Category Archives: Kalau Dipikir-pikir…

2016 – Review

Tanpa terasa sudah tiba lagi kita di penghujung tahun. Sepertinya tidak ada salahnya untuk melihat kembali ke belakang apa-apa saja yang sudah kita lalui sepanjang tahun 2016 ini. Siapa tahu, setelah melihat ke belakang sebentar, kita menjadi lebih mantap untuk berjalan ke depan. Apa saja yang sudah kalian lakukan sepanjang tahun ini? Kalau saya, sih, rasa-rasanya tidak terlalu banyak. Dan tidak pula begitu berkesan. Hmm… sebentar deh, coba saya ingat-ingat dulu.


Ah… bodohnya saya, ternyata tidak sulit untuk mengingat kembali hal yang paling berkesan sepanjang tahun ini. Dua tulisan terdahulu saya di blog ini sudah memberi tahu kita hal itu: naik gunung. Bulan Mei ke Semeru dan bulan Agustus ke Kinabalu. Dua-duanya sangat berkesan. Kalo tahun depan bisa pergi ke sana lagi tentu akan menyenangkan. Eh, jangan dulu deh, sepertinya ke gunung yang belum pernah dinaikin dulu. Kerinci mungkin?

Oh iya, saya jadi ingat kalo awal tahun kemarin akhirnya kesampaian juga main ke Candi Borobudur. Thanks to Mr. Anton Tabah yang udah mengizinkan rumahnya diinapi oleh saya dan Adit selama di Magelang. Seru juga ‘tuh, main di Magelang. Boleh lah kapan-kapan main ke sana lagi.

Sepanjang tahun ini saya 3 kali pulang ke Palembang (4 kalau ditambah libur Natal besok). Ini rekor. Kalau tahun-tahun lalu paling banyak 2 kali. Semoga tahun depan bisa lebih sering pulang untuk melihat kedua orang tua saya yang sudah semakin tua itu.Tahun ini saya kehilangan lagi anggota keluarga setelah nantulang saya (istri abangnya mamak saya) meninggal. Tahun lalu saya kehilangan 2 orang namboru (saudari bapak saya) dan 1 orang amangboru (suaminya namboru). Peristiwa kehilangan keluarga seperti ini, apalagi yang sangat dekat dengan kita, membuat kita harus segera menerima kenyataan kalau kematian itu adalah sesuatu yang pasti. Dan itu bukan sesuatu yang buruk karena sejatinya kita semua akan kembali kepada Tuhan YME. Semoga bahagia selalu di sana ya, nantulang, namboru, dan amangboru!

Kalau dipikir-pikir lagi, tahun 2016 ini bisa dibilang tahun yang spesial. Mengapa spesial? Karena di tahun ini, tepatnya Agustus lalu, umur saya genap 25 tahun. Terus kalau sudah 25 tahun kenapa? Ya, nggak kenapa-kenapa juga sih. Satu hal yang pasti di umur segini setiap pulang ke rumah adalah pertanyaan itu*. Tapi tenang saja, menyoal itu jawaban template-nya sudah disiapkan kok. Hehehe.

Tahun ini juga menandai 3 tahun saya tinggal dan bekerja di Balikpapan. Kalau melihat tren di instansi tempat saya bekerja, apalagi beberapa tahun ke belakang ini, saya (dan teman-teman satu angkatan) seharusnya sudah pindah. Semoga kesampaian dalam waktu yang tidak terlalu lama. Sudah mulai bosan juga melihat dinding-dinding kantor itu. Ya, memang tahun ini kantor baru saja didekorasi ulang: dindingnya dicat dengan warna berbeda, meja-meja dan kursi-kursi diganti, dan halaman parkir juga. Tapi kalian mengerti ‘kan, maksud yang ingin kusampaikan? Apalagi merasakan suasana kantornya sendiri makin lama makin tidak asyik. Terlalu kaku. Seperti robot. Eh, tapi bukankah saya juga bagian dari kantor itu? Apakah itu menjadikan saya orang yang juga kaku?

Satu tahun ini saya cuma dua kali menulis di blog ini. Menyedihkan. Mengapa, ya? Kemana perginya semangat menulis yang dulu itu? Apakah saya sudah jenuh menulis? Sepertinya tidak juga, saya masih sering menulis di media sosial seperti Path atau Twitter. Apakah saya tidak ada ide tulisan? Ah, bukan karena itu sepertinya. Sejujurnya ide untuk menulis itu ada, cuma waktunya yang kadang tidak pas: kadang saat menjelang tidur, ketika mata terpejam tapi belum pindah ke alam mimpi, ide menulis itu datang; atau saat melamun di atas motor; atau saat nongkrong-nongkrong asik di kamar mandi. Sering kali ide-ide itu menguap begitu saja dan tidak tereksekusi. Sepertinya mulai sekarang harus dipikirkan ide untuk segera mengabadikan ide itu. Jadi, mengapa saya sekarang jarang menulis? Apakah karena lebih memikirkan kualitas tulisan dibandingkan dengan kuantitas? Ah, tak tahu lah. Yang jelas semoga tahun depan bisa lebih rajin nulis di blog. Saya sendiri mulai memikirkan untuk bikin satu blog lagi bertemakan resensi buku dan review film. Semoga dengan bertambahnya beban blog yang mau diurus, bisa semakin meningkatkan semangat untuk menulis. Semoga.

Tulisan ini sepertinya meninggalkan banyak pertanyaan yang saya sendiri tidak bisa menjawabnya, apa lagi teman-teman yang membaca. Hmm…. Sepertinya lebih baik kita biarkan saja pertanyaan-pertanyaan itu menjadi pertanyaan tidak terjawab. Akan membuat lelah kalau terlalu dipikirkan. Apalagi ini di kanan bawah layar laptop saya sudah menunjukkan pukul 03.00 dini hari.

Selamat Natal dan Tahun Baru 2017. Semoga kita semua makin baik di tahun yang akan datang.

Advertisements

I Love Adzan Subuh

Suara adzan subuh yang keluar dari toa-toa masjid adalah suara berisik pertama yang akan kita dengar jika kita begadang atau tidak tidur semalaman. Suara yang dengan gagahnya memecah kesunyian malam. Suara yang menandakan bahwa kegelapan malam sudah berakhir dan sinar matahari sebentar lagi akan menyongsong. Mengingatkan kita untuk menyambut hari baru.

Bagi yang beragama Muslim begitu mendengar adzan subuh tentu harus segera bersiap-siap untuk sholat subuh. Bagi yang tidak, seperti saya juga, cukup mendengarkan suara adzan sampai selesai. Karena suara itu begitu keras dan tidak bisa di-mute.

sumber: om google

sumber: om google

Dulu waktu masih kuliah, saya sering tertolong oleh suara adzan subuh yang membangunkan saya. Terutama di musim ujian semester. Saat itu saya terbiasa dengan budaya SKS atau Sistem Kebut Semalam. Mata pelajaran yang akan diujikan hari itu–biasanya ada dua mata pelajaran–akan saya pelajari di malam hari dan dilanjut saat subuh. Belajar di waktu subuh sangat enak karena suasana sangat sunyi dan tenang. Tidak ada gangguan suara TV atau suara orang ngobrol. (Untuk adik-adik yang masih sekolah atau kuliah jangan ditiru ya, belajar yang baik itu mesti setiap hari.)

Sekarang kalau mendengar suara adzan subuh, saya suka membayangkan banyak hal. Bagaimana hari yang baru ini akan dilewati, mulai dari orang-orang yang akan ditemui, hal-hal yang akan kita lakukan, janji-janji yang telah kita buat dan sebagainya. Saya juga suka membayangkan keluarga, percakapan terakhir saya dengan orang-orang di rumah, suasana rumah waktu terakhir saya pulang, saya juga suka mengkhayalkan hal-hal yang tidak pernah saya capai dalam hidup saya, mengingat-ingat mantan juga (eh), dan banyak hal lainnya.

Adzan subuh adalah sesuatu yang unik bagi saya. It’s religious in its own way.

Workshop Pemanfaatan Internet Untuk Motivasi dan Pengembangan Diri oleh Bapak Romi Satria Wahono

Hari ini, Selasa, 24 Februari 2015, bertempat di Balai Diklat Keuangan Balikpapan, saya mengikuti acara Workshop: Pemanfaatan Internet Untuk Motivasi Dan Pengembangan Diri. Acara dibuka oleh pada pukul 08.30, oleh Kepala BDK, bapak Eko Sulistyo. Acara kemudian dilanjut dengan pemaparan materi oleh pak Romi yang baru saya tau belakangan adalah pendiri IlmuKomputer.net, merangkap dosen, juri, konsultan, dan yang lain-lain yang berhubungan dengan software engineering, dan bahkan hampir jadi calon menteri. Lebih lengkap mengenai beliau silakan kunjungi blognya di romisatriawahono.net.

Romi Satria Wahono
Sesuai dengan tema acara, yaitu untuk motivasi dan pengembangan diri, para peserta yang terdiri dari para pegawai di lingkungan Kementerian Keuangan diajak untuk terjun ke dunia blog. Di tengah acara bahkan kami para peserta diminta untuk menulis artikel mengenai acara ini. Artikel saya ini salah satunya. 😀

Acara berjalan dengan lancar dan menarik. Banyak ilmu yang bisa didapat dari pak Romi. Dan beliau bahkan menawarkan domain gratis bagi para peserta yang ingin serius ngeblog. Saya sangat berharap semoga saya kebagian. 😀

Catur Itu….

Kekalahan itu adalah sesuatu yang nggak enak. Dan kemenangan, dalam kondisi dan situasi tertentu, juga bisa menjadi sesuatu yang nggak enak. Barusan saja saya mengalaminya.

Jadi ceritanya saya ikut lomba catur antar kantor dalam rangka memeriahkan Hari Oeang Republik Indonesia. Saya tergabung dalam tim kantor yang terdiri dari 3 orang. Di partai terakhir grup, tim saya melawan tim Pajak Penajam yang anggotanya terdiri dari teman-teman sebaya kami. Berbeda dengan musuh-musuh kami sebelumnya yang terdiri dari bapak-bapak semua. Ada kemungkinan untuk bisa meraih kemenangan 3-0. Kemenangan 3-0 kemungkinan akan membawa kami lolos dari grup yang terdiri dari 5 tim termasuk kami. Kemungkinan itu cukup kecil karena masih harus melihat hasil dari tim lain juga.

Pertandingan dimulai dengan sebelumnya dilakukan suit untuk menentukan pemegang bidak putih dan hitam. Karena kalah suit, kami mendapat bidak hitam-putih-hitam. Belum mulai pemain musuh sudah memulai mind game dengan mengatakan bahwa dia tidak jago main catur. Saya berusaha menanggapi dengan santai saja agar tidak terlihat kaku. Haha.

Pertandingan berjalan dengan penuh obrolan dan penuh canda. Seperti bukan pertandingan caturlah. Saya sempet terkecoh oleh musuh yang mengajak saya ngobrol, sehingga saya jadi salah langkah yang mengakibatkan saya kehilangan menteri saya. Namun saya menyerang balik, dan dengan sedikit keberuntungan menteri musuh juga bisa saya makan. Huft. Di papan sebelah, tanpa diduga ternyata kemenangan berhasil diraih dua teman saya sehingga skor menjadi 2-0. Penentuan kini ada di saya. Jika saya menang, skor menjadi 3-0 dan peluang lolos ke babak selajutnya terbuka lebar. Sampai di akhir permainan, keadaannya adalah musuh tinggal punya 2 pion dan raja. Sedangkan saya punya 2 gajah, 2 benteng, raja, dan banyak pion. Kemenangan sepertinya sudah di depan mata. Saya harusnya bisa menghabiskan musuh tanpa masalah. Tapi yang terjadi adalah… remis. Di luar dugaan saya gagal menghabisi musuh. 😥

Memang, tim kami menang 2,5-0,5. Tapi seandainya bisa menang 3-0 akan lebih besar peluang lolosnya. Setelah selesai pertandingan baru diketahui kalau kemenangan saya ternyata masih bisa membuat poin kami sama dengan tim runner-up. Dan kemungkinan untuk lolos (yang lolos ke babak selanjutnya adalah juara dan runner-up grup) sebenarnya masih tetap ada sampai akhir. Makin tambah kecewa. 😥

IMG_2322-0.JPG

Pelajaran yang bisa dipetik dari kejadian ini adalah bahwa merasa menang dan merasa kalah itu sama-sama tidak baik. Kita harus terus fight hingga pertandingan berakhir dengan segala kemampuan yang kita punya. Di detik-detik akhir pertandingan “mungkin” saya merasa bakal segera menang sehingga terburu-buru. Akibatnya malah gagal menang. Ibarat permainan sepak bola, seharusnya sebelum peluit akhir berbunyi segala kemungkinan masih bisa terjadi. Seharusnya sih.

Ah, kalo diingat-ingat bodoh bangetlah saya malam itu. Ayo, kita main catur lagi!

Samapta

Samapta atau lengkapnya Diklat Teknis Umum Kesamaptaan adalah suatu diklat yang wajib diikuti oleh seluruh pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Dengan mengikuti Samapta, seorang pegawai Bea Cukai akan memiliki kecakapan-kecakapan tertentu yang akan berguna dalam melaksanakan tugas pekerjaannya sehari-hari di Bea Cukai. Kecakapan-kecakapan tersebut antara lain jiwa korsa, kedisiplinan, keuletan, semangat, patuh pada perintah atasan, dan lain sebagainya. Tentu apabila kecakapan tersebut mampu diterapkan dalam tugas keseharian, para pegawai akan semakin cepat melesat karirnya. Amin.

Saya dan empat orang teman seangkatan dipanggil untuk melaksanakan Samapta di Makassar. Bukan di Balikpapan tempat kami bekerja, atau Pusdiklat Bea Cukai Jakarta tempat Prodip III angkatan-angkatan di atas kami melaksanakan Samapta. Dan itu tidak jadi masalah karena kami jadi bisa jalan-jalan gratis di Makassar dengan tiket pesawat dibayarin. Huehehe.

Selama lima minggu mengikuti Samapta kami tidur di barak yang telah disediakan Batalyon Komando 466 Paskhas Lanud Hasanuddin, dengan fasilitas super mewah a la tentara. Banyak kegiatan dan pengalaman baru yang kami dapatkan disana. Seperti raffling, flying fox, main LCR atau Landing Craft Rubber atau perahu karet, menembak (beserta bongkar pasang dan membersihkan senjata), bela diri militer, haling rintang, curving, dan lain-lain. Dan semuanya seru, semuanya tak terlupakan.

Di dalam melaksanakan diklat Samapta ini kami melaksanakan juga kegiatan tes samapta a la tentara yang merupakan suatu tes yang dilakukan untuk mengukur kemampuan fisik kita. Dalam tes samapta yang dites antara lain lari 2400 m, pull up atau restock, push up, dan sit up. Tes samapta dilaksanakan dua kali, yang pertama pada minggu pertama, yang kedua pada minggu kelima. Tujuannya adalah untuk mengukur apakah ada peningkatan kemampuan fisik kami selama 5 minggu mengikuti diklat Samapta. Dan ternyata memang ada peningkatan yang cukup signifikan.

Justru kalau tidak ada peningkatan yang signifikan, maka bisa dipastikan orangnya adalah orang penyakitan. Bagaimana tidak, setiap hari larinya 3 kali: pagi-siang-malam, ditambah push up, sit up, dan senam ngeselin (macam senam senjata, senam para, senam taktis, dan lain-lain). Belum lagi ditambah tindakan dari pelatih bagi setiap kesalahan yang diperbuat. Sudah pasti badan jadi kencang dengan sendirinya.

Satu lagi keuntungan yang kami dapat dengan dikirimnya kami Samapta di Makassar. Selain bisa jalan-jalan gratis, kami juga bisa kenal masyarakat baru dari timur. Jadi kalo nanti ada kesempatan liburan ke Raja Ampat (amin!) sudah tahu harus menghubungi siapa disana. Huehehe. Papua, Ambon, dan Makassar sendiri. Mereka unik dengan gayanya masing-masing. Rata-rata teman-teman yang dari timur adalah orang yang ceplas-ceplos. Apa yang dipikirkan, langsung diutarakan. Tapi itu sebenarnya bagus, karena itu artinya mereka adalah orang yang jujur dan apa adanya.

Oh, satu hal lagi yang tak terlupakan adalah melihat ibu-ibu istri anggota yang sering ngumpul sore-sore di batalyon. Sungguh segar, di kala capek dan lelah mengikuti kegiatan seharian dan terus-terusan ngobrol dengan sesama peserta yang isinya cowok semua, saat istirahat sore bisa ngeliatin, dan kalo beruntung bisa ngobrol sama para ibu-ibu muda yang murah senyum itu. Huehehe.

Samapta tidak melulu penuh dengan penderitaan dan penyiksaan, tentu ada kala tertawa dan kejadian-kejadian konyol yang terjadi disana. Semuanya berkesan. Semuanya nggak akan mudah terlupakan. Semoga apa yang kami dapat selama mengikuti Samapta dapat kami ingat dan kami praktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

Untuk yang belum mengikuti Samapta, sabar saja. Cepat lambat nanti akan dipanggil juga. Yang penting saat dipanggil fisik kita dan terutama mental sudah siap. Kalo belom siap ya berarti siap-siap dengan “mekanisme pelatihan” yang sudah disiapkan pelatih.

Salam.

Komando!

Penyakit Hati: Iri

Sial, kenapa dia yang dapet sih?

Dan kenapa juga aku harus tau kalo dia dapet?

Iri, menurut KBBI adalah perasaan kurang senang melihat kelebihan orang lain (beruntung dsb.); cemburu; sirik; dengki. Setiap orang, kalian para pembaca, termasuk saya, pasti pernah merasa iri. Iri adalah penyakit hati yang amat berbahaya. Bisa menyebabkan kita kurang makan, sesak napas, dan darah tinggi.

Seminggu belakangan ini perasaan iri tersebut menguasai diri saya. Menyebabkan saya sering diam merenung di pojokan. Melihat teman yang punya rejeki tertentu yang saya harusnya juga bisa dapat tapi ternyata tidak dapat, itu sangat menyiksa. Bikin stres. Mungkin itu jadi salah satu penyebab beberapa hari yang lalu kondisi fisik saya agak drop, selain karena memang kurang istirahat. Coba kalo dapet rejeki itu nggak usah saya tau, atau kalo kira-kira mau dapet rejeki nggak usah diterima di depan saya, terimanya tunggu saya sudah pergi sajalah. Kan enak kalo gitu….

Entahlah, mungkin kelihatan childish, atau pathetic, tapi kalo dipikir-pikir itu sebenarnya manusiawi. Merupakan kodrat manusia untuk merasa iri.

eyes-72

Melihat ke belakang, saya pikir saya kurang merasa bersyukur. Saya tidak lebih miskin sebenarnya dari teman-teman saya. Karena miskin dan kaya itu tidak dilihat dari uang saja. Keluarga, teman, keahlian atau skill, itu semua merupakan harta yang tidak ternilai dengan uang. Hal pertama yang saya lakukan dalam kondisi krisis ini adalah menelpon keluarga, mungkin sudah agak lama saya nggak dengar suara mereka sehingga saya agak lupa siapa saya. Gitar yang agak berdebu di pojok kamar saya itu juga sepertinya seru untuk dimainkan, sudah lebih 2 bulan sejak terakhir kali saya memegang gitar itu. Intinya saya harus menata dan mengingat-ingat lagi harta apa yang saya punyai dan terlupakan selama ini.

Rejeki sudah ada yang mengatur. Yang Maha Mengatur pun tentu nggak pingin kita hidup tidak berkecukupan karena kita adalah anak-anak yang dikasihi-Nya.

Salam. Selamat pagi dan selamat hari Minggu! 🙂

Italia Punya Pizza, Palembang Punya Pempek

“Sudahkah Anda ngirup cuko hari ini?”

Siapa sih yang tidak mengenal pempek? Menurut saya makanan khas asal Palembang ini sangat populer dan banyak penggemarnya. Pria-wanita, tua-muda, tinggal di kota atau pun di desa, tidak ada yang membatasi setiap orang untuk menikmati makanan dengan bahan dasar ikan dan tepung ini. Meskipun ada beberapa orang yang alergi terhadap ikan, tidak menutup kemungkinan orang tersebut akan menyukai pempek. Saya punya beberapa teman yang tidak makan ikan karena tidak tahan dengan rasa amisnya, tapi ketika di hadapkan dengan pempek yang masih hangat dengan asap yang mengepul-ngepul, tanpa pikir panjang pasti langsung disikat. Hahaha.

Ada berbagai macam jenis pempek. Ibarat mobil Daihatsu yang terdiri dari berbagai macam model seperti: Xenia, Luxio, Taruna, Altis, Grand Max, dan lain sebagainya, pempek pun juga demikian. Jenis-jenis pempek tersebut antara lain:

  • Pempek Kapal Selam, pempek berukuran raksasa dengan isi telur di dalamnya;
  • Pempek Telur Kecil, pempek berukuran normal yang juga berisikan telur di dalam;
  • Pempek Lenjer, pempek yang berbentuk silinder seperti sosis;
  • Pempek Keriting, pempek yang dibuat dengan alat khusus sehingga adonan pempek menjadi seperti mie sebelum digoreng;
  • Pempek Pistel, pempek yang berisi salah satu dari: daun pepaya, bihun, atau sayuran lain;
  • Pempek Kulit, pempek yang dibuat dengan mencampur adonan pempek dengan kulit ikan.

Selain yang disebut di atas, ada juga beberapa jenis makanan turunan pempek, antara lain:

  • Pempek Lenggang, pempek yang dibuat dari pempek-pempek yang diiris kecil dan disatukan lagi dengan adonan telur;
  • Tekwan, adonan pempek yang diiris-iris dan disiram dengan kuah khusus tekwan;
  • Model, adonan pempek yang diiris-iris dan disiram dengan kuah khusus model.

Dari jenis-jenis pempek di atas, yang jadi favorit saya adalah pempek kulit. Saya lebih suka pempek kulit karena rasa ikannya lebih kuat. Meskipun teksturnya lebih keras dari jenis pempek lainnya tak jadi masalah. Apakah para pembaca juga punya pempek jagoannya sendiri? Silakan tulis di komen ya! 🙂

pempek 2

Resep membuat pempek sesungguhnya sudah banyak beredar di internet. Tapi agar tidak merepotkan kita mencari di Google lagi, dalam tulisan ini akan sekalian saya buat resepnya berdasarkan resep yang juga saya dapatkan dari internet. Hehehehe.

Bahan-bahan:

  • 25 gr tepung terigu;
  • 400 gr tepung tapioka/kanji;
  • 500 gr daging ikan tenggiri atau bisa juga ikan gabus;
  • 1 butir telur ayam, kocok lepas;
  • 4 siung bawang putih;
  • 1 sdm garam;
  • 1 sdm gula pasir;
  • 1 sdm minyak goreng;
  • 100 cc air.

Cara membuat:

  1. Campur tepung terigu, bawang putih, garam, dan gula pasir serta minyak goreng. Masak hingga mengental. Setalah itu masukan ke dalam lemari es.
  2. Campur ikan yang sudah dihaluskan dengan air dan telur kocok. Aduk-aduk dengan tangan hingga rata.
  3. Ambil adonan tepung terigu dari lemari es, kemudian campurkan dengan adonan ikan. Aduk-aduk dengan tangan hingga rata. Sambil mengaduk tambahkan tepung tapioka secara bertahap. Sedikit demi sedikit. Bila adonan mengeras tambahkan sedikit air.
  4. Adonan siap dibentuk sesuai selera (kapal selam, lenjer, dll). Jika dirasa adonan terlalu lengket, lumuri tangan dengan tepung tapioka agar lebih mudah saat membentuk adonan.
  5. Masukkan pempek yang sudah di bentuk kedalam air mendidih, tambahkan sedikit minyak goreng agar pempek tidak lengket.

Gampang bukan? Nah berikut resep untuk membuat kuah cukonya:

Bahan-bahan:

  • 650 ml air;
  • 150 gram gula merah/gula aren, iris halus;
  • 50 gram asam jawa.

Bumbu dihaluskan:

  • 20 cabe rawit;
  • 4 siung bawang putih;
  • 2 sdm tongcai;
  • 2 sdm ebi, rendam air panas hingga lunak, tiriskan dan haluskan.

Cara membuat:

  • Didihkan air diatas api sedang, masukkan gula merah, asam jawa. Setelah gula larut, kemudian masukkan bumbu halus, masak hingga tidak berbau langu, angkat.

img_2652

Apabila membuat pempek sendiri terasa begitu berat, kita bisa langsung datang ke kota kelahirannya di Pelembang. Dimana ratusan tahun yang lalu seorang keturunan China menjual pempek yang pertama disana. Disana, di Palembang, pempek dijual dimana saja: di emperan pinggir jalan, di atas sepeda onthel, di atas sepeda motor, di atas perahu yang mengapung di sungai Musi, hingga ke tempat-tempat makan yang berkelas. Kita tidak akan pernah kehabisan stok pempek disana.

Tapi seperti kata pepatah, segala sesuatu tidak baik kalau berlebihan. Mengonsumsi kuliner ini terlalu sering juga dapat berefek tidak baik terhadap kesehatan. Terutama bagi para pembaca yang memiliki gangguan lambung. Hal ini dikarenakan asam cuka yang terkandung dalam cuko dapat berpengaruh buruk bagi lambung yang kosong. Jadi saya sarankan untuk makan makanan berat lain seperti nasi sebelum memakan pempek, terutama untuk para pembaca yang memiliki masalah dengan lambung. Oke? Sekian tulisan ini saya kali ini, saya mau cari abang-abang jualan pempek dulu untuk melampiaskan nafsu makan pempek yang terlanjur naik ini.

Tetap sehat dan tetap semangat! 🙂

“Sudahkah Anda ngirup cuko hari ini?” adalah suatu slogan, suatu jargon, suatu seruan semangat masyarakat Palembang untuk terus makan pempek yang diplesetkan dengan menghirup cuko.

followdaihatsuindcapture2capture3

dai3