Arsenal Indonesia Suporter (AIS), Rawindraditya. Hujan rintik-rintik menyertai acara pembukaan tersebut. Selesai acara pembukaan, beberapa gooner yang beruntung pergi menuju tempat diselenggarakannya acara Fan’s Party di Grand Hyatt. Disana akan diadakan acara Meet and Greet dengan para pemain, dan mereka-mereka yang ikut itu berkesempatan mendapat tanda tangan serta foto bersama para pemain. Sedangkan gooner lainnya yang bernasib sial, termasuk saya, tinggal di GBK untuk menikmati acara-acara di Fan’s Zone.

GBK-13-07-13

Huehuehue

Pukul 4 sore dijadwalkan akan ada Open Coaching Clinic oleh beberapa pemain Arsenal. Tapi akhirnya acara tersebut batal dikarenakan hujan turun cukup deras, yang mengakibatkan lapangan becek. Kecewa berat, sudah pasti. Tapi apa mau dikata, namanya juga cuaca. Alhasil kami (yang bernasib sial tadi) baru bisa ketemu lagi dengan para pemain saat Open Training Match pada pukul 8 malam di dalam stadion GBK. Disana kami menyanyikan chants seperti halnya gooner di London sana. Setiap pemain yang kami nyanyikan namanya melambaikan tangan kepada kami sembari tersenyum. Ahh…. senang sekali rasanya. Latihan tim Arsenal berakhir pada pukul 9 dan dilanjutkan latihan Indonesia Dream Team. Namun disana ada beberapa pemain yang mengikuti latihan fisik ekstra, antara lain Lukas Podolski, Per Mertesacker, Jack Wilshere, Olivier Giroud, Bacary Sagna, Laurent koscielny, dan Thomas Rosicky. Saya sempat kaget melihat pak pelatih fisik Arsenal, yang meskipun sudah tua dan botak, kondisi fisiknya masih bagus. Dia mampu ikut berlari menemani pemain-pemain tadi. Bahkan para pemain, kecuali Podolski, tidak mampu mengimbangi lari si pak pelatih sampai finish. Mereka semua tertinggal di belakang. Sebagai manusia yang berusia lebih muda, saya merasa agak gimanaaa gitu melihat si pak pelatih dengan semangatnya berlari bersama para pemain. Sudah tua, botak, tapi fisik dan semangatnya tidak kalah dengan yang muda-muda. Eh, tapi kan emang itu udah pekerjaannya dia ya?

Minggu, 14 Juli 2013, matchday. Kami sudah berada di Fan’s Zone sejak siang. Di sekitar  arena itu ternyata sudah banyak para pedagang lokal yang menjual merchandise berbau Arsenal. Termasuk jersey yang sudah pasti KW. Kalo dilihat dari kualitasnya, sepertinya itu KW 10 ribu ya. Hehe. Saya belanja beberapa merchandise termasuk tshirt, syal, stiker dan gantungan kunci untuk oleh-oleh.

Stadion dibuka pada pukul 6 sore. Begitu memasuki stadion, aura pertandingan langsung terasa. Banner dimana-mana, jersey Arsenal dimana-mana, jiwa ini pun langsung bergetar karenanya. Sekitar pukul setengah 8, para pemain dari kedua tim memasuki lapangan untuk pemanasan. Satu momen yang tak akan terlupakan adalah melihat Olivier Giroud berdansa sambil mendengarkan musik lewat earphone. Wuih! Seksi sekaleee….

Match dimulai pukul 8.45 malam. Sepanjang pertandingan saya dan gooner lain yang hadir di stadion ngechant untuk kedua tim. Emang agak aneh sih, tapi ya gitulah. Hehehe. Ada kejadian unik di match tersebut, dimana Sergio Van Dijk selalu di-boo-in oleh penonton saat membawa bola. Belakangan saya baru tahu dari seorang temen kalo ternyata dia adalah fans Tottenham Hotspur. Haha. Masuk akal. Kejadian unik lainnya adalah adanya penonton di stadion yang duduk di tribun AIS mengenakan jersey Manchester United. Tipikal fans MU banget, selalu cari sensasi. Saya sendiri nggak ngelihat secara langsung orangnya, cuma denger dari keriuhan mereka yang nyorak-nyorakin “beliau” disana.

Pertandingan berakhir pukul 10.30 malam. Seperti kita ketahui skor akhir adalah 0-7 untuk keunggulan Arsenal. Melihat skor yang pincang saya nggak terlalu kaget. Sepanjang pertandingan im Indonesia Dream Team bermain tidak lepas. Sepertinya mereka melihat para pemain Arsenal terlalu ke atas. Pelatih Jackson F. Thiago juga membenarkan pendapat saya itu pada konferensi pers seusai pertandingan. Atau mungkin banyak dari punggawa Indonesia yang juga adalah gooner ya? Jadi mereka sebenarnya juga senang dengan melihat kemenangan Arsenal ini. :p

Sampai saat saya menuliskan tulisan ini, saya masih bisa mengingat dengan jelas euforia di dalam stadion. Chant-chant yang dinyanyikan oleh para suporter, teriakan-teriakan saat gol tercipta, dan banyak momen lainnya. Sungguh perjalanan spiritual yang menyenangkan. Satu lagi pengalaman hidup yang bisa diceritakan ke anak-cucu kelak. Mungkin selanjutnya yang patut dicoba adalah nonton Arsenal di Emirates Stadium, London. Nabung 1000 perak sehari, berapa tahun lagi ya biar kesampean? Hehehe.

Banyak pengalaman baru yang saya dapat kali ini. Antara lain, saya bisa ketemu dan berkenalan dengan banyak pendukung Arsenal seperti saya dari berbagai daerah di Indonesia. Disini sekalian saya mau berterimakasih juga buat temen-temen dari AIS Palembang yang mau berbagi waktu dan cerita bersama selama di AIIG/match. Juga pada rekan-rekan dari AIS Jogja, AIS Jakarta, dan AIS Cirebon yang sudah menolong saya. Mungkin rekan-rekan tadi nggak tau pertolongannya seperti apa, tapi pokoknya makasih lah. Hehehe.

Kini tim Arsenal sudah melanjutkan tur pra-musim ke negara lain di Asia. Semoga mereka terkesan dan selalu ingat dengan para gooner di Indonesia dan berkenan balik lagi ke sini di waktu yang akan datang. Amin.

Oh to! Oh to be! Oh to be a.. GOONER!
Oh to! Oh to be! Oh to be a.. GOONER!

F*** you, Robin!

Aku inget beberapa tahun lalu waktu aku dibikin patah hati sama cewek. Kalo nggak salah tahun 2009. Untuk pertama kalinya aku ngerasa hancur berkeping-keping waktu dia ninggalin aku dan pergi sama cowok lain. Sakitnya bukan main pokoknya. Hampir setahun waktu yang aku butuhin sampe aku bisa keluar dari rasa depresi saat itu.

Bertahun-tahun setelah itu aku dibikin patah hati lagi. Kali ini sama cowok. Namanya Robin Van Persie. Dia bikin hatiku hancur sehancur-hancurnya saat dia pindah dari Arsenal ke Manchester United.

RobinFPesie

Sebenernya RVP bukanlah siapa-siapa pas pertama dibeli Arsenal dari Feyenord. Sama kayak kebanyakan pemain-pemain baru yang datang ke Arsenal. Mereka rata-rata adalah pemain muda potensial yang kemudian akan disulap oleh om Arsene Wenger menjadi pemain bintang. We don’t buy stars, We make them.

Awal-awal berkarir di Arsenal, RVP akrab dengan cedera. Tapi om Wenger tetap percaya padanya. Kontrak RVP terus diperpanjang untuk jangka panjang, dan gajinya terus dinaikin seiring dengan peran vitalnya di klub.

Dan musim 2011/2012 adalah puncak karir RVP di Arsenal. Musim yang fantastis dan bombastis serta spektakuler. Dia main bagus, cetak banyak gol, jadi top scorer, dan menjadi pemain terbaik di liga (versi PFA). Tapi cukup musim itu saja om Wenger merasakan buah hasil investasinya. Musim berikutnya dia pindah ke klub yang (menurutnya) bisa kasih dia gelar yang dia idam-idamkan. Dan sedihnya, kenyataannya sih emang bener begitu.

Dia sukses dapet gelar yang dia idam-idamkan di klub barunya itu, trofi English Premier League. Dia juga dapet gaji besar, 1,5x lebih besar dari gajinya saat di Arsenal. Tapi kalo boleh bertanya, setelah itu apa? Setelah dapet piala EPL apa?

Kalo boleh aku mau berandai-andai. Semisal dia tetep stay di Arsenal, mungkin RVP bisa mecahin rekor gol Henry kalo dia terus main di top perform. Dia udah ngoleksi 130an gol sebelum pergi, lebih dari setengah jumlah gol Henry. Who knows, right? Dan kalo suatu saat RVP berhasil bawa Arsenal juara, dia nggak dapet medali, dia bakal respect dari semua orang. Dia bakalan menjadi legenda beneran kalo dia stay di Arsenal. Mungkin bisa sejajar dengan legenda Arsenal yang lain macam Denis Bergkamp dan Thierry Henry. Dia mungkin akan dibuatin patung di luar stadion, dan siapa tau dia bakal menangin banyak gelar pribadi. Agak lebay ya? Ya tapi emang kemungkinan kesana ada. But he rushed it, and threw that all away for the silverware and money. RVP mungkin dapet gelar di klubnya sekarang, tapi gak bakal dapet respect. Setidaknya nggak dari aku.

Profesionalisme katanya. Kalo aku bilang sih materialistis!

Aku memang cuma fans biasa yang biasa nonton Arsenal cuma lewat tv, baca berita di internet, kadang-kadang ikut nobar bareng Arsenal Indonesia Supporter, dan sering main PES/FIFA pake tim Arsenall. Aku cuma fans yang sejenis itu. I don’t stand in Robin’s boots. I don’t know what he feels. But one thing for sure, deep down I know he still loves Arsenal. Satu kalimat yang aku quote dari dia pas masih berseragam Arsenal yaitu: “My heart is with Arsenal and I just can’t picture myself in a different shirt.” Menurutku sekarang dia cuma berusaha membohongi dirinya dengan cara membalikkan badan dari klub yang dia cintai untuk suatu hal (aku mau bilang “hal kecil” untuk trofi itu, tapi takut banyak orang yang nggak setuju) dan mengejar hal itu dengan musuhnya. Pernah bayangin gimana kalo pak Habibie itu materialistis dan cuma ngejer prestise dan uang? Nah…. Intinya, I feel sorry for him (RVP).

Dari sini aku belajar sesuatu. Jangan terlalu mencintai dan mengidolai pemain bola. Mereka itu adalah pemain profesional yang dibayar untuk bermain bola. Bahkan ada yang terlalu profesional kayak Robin Van Persie. Mereka hebat, mereka gak akan mau merugi cuma untuk klub dan fans. Well, tentu nggak semua pemain. Masih ada Dennis Bergkamp, Fransesco Totti, Alex Del Piero, Paolo Maldini, Ricardo Kaka, Stephen Gerrard, dll aku gak bisa sebut semua, yang sangat loyal kepada klub dan layak untuk dicintai dan diidolai.

Kita sebagai fans cuma bisa milih satu klub, mencintai klub itu, pelajari sejarahnya, nikmatin permainannya. Kalau bisa menang gelar, itu mah bonus. Yang penting permainannya ajaib dan bikin ketagihan untuk nonton tiap pekan. Kalau pun mau mengidolai, memuja, mencintai pemain tertentu boleh, asal liat dulu kontribusinya untuk klub. Hehehe. Sama kaya tulisan filosofis yang dulu pernah tertera di logo Arsenal, Victoria Concordia Crescit. Atau bahasa Palembangnya, Victory comes through harmony.

Untuk Robin van Persie (kalo-kalo secara ajaib dia baca blog ini dan nyewa seorang translator buat bacain ini ke dia) aku mau bilang: Congratulation. Congratulation on your trophy you dreamt for so long. You are the most professional player I’ve ever known. VERY, VERY PROFESSIONAL.

(Tulisan ini sedikit banyak terinspirasi dari tulisannya The Funny Gunner. Buat fansnya beliau maaf ya. Hehe)